Beranda Daerah Krisis Air Bersih Meluas di Jateng, 198 Ribu Warga Terdampak Kekeringan

Krisis Air Bersih Meluas di Jateng, 198 Ribu Warga Terdampak Kekeringan

Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring meluasnya wilayah yang terdampak pada puncak musim kemarau

Ilustrasi krisis air bersih akibat kekeringan di wilayah Jateng terus meluas
Ilustrasi krisis air bersih akibat kekeringan di wilayah Jateng terus meluas. (Foto: AI)

SEMARANG, Jatengnews.id – Krisis air bersih akibat musim kemarau semakin meluas di Jawa Tengah. Hingga Selasa (28/7/2026), sedikitnya 198 ribu jiwa di 157 desa yang tersebar di 25 kabupaten/kota terdampak kekeringan dan membutuhkan pasokan air bersih.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sebanyak 67.303 kepala keluarga (KK) kini mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring meluasnya wilayah yang terdampak pada puncak musim kemarau.

Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursari, mengatakan tren kekeringan mulai meningkat sejak Juni 2026. Jika pada Mei dampaknya masih terbatas di beberapa wilayah, kini penyebaran kekeringan semakin meluas.

“Kalau yang terdampak saat ini ada 25 kabupaten/kota dengan 157 desa. Pemanfaatan air bersih sampai hari ini sudah mencapai 67.303 KK atau sekitar 198 ribu jiwa,” ujarnya kepada Jatengnews.id, Selasa (28/7/2026).

Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Jawa Tengah telah menyalurkan sekitar 5,8 juta liter air bersih ke berbagai daerah terdampak. Distribusi dilakukan secara bertahap sesuai permintaan dari pemerintah kabupaten/kota.

Menurut Bergas, kebutuhan air bersih diperkirakan akan terus meningkat. Pada Juni, distribusi air bersih masih sekitar 1 juta liter, sedangkan sepanjang Juli melonjak menjadi sekitar 6,8 juta liter. Jika musim kemarau terus berlangsung, kebutuhan distribusi pada Agustus diproyeksikan mencapai 12 juta liter.

Meski demikian, BPBD memastikan stok air bersih masih mencukupi. Dari total 44,9 juta liter yang telah disiapkan, sebagian besar masih tersedia dan dapat diperkuat melalui dukungan pemerintah daerah, dunia usaha, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga lembaga sosial.

Bergas mengungkapkan, tantangan terbesar saat ini bukan terletak pada ketersediaan air, melainkan kemampuan mendistribusikannya ke wilayah-wilayah terdampak. Bertambahnya daerah yang membutuhkan bantuan membuat armada pengangkut air harus melayani lebih banyak lokasi sehingga waktu distribusi menjadi lebih panjang.

“Kalau biasanya satu hari bisa dikirim lagi, sekarang karena wilayahnya bertambah banyak, bisa dua sampai tiga hari baru kembali dikirim. Solusinya adalah memperbanyak sarana dan prasarana distribusi dengan melibatkan CSR dan pihak luar,” katanya.

BPBD juga mengingatkan bahwa potensi kekeringan masih dapat meluas. Pengalaman saat fenomena El Nino pada 2019 dan 2023 menunjukkan kekeringan pernah melanda 33 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD bersama pemerintah kabupaten/kota terus memperkuat langkah mitigasi melalui pembangunan sumur bor, pencarian sumber air baku baru, serta percepatan distribusi air bersih agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung. (01).

Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin

Exit mobile version