Beranda Daerah PRPP Belum Setor Dividen, Kerugian Akumulatif Tembus Rp21 Miliar

PRPP Belum Setor Dividen, Kerugian Akumulatif Tembus Rp21 Miliar

Meski kinerja operasional perusahaan mulai membaik, laba yang diperoleh masih digunakan untuk menutup kerugian akumulatif akibat penyusutan aset yang nilainya mencapai sekitar Rp21 miliar.

Kepala Biro Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Sekretariat Daerah Jawa Tengah, Agus Prasutio (Foto:ist)
Kepala Biro Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Sekretariat Daerah Jawa Tengah, Agus Prasutio (Foto:ist)

SEMARANG, Jatengnews.id  – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengungkap alasan PT Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) hingga kini belum mampu menyetorkan dividen kepada daerah.

Meski kinerja operasional perusahaan mulai membaik, laba yang diperoleh masih digunakan untuk menutup kerugian akumulatif akibat penyusutan aset yang nilainya mencapai sekitar Rp21 miliar.

Kepala Biro Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Sekretariat Daerah Jawa Tengah, Agus Prasutio, mengatakan hampir seluruh BUMD milik Pemprov Jateng terus meningkatkan kontribusi dividen dalam lima tahun terakhir. Namun, PT PRPP menjadi satu-satunya BUMD yang masih membukukan kerugian.

“Hanya PT PRPP saja yang mengalami kerugian. Namun, itu ada sejarahnya. Hampir seluruh BUMD memberikan kontribusi, kecuali PRPP,” ujar Agus kepada wartawan, Kamis (9/7/2026).

Menurut Agus, kondisi tersebut merupakan dampak persoalan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Salah satunya ialah sengketa lahan yang sempat menghambat masuknya investasi ke kawasan PRPP.

Ia menjelaskan, saat status lahan belum memiliki kepastian hukum, banyak calon investor memilih bersikap wait and see. Kondisi itu baru berubah setelah sengketa lahan diselesaikan pada 2023, ketika seluruh aset lahan telah berstatus Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama PT PRPP.

“Waktu itu banyak investor wait and see karena lahan belum beres,” katanya.

Selain persoalan lahan, pandemi Covid-19 juga memperburuk kondisi keuangan perusahaan. Kawasan wisata Maerokoco sebagai salah satu unit usaha andalan PRPP kehilangan aktivitas akibat pembatasan mobilitas masyarakat selama pandemi.

Menurut Agus, dampak dari kedua persoalan tersebut menyebabkan nilai aset perusahaan terus mengalami penyusutan setiap tahun. Akumulasi penyusutan itu kemudian tercatat sebagai kerugian dalam laporan keuangan perusahaan.

“Sehingga itu menyebabkan kinerja buku PT PRPP rugi secara kumulatif. Misalnya untung operasional, tetap tidak bisa setor dividen karena harus menutup kerugian akibat penyusutan aset,” ujarnya.

Ia menyebut akumulasi kerugian yang harus ditutup saat ini mencapai sekitar Rp21 miliar.

Meski demikian, Agus menilai prospek pengembangan PRPP masih sangat terbuka. Kawasan seluas sekitar 40 hektare itu memiliki nilai strategis karena berada di dekat Bandara Internasional Ahmad Yani, kawasan Pantai Marina, dan pusat Kota Semarang.

Saat ini, Pemprov Jawa Tengah membuka peluang kerja sama dengan investor untuk mengembangkan kawasan tersebut. Dari total lahan yang dimiliki, sekitar 25 hektare berada di kawasan Maerokoco, sedangkan sisanya merupakan area utama PRPP.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan pemerintah daerah terus mencari investor untuk melanjutkan revitalisasi PRPP. Kawasan tersebut direncanakan dikembangkan menjadi destinasi modern bertaraf internasional.

Rencana revitalisasi meliputi pembangunan convention hall berkapasitas besar, sport center untuk berbagai cabang olahraga, serta integrasi kawasan PRPP dengan Bandara Internasional Ahmad Yani, Pantai Marina, dan kawasan POJ City.

Penulis : M Kamal

Editor : Jaka N

Exit mobile version