
SEMARANG, Jatengnews.id – Suara klakson kendaraan bersahut-sahutan mewarnai Aksi Kamisan yang digelar di Kota Semarang, Kamis (11/6/2026).
Respons tersebut muncul setelah para peserta aksi membentangkan spanduk bertuliskan “Klakson Jika Muak Dengan Pemerintah” di tepi jalan.
Salah satu massa aksi, Septia Linasari mengatakan, aksi tersebut bukan membawa tuntutan spesifik kepada pemerintah, melainkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyalurkan keresahan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia saat ini.
“”Kalau tuntutan sebenarnya tidak ada. Aksi ini menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi dan keresahan kita terhadap pemerintah Indonesia,” katanya saat ditemui Jatengnews.id di sela-sela aksi di depan Kantor Gubernur Jateng.
Menurutnya, kondisi ekonomi yang dinilai semakin berat, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), hingga berbagai kebijakan pemerintah yang menuai kontroversi, menjadi latar belakang digelarnya aksi tersebut.
“Hari ini kita melihat rupiah melemah, dolar semakin mahal, harga BBM naik dan tidak menutup kemungkinan akan ada kenaikan lagi,” ujar Septia.
“Belum lagi RUU TNI yang tiba-tiba disahkan serta berbagai kasus korupsi pejabat yang terus terjadi,” sambungnya.
Ia menilai berbagai persoalan tersebut menjadi pukulan bagi masyarakat dan menunjukkan bahwa kondisi pemerintahan saat ini sedang menghadapi banyak masalah.
Dalam aksi tersebut, peserta juga mengajak masyarakat yang melintas untuk ikut menyampaikan pendapat melalui bunyi klakson kendaraan.
Respons yang muncul, kata Septia, cukup besar. Banyak pengendara roda dua maupun roda empat yang membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan terhadap aksi tersebut.
“Menurut saya itu salah satu bentuk ekspresi masyarakat. Tidak semua orang punya waktu untuk turun ke jalan dan menyampaikan aspirasinya secara langsung. Dengan membunyikan klakson, mereka menunjukkan apa yang mereka rasakan,” cecarnya.
Septia menyebut respons para pengguna jalan menjadi bukti bahwa keresahan terhadap berbagai kebijakan pemerintah tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa atau kelompok aktivis, tetapi juga masyarakat luas.
“Mereka yang pulang kerja, yang habis narik ojek online, dan masyarakat lainnya ikut membunyikan klakson. Itu menunjukkan bahwa yang merasa kesal bukan hanya mahasiswa, tetapi banyak warga yang merasakan hal yang sama,” ujarnya.
Melalui Aksi Kamisan tersebut, para peserta berharap masyarakat semakin sadar terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia dan berani menyampaikan aspirasinya melalui cara-cara yang damai dan konstitusional.
Penulis : Muhammad Kamal
Editor : Alif Nazzala Rizqi