Beranda Daerah KONI Kota Semarang Beberkan Alasan Tak Beri Rekom Turnamen Viral di Semarang

KONI Kota Semarang Beberkan Alasan Tak Beri Rekom Turnamen Viral di Semarang

Arnaz menduga penyelenggara akhirnya menggunakan dukungan dari KONI Pusat untuk menjalankan turnamen tersebut.

Iluatrasi gambar peserta sepakbola menangis
Ilustrasi peserta turnamen sepak bola menangis usai pertandingan dalam ajang “Road to Kejurnas KONI Cup”. (Foto: AI)

SEMARANG, Jatengnews.id – Ketua KONI Kota Semarang, Arnaz Agung Andrarasmara, angkat bicara terkait viralnya video anak-anak menangis usai pertandingan dalam ajang “Road to Kejurnas Piala Bergilir Ketua KONI Pusat ke-VII” di Lapangan Banteng Riders, Semarang.

Arnaz mengungkapkan pihak penyelenggara sebelumnya sempat meminta rekomendasi kepada KONI Kota Semarang. Namun permohonan itu tidak disetujui karena mayoritas peserta berasal dari luar Kota Semarang.

“Penyelenggaranya dulu pernah minta rekom ke KONI Kota Semarang. Cuma kita tolak karena pesertanya itu dari luar kota,” kata Arnaz saat dikonfirmasi Jatengnews.id Senin (25/5/2026).

Menurutnya, KONI Kota Semarang hanya dapat menaungi kegiatan yang melibatkan SSB dari wilayah Kota Semarang.

“Kalau KONI Kota Semarang kan harusnya SSB-nya Kota Semarang,” ujarnya.

Arnaz menduga penyelenggara akhirnya menggunakan dukungan dari KONI Pusat untuk menjalankan turnamen tersebut.

“Mereka pintar-pintar, akhirnya pakai KONI pusat,” katanya.

Soroti Minimnya Pendampingan dan Perencanaan

Menurutnya, polemik yang terjadi kemungkinan dipicu kurangnya pendampingan dalam penyelenggaraan kompetisi.

Katanya, apabila sebuah turnamen melibatkan KONI Kota Semarang, biasanya penyelenggara akan diajak duduk bersama untuk membahas teknis pertandingan secara detail.

“Kalau KONI Kota Semarang digandeng, biasanya penyelenggara kita ajak duduk bareng. Kita kasih regulasi, aturannya seperti ini, jumlah peserta supaya tidak terlalu malam, lapangannya bagaimana, wasitnya bagaimana,” jelasnya.

Ia menduga jumlah peserta yang terlalu banyak membuat jadwal pertandingan molor hingga malam hari.

“Pesertanya terlalu bludak sehingga anak-anak menunggunya terlalu lama. Kalau dalam videonya lapangannya juga tidak ada penerangan,” ujarnya.

Arnaz menyebut, kondisi tersebut akhirnya membuat pertandingan harus diselesaikan lewat adu penalti saat kondisi sudah gelap.

“Jatuh-jatuhnya cuma adu penalti habis Magrib,” katanya.

Meski begitu, Arnaz meminta publik tidak langsung menghakimi penyelenggara. Ia menilai kejadian tersebut harus dijadikan pelajaran untuk perbaikan penyelenggaraan turnamen usia dini ke depan.

“Jangan juga terus kita menghakimi. Kasihan juga, enggak gampang nyari orang yang mau capek menyelenggarakan kegiatan seperti itu,” ujarnya.

Namun ia menegaskan penyelenggaraan kompetisi anak harus benar-benar direncanakan secara matang.

“Harusnya sebelum menyelenggarakan itu melibatkan PSSI Kota Semarang. Nanti kita breakdown penyelenggaraannya, lapangannya ada lampunya atau tidak,” katanya.

Arnaz menilai pertandingan usia dini seharusnya sudah selesai sebelum malam hari.

“Harusnya kan sore sudah selesai, tidak sampai malam,” ucapnya.

Meski tidak ada aturan spesifik terkait batas jam pertandingan, Arnaz menegaskan penyelenggara wajib memastikan fasilitas mendukung apabila pertandingan berlangsung malam hari.

“Kalau anak main sampai malam ya lapangannya harus representatif dan mendukung,” ujarnya.

Minta Jadi Evaluasi Penyelenggara Turnamen

Arnaz berharap polemik viralnya video anak menangis dapat menjadi bahan evaluasi bagi seluruh penyelenggara turnamen sepak bola usia dini.

“Ini menjadi pelajaran. Diambil hikmahnya supaya ke depan penyelenggaraan lebih matang dan terkoordinasi,” katanya.

Sebelumnya, video anak-anak menangis usai pertandingan viral di media sosial dan memicu kritik dari sejumlah orang tua serta pengelola SSB. Mereka menyoroti jadwal pertandingan yang berlangsung sejak pagi hingga malam, minimnya waktu istirahat pemain, hingga pencahayaan lapangan yang dianggap tidak layak saat adu penalti berlangsung.

Terpisah, Yulis Iswahyudi atau yang akrab dipanggil Yudi juga telah menyampaikan bahwa rata-rata peserta dalam pertandingan tersebut dari luar Kota Semarang.

Dalam data yang ia sodorkan, dari 24 tim yang mengikuti perlombaan tersebut untuk kategori usia 10 tahun ada 11 tim, kemudian untuk usia 12 tahun ada 13 tim dari jumlah tersebut.

Penulis : Muhammad Kamal

Editor : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version