SEMARANG, Jatengnews.id – Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menetapkan awal Bulan Muharram 1448 Hijriah. Meski sama-sama menyambut Tahun Baru Islam 1448 H, kedua organisasi Islam tersebut menetapkan tanggal yang berbeda dalam menentukan awal Muharram.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Penetapan tersebut didasarkan pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi pedoman Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Sementara itu, PBNU melalui Lembaga Falakiyah PBNU menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Keputusan tersebut diumumkan setelah pelaksanaan rukyatul hilal pada Senin, 15 Juni 2026 atau bertepatan dengan 29 Dzulhijjah 1447 H.
Dalam pengumuman resminya, Lembaga Falakiyah PBNU menyampaikan bahwa laporan rukyatul hilal telah diterima dari berbagai lokasi pemantauan di Indonesia. Namun, seluruh lokasi rukyat dilaporkan tidak berhasil melihat hilal. Karena itu, penentuan awal Muharram dilakukan berdasarkan metode istikmal, yakni menyempurnakan bulan Dzulhijjah menjadi 30 hari.
Meski terdapat perbedaan dalam penetapan awal Muharram, kedua keputusan tersebut didasarkan pada metode yang telah lama digunakan oleh masing-masing organisasi. Muhammadiyah menggunakan pendekatan hisab melalui Kalender Hijriah Global Tunggal, sedangkan NU mengombinasikan hisab dan rukyat dengan menjadikan hasil rukyatul hilal sebagai dasar penetapan awal bulan Hijriah.
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan suci yang dimuliakan Allah SWT. Kehadiran bulan ini menjadi penanda dimulainya Tahun Baru Islam sekaligus momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri.
Selain menjadi awal tahun Hijriah, Muharram juga dikenal sebagai bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh. Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau “bulan Allah”, yang menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan bulan tersebut.
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Muharram adalah memperbanyak puasa sunnah, terutama Puasa Tasu’a pada 9 Muharram dan Puasa Asyura pada 10 Muharram. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, bersedekah, mempererat silaturahmi, memperbanyak zikir, serta meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama.
Perbedaan penetapan awal Muharram tidak mengurangi makna dan hikmah Tahun Baru Islam. Momentum pergantian tahun Hijriah tetap menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kualitas ibadah demi menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang. (01).
Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara
