SEMARANG, Jatengnews.id — Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kewenangan dalam menangani persoalan banjir dan genangan di Kota Semarang.
Penanganan dinilai tidak bisa dilakukan secara parsial karena sistem aliran air saling terhubung dari wilayah hulu hingga hilir.
Penegasan tersebut mengemuka setelah banjir bandang menerjang kawasan Ngaliyan pada 15 Mei 2026 lalu. Agustina menyebut hujan ekstrem dengan intensitas tinggi di wilayah Semarang bagian atas menyebabkan debit air meningkat drastis dan mengalir menuju Sungai Silandak hingga meluap ke permukiman warga.
“Penanganan banjir dan genangan ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak. Sungai, drainase primer, sekunder, sampai drainase lingkungan semuanya saling berkaitan sehingga harus ditangani bersama-sama,” ujar Agustina.
Menurutnya, banjir bandang di kawasan Ngaliyan dipicu kiriman air dari wilayah perbukitan yang membuat kapasitas Sungai Silandak tak mampu menampung debit air. Genangan di sejumlah titik bahkan mencapai satu hingga dua meter.
Arus deras juga membawa lumpur serta material lain yang merusak sejumlah infrastruktur lingkungan, termasuk ruas jalan kampung di kawasan Purwoyoso tepatnya Jalan Sriyatno.
“Luapan air yang sangat deras membawa lumpur dan material lainnya sehingga menyebabkan kerusakan di sejumlah infrastruktur lingkungan,” katanya.
Agustina mengungkapkan, persoalan banjir di Kota Semarang dipengaruhi berbagai faktor. Selain curah hujan ekstrem, berkurangnya daerah resapan akibat alih fungsi lahan di kawasan atas turut memperbesar limpasan air menuju wilayah hilir.
“Ketika daerah resapan semakin berkurang, air hujan yang turun tidak bisa terserap secara maksimal dan akhirnya langsung mengalir ke sungai maupun drainase,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kapasitas dan konektivitas drainase di sejumlah wilayah yang masih perlu ditingkatkan agar aliran air lebih optimal saat hujan deras terjadi.
Berdasarkan hasil kajian penanganan genangan, terdapat sejumlah persoalan utama yang memicu banjir dan genangan di Kota Semarang. Mulai dari sedimentasi saluran, keterbatasan kapasitas drainase, limpasan sungai saat curah hujan tinggi, hingga persoalan inlet dan konektivitas antar saluran.
Tak hanya itu, perbedaan elevasi wilayah serta kenaikan muka air laut juga masih menjadi tantangan serius, terutama bagi kawasan pesisir Kota Semarang.
“Ada juga faktor perbedaan elevasi wilayah serta pengaruh kenaikan muka air laut yang masih menjadi tantangan bagi Kota Semarang, terutama kawasan pesisir,” ujarnya.
Agustina menyebut total luas genangan yang teridentifikasi di Kota Semarang mencapai sekitar 257 hektare. Karena itu, penanganan dilakukan secara bertahap berdasarkan prioritas wilayah terdampak.
Dalam upaya penanganan banjir, pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) bertanggung jawab pada sungai dan drainase primer. Sementara Dinas Pekerjaan Umum (DPU) menangani drainase sekunder dan Disperkim fokus pada drainase lingkungan atau tersier.
“Kolaborasi antar instansi menjadi sangat penting agar penanganan dari hulu sampai hilir bisa berjalan sinkron,” tegasnya.
Selain pembangunan fisik dan normalisasi saluran, Agustina juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran drainase.
“Kesadaran masyarakat sangat menentukan keberhasilan penanganan banjir. Hal sederhana seperti membersihkan saluran secara rutin dan tidak membuang sampah ke drainase bisa memberikan dampak besar,” katanya.
Ke depan, Pemerintah Kota Semarang akan terus mendorong penanganan terpadu melalui peningkatan konektivitas drainase, normalisasi sungai, pemeliharaan saluran rutin, penambahan kapasitas tampungan air, hingga penguatan kawasan resapan.
Pemkot juga mendorong penerapan konsep pengendalian limpasan air atau Zero Delta Q pada pembangunan kawasan baru agar debit limpasan tidak semakin membebani sistem drainase kota.
“Kami berharap melalui sinergi pemerintah dan masyarakat, ketahanan Kota Semarang terhadap banjir dan genangan dapat terus meningkat secara bertahap dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara



