SEMARANG, Jatengnews.id – Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Semarang Raya (BEM Sera) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Senin (15/6/2026).
Massa aksi menyerukan “Menyambut Reformasi Jilid II” sebagai bentuk kritik terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan pemerintahan saat ini.
Mahasiswa yang terlibat berasal dari berbagai perguruan tinggi di Semarang, di antaranya Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip), UIN Walisongo, Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), dan sejumlah kampus lainnya.
Terpantau, rombongan mahasiswa mulai melakukan konvoi melalui Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, hingga menuju Jalan Pahlawan sekitar pukul 15.30 WIB. Sekitar dua hingga tiga ribu mahasiswa kemudian melakukan long march dari Kampus Undip Peleburan menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Berbagai spanduk dan poster dibentangkan dalam aksi tersebut. Di antaranya bertuliskan ‘Prabowo Bukan Raja, Rakyat Bukan Budak’, ‘Negara Sedang Terluka Jangan Lupa Bersuara’, ‘Kabulkan 7 Desakan Darurat Ekonomi’, hingga ‘Refor~masi~mati’.
“Kalau untuk ‘Reformasi Jilid II’ masih kita godok, makanya garis besar kita ‘Menyambut Reformasi Jilid II’,” kata salah
Satu peserta aksi dari Unnes, Septia Linasari menyampaikan, bahwa aksi sebagai bentuk upaya menggangungkan penyambutan ‘Reformasi Jilid II’.
“Walaupun ada masyarakat ada yang tidak setuju untuk Reformasi Jilid II karena kondisinya tidak seperti 1998. Namun kita tidak akan menunggu Indonesia kondisinya seperti 1998,” sambungnya.
Septia menjelaskan, aksi kali ini tidak hanya melibatkan organisasi mahasiswa intra dan ekstra kampus, tetapi juga menggandeng masyarakat sipil.
“Kita ada lima tuntutan yang tergabung dalam ‘Panca Tuntutan Rakyat’ atau kita singkat Pantura,” sambungnya.
Lima tuntutan yang dibawa mahasiswa meliputi penurunan harga BBM dan stabilisasi nilai tukar rupiah, mengembalikan TNI dan Polri ke fungsi utama, evaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), mengembalikan kepemilikan tanah kepada rakyat, serta menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di pemerintahan.
Mahasiswa juga mengancam akan menggelar aksi dengan skala yang lebih besar apabila tuntutan mereka tidak mendapat respons dari pemerintah.
“Kita memang sedang merencanakan RTL atau tindak lanjut untuk melakukan konsolidasi massa lebih besar lagi,” tegasnya.
Menurut Septia, reformasi yang diinginkan mahasiswa adalah adanya perbaikan tata kelola pemerintahan, termasuk pergantian pejabat dan aparat yang dinilai tidak kompeten.
“Reformasi yang kita mau adalah, orang-orang yang inkompeten di dalam pemerintahan itu diganti,” jelasnya.
“Kalau masyarakat menginginkan (Reformasi) kami siap,” imbuhnya.
Penulis : Muhammad Kamal
Editor : Alif Nazzala Rizqi
