Beranda Lifestyle Wajah Baru Trans Semarang Lewat Proyek Jalur Khusus MASTRAN

Wajah Baru Trans Semarang Lewat Proyek Jalur Khusus MASTRAN

Langkah terbesar dalam transformasi ini berfokus pada penyelesaian tantangan kemacetan jalan raya melalui rencana pembangunan jalur khusus (dedicated lane)

program bantuan nasional strategis bernama MASTRAN
Ilustrasi gambar program bantuan nasional strategis bernama MASTRAN yang ada di Kota Semarang. (Foto: dok)

PEMERINTAH Kota Semarang kini tengah mengarahkan Trans Semarang menuju fase transisi penting dari sistem konvensional ke sistem transportasi publik yang lebih cerdas, terintegrasi, dan ramah lingkungan.

Langkah terbesar dalam transformasi ini berfokus pada penyelesaian tantangan kemacetan jalan raya melalui rencana pembangunan jalur khusus (dedicated lane).

Selama ini, Trans Semarang sebagian besar masih berbagi jalur dengan kendaraan pribadi (mixed traffic), berbeda dengan Transjakarta yang sudah mengoperasikan jalur khusus berseparator permanen.

Kondisi bercampurnya arus lalu lintas ini sering kali mengganggu ketepatan waktu perjalanan bus pada jam-jam sibuk. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Kota Semarang mengambil langkah konkret dengan menyiapkan proyek infrastruktur transportasi massal berskala besar.

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjenhubdat) Kementerian Perhubungan mendukung penuh langkah ini melalui program bantuan nasional strategis bernama MASTRAN (Indonesia Mass Transit Project).

Program ini berfokus meningkatkan kualitas dan mentransformasi sistem transportasi massal perkotaan di Indonesia. Bank Dunia (World Bank) dan Agence Française de Développement (AFD) mendanai proyek MASTRAN untuk membangun infrastruktur jalan, halte, sistem manajemen transportasi cerdas (ITS), serta mereformasi kelembagaan dan pembiayaan.

Kementerian Perhubungan memilih Kota Semarang bersama empat kota besar lainnya—Medan, Bandung, Surabaya, dan Makassar untuk menerima bantuan pengembangan jalur khusus sistem BRT (Bus Rapid Transit) ini.

Berdasarkan hasil kajian mendalam, pemerintah menetapkan tiga rute prioritas yang akan menggunakan jalur khusus di Kota Semarang, yaitu rute Simpang Ngaliyan – Simpang Fatmawati/Soetta, rute Stasiun Tawang – Tugu Muda, dan rute Simpang Lima – Jalan Veteran.

Pembangunan koridor berjalur khusus ini mencakup lintasan sepanjang 17,4 kilometer. Proyek ini juga akan melengkapi lintasan tersebut dengan fasilitas pemberhentian berupa 37 halte dan 395 bus stop. Guna mendukung operasional secara penuh di jalur khusus tersebut, pengelola membutuhkan armada sebanyak 480 unit bus.

Proyek MASTRAN di Kota Semarang membutuhkan nilai investasi yang besar untuk belanja modal (capex). Komponen investasi tersebut terdiri dari capex infrastruktur sebesar Rp 1,8 triliun untuk membangun jalur dan halte, serta capex armada sebesar Rp 1,125 triliun untuk menyediakan unit bus. (01).

Artikel asli ditulis oleh Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

Exit mobile version