Agustina Apresiasi Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis Angkat Nuansa Kuliner dan Budaya Semarang

Film tersebut bukan hanya menyuguhkan cerita yang menarik, tetapi juga menjadi media promosi yang efektif bagi ibu kota Jawa Tengah.

SEMARANG, Jatengnews.id– Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengapresiasi hadirnya film Takkan Kubiarkan Kau Menangis yang dinilai berhasil mengangkat identitas dan kekhasan Kota Semarang ke layar lebar.

Menurutnya, film tersebut bukan hanya menyuguhkan cerita yang menarik, tetapi juga menjadi media promosi yang efektif bagi ibu kota Jawa Tengah.

Agustina mengatakan, nuansa Kota Semarang begitu terasa dalam setiap bagian film, mulai dari lokasi hingga kuliner khas yang ditampilkan. Bahkan, lumpia sebagai salah satu ikon kuliner Semarang turut hadir dan memperkuat identitas kota dalam alur cerita.

“Tujuannya tentu untuk mencapai titik sukses, dan yang paling menyenangkan adalah film ini benar-benar Semarang banget, sampai lumpia-lumpianya juga ada,” ujar Agustina, Rabu (22/07/2026).

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam produksi film tersebut, sekaligus mengajak masyarakat untuk menontonnya sebagai bentuk dukungan terhadap karya perfilman yang mengangkat potensi daerah.

“Terima kasih sekali lagi. Terima kasih buat warga Semarang, buat siapa pun yang pernah punya sejarah di Semarang, yang pernah punya kenangan di Semarang. Kalau tidak nonton, rugi deh. Pokoknya ini top banget,” katanya.

Menurut Agustina, kehadiran film yang menampilkan wajah Kota Semarang secara autentik dapat memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Film tersebut diyakini mampu memperkenalkan daya tarik Kota Semarang kepada penonton dari berbagai daerah.

“Mudah-mudahan ini menjadi promosi gratis untuk Kota Semarang,” pungkasnya

Sutradara film drama keluarga Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Ferly Halim, mengungkapkan alasan di balik pemilihan Kota Semarang dan Kabupaten Jepara sebagai lokasi utama pengambilan gambar.

Menurutnya, kedua daerah di Jawa Tengah tersebut menawarkan keaslian suasana yang sangat sesuai dengan cerita yang ingin dihadirkan dalam film.

Ferly menjelaskan, proses penentuan lokasi dilakukan melalui diskusi dan riset yang panjang. Meskipun sempat mempertimbangkan beberapa kota lain, akhirnya Semarang dipilih karena dinilai memiliki karakter yang autentik dan mampu memperkuat nuansa cerita.

“Semarang itu kota yang autentik dan sangat cocok dengan cerita di film ini. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan seluruh proses syuting dilakukan di Jawa Tengah, tepatnya di Semarang dan Jepara,” ujarnya.

Ia mengaku bersama tim produksi sempat dibuat terkejut dengan keindahan pantai di Jepara yang sebelumnya belum banyak diketahui. Bahkan, lokasi tersebut direkomendasikan oleh Bank Jateng saat tim mencari referensi tempat syuting.

“Kami kaget ternyata Jawa Tengah punya pantai yang sangat indah. Pantai di Jepara dengan pasir putihnya benar-benar memberikan nuansa yang syahdu, sehingga akhirnya kami memilihnya sebagai salah satu lokasi utama film,” katanya.

Ferly menambahkan, film ini tidak hanya memanfaatkan keindahan alam Jawa Tengah sebagai latar cerita, tetapi juga melibatkan talenta lokal. Sejumlah pemain asal Semarang turut ambil bagian, termasuk Mentik Mewangi dan Perayaan Nafi, yang membantu para pemain lain mempelajari logat dan bahasa khas Semarang agar terasa lebih alami di layar.

Selain itu, proses produksi juga melibatkan pelaku UMKM serta tenaga kerja lokal sebagai bagian dari upaya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

“Kami benar-benar mengangkat potensi lokal, mulai dari pemain, pekerja film, hingga UMKM yang terlibat selama proses produksi,” jelasnya.

Untuk menghadirkan dialog yang autentik, tim produksi melakukan riset mendalam mengenai bahasa sehari-hari masyarakat Semarang. Mereka juga berkonsultasi dengan seorang sastrawan asal Semarang agar penggunaan dialek dan istilah lokal tetap sesuai serta mudah dipahami penonton, mengingat film ini ditujukan bagi penonton usia 13 tahun ke atas.

Ferly juga mengaku memiliki pengalaman berkesan selama menjalani syuting di Semarang. Salah satunya adalah saat pertama kali mencicipi lumpia, kuliner khas ibu kota Jawa Tengah tersebut.

“Jujur, baru pertama kali saya mencoba lumpia Semarang saat proses syuting, dan ternyata memang enak,” ungkapnya.

Berbeda dengan banyak film yang menampilkan ikon seperti Kota Lama atau Lawang Sewu, Ferly sengaja memperbanyak pengambilan gambar kawasan pesisir. Menurutnya, panorama pantai di Semarang dan Jepara masih jarang terekspos dalam perfilman Indonesia.

“Kalau Kota Lama, Lawang Sewu, atau taman-taman di Semarang sudah banyak yang tahu. Kami justru ingin menunjukkan sisi lain Semarang melalui pantainya, supaya masyarakat tahu daerah ini juga memiliki pesona alam yang luar biasa,” katanya.

Ia mengungkapkan, keseluruhan proses produksi Takkan Kubiarkan Kau Menangis memakan waktu hampir satu tahun, mulai dari penulisan naskah, riset, penyempurnaan cerita, pencarian lokasi, proses syuting, hingga tahap penyuntingan.

Melalui film tersebut, Ferly berharap keindahan alam, budaya, bahasa, serta kekayaan lokal Jawa Tengah dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia sekaligus menjadi daya tarik baru bagi sektor pariwisata daerah.

Penulis : Alif Nazzala Rizqi

Editor    : Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN