SEMARANG, Jatengnews.id – Institute for Essential Services Reform (IESR) mendesak pemerintah dan PT PLN (Persero) melakukan investigasi menyeluruh terkait penyebab pemadaman listrik bergilir di Jawa Tengah (Jateng) yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah.
Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo mengatakan, investigasi diperlukan untuk mengetahui akar persoalan, terutama terkait indikasi terganggunya pasokan batu bara ke sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Ini harus jelas investigasinya bagaimana. Kenapa suplai batu bara tidak lancar? Apakah karena persoalan perencanaan, kontrak, logistik, atau faktor lainnya. Itu harus dibuka secara transparan agar kerentanannya diketahui dan tidak terulang lagi,” ujarnya.
Menurut Deon, penyelesaian persoalan pasokan batu bara menjadi langkah jangka pendek yang harus segera dilakukan agar pembangkit dapat kembali beroperasi normal dan pasokan listrik pulih.
Namun, ia menegaskan bahwa solusi jangka panjang tidak bisa lagi hanya mengandalkan pembangkit berbahan bakar fosil.
“Kita tidak bisa terus mengandalkan batu bara saja. Ternyata sistem ini juga rentan. Ada risiko logistik, kontrak, hingga distribusi dari Kalimantan ke Jawa. Semua itu bisa mengganggu pasokan listrik,” katanya.
IESR mendorong pemerintah mempercepat pembangunan energi terbarukan, terutama pembangkit yang tersebar dan tidak terpusat di satu lokasi.
Menurut Deon, energi terbarukan seperti tenaga surya dan tenaga air memiliki pola produksi yang lebih mudah diprediksi dibanding ketergantungan pada pasokan bahan bakar fosil.
“Kalau tenaga surya, kita tahu kapan matahari terbit dan kapan produksinya menurun. Hidro juga bisa diprediksi dari pola musim. Tidak ada persoalan logistik bahan bakar atau kontrak seperti pada batu bara,” jelasnya.
Ia menilai pembangunan pembangkit energi terbarukan yang tersebar di berbagai daerah dapat meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan nasional dan mengurangi risiko gangguan berskala besar.
“Jangka panjangnya, pembangkit harus dibangun lebih tersebar dan didiversifikasi. Dengan begitu, kalau ada gangguan di satu titik, tidak langsung berdampak besar ke seluruh sistem,” ujarnya.
Deon juga mengingatkan, jika akar persoalan saat ini tidak segera diselesaikan dan transisi energi tidak dipercepat, maka potensi gangguan kelistrikan serupa dapat kembali terjadi di masa depan.
“Yang harus dilakukan sekarang ada dua. Pertama, segera selesaikan masalah suplai batu bara dan lakukan investigasi secara transparan. Kedua, percepat pembangunan energi terbarukan agar sistem kelistrikan kita lebih tangguh dan tidak terlalu bergantung pada satu sumber energi,” cecarnya.
Penulis : Muhammad Kamal
Editor : Alif Nazzala Rizqi
