
Demak, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 16 melaksanakan kegiatan penanaman mangrove di kawasan pesisir Desa Berahan Wetan, Dusun Menco, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem pantai dari ancaman abrasi.
Sebanyak 15 mahasiswa KKN bersama aktivis lingkungan setempat menanam 80 bibit mangrove di area konservasi pesisir yang selama ini menjadi fokus berbagai program pelestarian lingkungan.
Penanaman dilakukan sebagai langkah nyata untuk mendukung keberlanjutan ekosistem laut dan menjaga kawasan pantai dari kerusakan lingkungan.
Kegiatan diawali dengan sesi edukasi mengenai manfaat mangrove yang disampaikan oleh Rois, aktivis lingkungan Desa Berahan Wetan.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kawasan pesisir Dusun Menco telah menjadi lokasi berbagai kegiatan konservasi yang melibatkan banyak pihak, termasuk peserta dari berbagai negara.
“Sebelum mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang menanam mangrove di sini, sudah ada sekitar 15 negara yang pernah melakukan penanaman mangrove di pesisir Desa Berahan Wetan, Dusun Menco. Mangrove memiliki banyak manfaat, mulai dari menghasilkan oksigen, mencegah abrasi pantai, hingga membantu menjaga keseimbangan ekosistem pesisir,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa mangrove memiliki berbagai jenis dengan fungsi ekologis yang berbeda-beda. Salah satu jenis yang banyak ditemukan adalah Rhizophora yang dikenal memiliki akar tunjang kuat untuk menahan gelombang laut.
Selain itu, terdapat jenis Avicennia, Sonneratia, Bruguiera, dan Xylocarpus yang turut berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir.
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penanaman mangrove. Para mahasiswa menanam bibit secara langsung di area berlumpur dengan metode penanaman yang sesuai standar konservasi.
Setiap bibit ditancapkan secara vertikal ke dalam lumpur hingga bagian akar berada di bawah permukaan tanah.
Untuk menjaga kestabilan bibit dari pengaruh arus air dan angin, setiap tanaman dilengkapi dengan bambu penyangga yang diikat menggunakan tali.
Metode tersebut dilakukan agar bibit dapat tumbuh dengan optimal dan memiliki tingkat keberhasilan hidup yang lebih tinggi.
Meski harus berjalan di area berlumpur dan menghadapi kondisi pesisir yang cukup menantang, para mahasiswa tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Semangat gotong royong terlihat selama proses penanaman berlangsung.
Salah satu mahasiswa KKN Posko 16, Hanan, mengaku mendapatkan pengalaman berharga melalui kegiatan tersebut.
“Kami sangat senang dapat mengikuti kegiatan ini. Selain menambah pengalaman baru, kami juga belajar secara langsung tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Menanam mangrove bersama-sama ternyata sangat menyenangkan dan memberikan manfaat besar bagi lingkungan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UIN Walisongo berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir Desa Berahan Wetan. Keberadaan mangrove diharapkan mampu membantu mengurangi dampak abrasi, menjaga habitat berbagai biota laut, serta meningkatkan kualitas lingkungan di kawasan pantai.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan generasi muda mengenai pentingnya konservasi lingkungan sebagai investasi jangka panjang untuk keberlanjutan sumber daya alam.
Kolaborasi antara mahasiswa, aktivis lingkungan, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian pesisir Desa Berahan Wetan sehingga manfaat ekologis dan sosial dari keberadaan mangrove dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun mendatang.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN Posko 16
Editor: R. Dian Pramesti