
MAGELANG, Jatengnews.id – Deru mesin sepeda motor Honda Astrea Grand keluaran 1997 menjadi saksi awal perjalanan hidup Taufik Rohman. Bertahun-tahun lalu, motor tua itulah yang mengantarkannya berkeliling dari satu pasar ke pasar lain di Magelang, membawa 30 hingga 50 kilogram jambu biji merah untuk dijual.
Kala itu, penghasilannya masih sangat terbatas. Dalam sehari, omzet yang diperoleh hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Namun, bagi Taufik, usaha kecil tersebut menjadi pijakan untuk membangun mimpi yang lebih besar.
“Dulu saya keliling pakai motor tua, bawa jambu sedikit-sedikit. Yang penting bisa jalan dulu,” ujar Taufik sapaan akrabnya saat diwawancara Jatengnews.id, Rabu (1/7/2026).
Tak ada jalan yang benar-benar mulus. Di tengah perjuangannya merintis usaha, Taufik harus menelan pengalaman pahit ketika beberapa kali menjadi korban penipuan. Jambu yang dikirim ke pasar induk telah diterima pembeli, tetapi pembayaran tak pernah diterima. Pembeli menghilang begitu saja, meninggalkan kerugian yang harus ditanggungnya sendiri.
“Pernah beberapa kali ditipu, barang sudah sampai tapi uangnya tidak dibayar. Itu jadi pelajaran besar buat saya,” tambah Taufik.
Alih-alih menyerah, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga. Kini, Taufik hanya memberikan sistem pembayaran tempo kepada pelanggan lama yang telah memiliki hubungan bisnis dan rekam jejak yang baik.
Perjalanan usahanya memasuki babak baru saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika banyak sektor usaha mengalami perlambatan, permintaan jambu biji merah justru meningkat karena masyarakat mulai mencari buah yang dipercaya kaya vitamin C untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.
Momentum itu dimanfaatkan Taufik dengan baik. Selain memperluas jaringan pemasaran ke berbagai kota, ia juga mulai memanfaatkan marketplace dan platform penjualan online. Langkah tersebut membuka pasar yang lebih luas dan meningkatkan permintaan secara signifikan.
“Waktu pandemi justru permintaan naik. Banyak orang cari buah untuk kesehatan, dari situ usaha saya mulai berkembang,” ujarnya.
Perlahan tetapi pasti, usaha yang dahulu hanya mengandalkan sepeda motor berkembang menjadi bisnis distribusi buah berskala besar. Kini, Taufik mampu menjual satu hingga tiga ton buah setiap hari dengan omzet berkisar Rp5 juta hingga Rp15 juta, bergantung pada hasil panen.
Jangkauan pengirimannya pun semakin luas. Buah-buahan hasil pertanian dari Magelang kini dikirim ke berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Klaten, Sukoharjo, Semarang, hingga Bandung.
Kesuksesan itu juga membuka lapangan pekerjaan. Jika dulu semua pekerjaan dilakukan seorang diri, kini Taufik telah memiliki karyawan yang menangani penyortiran, pengemasan, hingga pengiriman menggunakan beberapa armada distribusi.
Tak lagi hanya mengandalkan jambu biji merah, Taufik juga memperluas usahanya dengan memasarkan jambu kristal, pepaya, alpukat, dan pisang Cavendish yang merupakan hasil pertanian unggulan dari Magelang.
Seluruh aktivitas bisnis tersebut kini dikelola melalui PT Indoguva Fruits, yang memasok buah-buahan ke berbagai supermarket, pabrik penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG), kafe, kedai jus, pasar induk, hingga kios buah di sejumlah daerah.
Bagi Taufik, perjalanan usahanya membuktikan bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh besarnya modal, melainkan oleh ketekunan, keberanian bangkit setelah mengalami kegagalan, serta kemampuan membaca peluang di setiap perubahan.
“Yang penting itu konsisten dan tidak mudah menyerah. Dari pengalaman jatuh, kita belajar untuk bangkit lagi,” tegasTaufik.
Dari seorang pengepul kecil bermodalkan motor tua, kini ia berhasil membangun jaringan distribusi buah yang terus berkembang dan menjadi salah satu pemasok hasil pertanian dari Magelang ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. (01).
Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara