Beranda Daerah Mantan Pemulung Raih Gelar Doktor UIN Walisongo, Lulus dengan IPK 3,89 dan...

Mantan Pemulung Raih Gelar Doktor UIN Walisongo, Lulus dengan IPK 3,89 dan Catatkan Prestasi Internasional

Perjalanan pendidikan Nasikhin juga diwarnai sederet prestasi akademik dan keberhasilan meraih berbagai program beasiswa.

Nasikhin, seorang Dosen Luar Biasa (DLB) di lingkungan UIN Walisongo Semarang, resmi menyandang gelar Doktor Studi Islam setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor (S-3) Studi Islam. (Foto : Dok UIN Walisongo)
Nasikhin Dosen Luar Biasa (DLB) di lingkungan UIN Walisongo Semarang, resmi menyandang gelar Doktor Studi Islam setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor (S-3) Studi Islam. (Foto : Dok UIN Walisongo)

SEMARANG, Jatengnews.id – Perjuangan hidup yang penuh keterbatasan tak menghalangi langkah Nasikhin menembus puncak pendidikan.

Pria yang pernah menjadi pemulung itu kini resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil menyelesaikan studi Program Doktor (S-3) Studi Islam di UIN Walisongo Semarang dengan predikat sangat memuaskan.

Dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Ruang Promosi Doktor Lantai 3 Kampus I UIN Walisongo Semarang, Selasa (9/6/2026), Nasikhin dinyatakan lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,89. Ia sekaligus tercatat sebagai Doktor ke-409 yang diluluskan kampus tersebut.

Ketua Sidang, Prof. Dr. H. Musahadi, mengumumkan langsung hasil tersebut di hadapan para penguji, akademisi, serta tamu undangan yang hadir.

“Saudara Nasikhin dinyatakan lulus dengan IPK 3,89. Dengan ini dinyatakan bahwa saudara Nasikhin adalah Doktor ke-409 yang diluluskan oleh UIN Walisongo Semarang,” ujar Prof. Musahadi.

Di balik pencapaian akademik tersebut tersimpan kisah perjuangan yang menginspirasi. Jauh sebelum mengenakan toga doktor, Nasikhin menghabiskan masa remajanya membantu sang ibu memulung barang bekas demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Pada periode 2012 hingga 2017, ia rutin menyusuri jalan-jalan pedesaan untuk mengumpulkan barang rongsokan yang kemudian dijual kepada pengepul. Dari aktivitas itulah kecintaannya terhadap dunia literasi tumbuh.

Sang ibu kerap membawa pulang buku-buku bekas yang dibeli kiloan dengan harga murah atau diperoleh dari warga. Sebelum dijual kembali, Nasikhin selalu menyempatkan diri membaca buku-buku tersebut.

Kebiasaan sederhana itu menjadi titik awal yang mengasah kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, sekaligus menumbuhkan mimpi besar untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

Perjalanan pendidikan Nasikhin juga diwarnai sederet prestasi akademik dan keberhasilan meraih berbagai program beasiswa.

Saat menempuh pendidikan sarjana (S-1) di UIN Walisongo Semarang, ia memperoleh beasiswa Bidikmisi. Setelah lulus sebagai salah satu mahasiswa terbaik, ia melanjutkan studi magister (S-2) melalui program Beasiswa Lulusan Sarjana Terbaik UIN Walisongo.

Perjalanan akademiknya berlanjut hingga program doktor (S-3) dengan dukungan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama.

Tak hanya sukses menyelesaikan studi, Nasikhin juga aktif dalam dunia riset. Sejak 2022, ia telah menghasilkan 131 publikasi ilmiah dan menjalin kolaborasi penelitian dengan akademisi dari Malaysia, Thailand, serta Brunei Darussalam.

Di tingkat internasional, rekam jejak akademiknya diperkuat oleh 12 artikel yang terindeks Scopus pada jurnal Q1, Q2, dan Q3. Ia juga memiliki H-Index Scopus 4 serta H-Index Google Scholar 15.

Dalam sidang promosi doktor tersebut, Nasikhin mempertahankan disertasi berjudul “Literasi Artificial Intelligence dan Implikasinya dalam Pengembangan Keterampilan Abad 21 (Studi Kasus pada Mahasiswa Pendidikan Agama Islam di UIN Walisongo Semarang dan UII Yogyakarta).”

Penelitian itu mengkaji pentingnya literasi kecerdasan buatan (AI) bagi mahasiswa Pendidikan Agama Islam agar mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, produktif, dan bertanggung jawab.

Melalui risetnya, Nasikhin menawarkan model literasi AI yang terintegrasi dengan etika digital Islam dan konsep akhlak digital. Model tersebut diharapkan mampu menjadi panduan dalam pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Kisah Nasikhin menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih prestasi. Dari jalanan tempat mengumpulkan barang bekas hingga ruang akademik tertinggi, ia menunjukkan bahwa kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar dapat mengubah mimpi menjadi kenyataan.

Penulis     : Alif Nazzala Rizqi

Editor        : Jaka Nuswantara

Exit mobile version