SEMARANG, Jatengnews.id – Pagi itu, suara riuh anak-anak kembali terdengar di SD Negeri Sendangmulyo 03, Kota Semarang. Tidak ada lagi kepanikan seperti sehari sebelumnya saat sebuah pohon besar roboh dan menghancurkan ruang kelas 1A.
Meski ruang belajar mereka kini tak lagi bisa digunakan, para siswa tetap datang ke sekolah dengan semangat yang sama.
Alih-alih meliburkan para siswa, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang memilih menjaga rutinitas belajar mereka tetap berjalan. Keputusan itu diambil bukan sekadar agar pelajaran tidak tertinggal, melainkan untuk membantu anak-anak segera bangkit dari pengalaman yang bisa meninggalkan trauma.
“Kalau mereka kita liburkan malah nanti terjadi trauma, malas sekolah. Tapi begitu ini kita berikan solusi, bergantian dengan kakak kelasnya kelas 2, maka ini akan bisa menjadi salah satu solusi agar trauma itu segera hilang. Mumpung senang-senangnya baru masuk,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Muhammad Ahsan kepada Jatengnews.id, Rabu (29/7/2026).
Musibah itu terjadi pada Senin (28/7) sekitar pukul 10.00 WIB, sesaat setelah jam istirahat pertama. Sebatang pohon yang berada di area makam di samping sekolah tumbang dan menimpa ruang kelas 1A.
Saat kejadian, seluruh siswa berada di dalam kelas. Beruntung, kesigapan guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan membuat seluruh anak berhasil dievakuasi dengan selamat sebelum bangunan mengalami kerusakan lebih parah.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, tidak ada korban luka. Saat kejadian memang semua anak ada di ruang kelas itu, namun mereka bisa berlindung. Kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan sigap melakukan evakuasi sehingga semua anak dapat selamat,” kata Ahsan.
Sehari berselang, sekolah kembali hidup. Hanya saja, suasananya sedikit berbeda. Ruang kelas yang biasanya dipenuhi siswa kelas 1 kini tak lagi bisa digunakan. Sebagai gantinya, mereka berbagi ruang dengan siswa kelas 2 secara bergantian.
Pada pagi hari hingga sekitar pukul 10.00 WIB, ruang kelas digunakan oleh siswa kelas 1. Setelah itu, giliran siswa kelas 2 mengikuti pembelajaran. Skema tersebut menjadi solusi sementara agar seluruh siswa tetap memperoleh hak belajar tanpa harus menghentikan aktivitas sekolah.
Bagi Disdik Kota Semarang, menjaga semangat anak-anak untuk tetap datang ke sekolah sama pentingnya dengan memperbaiki bangunan yang rusak. Sebab, ruang kelas yang baru dapat dibangun kembali, tetapi rasa percaya diri dan semangat belajar anak perlu dijaga sejak hari pertama setelah musibah.
Di sisi lain, proses pemulihan fisik sekolah juga dipercepat. Disdik Kota Semarang telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mempercepat rehabilitasi ruang kelas yang rusak. Penanganan diprioritaskan mengingat kondisi bangunan sudah tidak memungkinkan lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Ruang itu memang tidak bisa digunakan lagi untuk pembelajaran, sudah rusak total. Sehingga memang harus segera kita tangani. Kalau tidak kita tangani, terlalu lama nanti anak-anak kelas 1 harus bergantian dengan kakak kelasnya kelas 2,” jelas Ahsan.
Sementara itu, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang telah membersihkan seluruh batang pohon, ranting, dan material yang menimpa bangunan. Area sekolah kini telah disiapkan sebagai tahap awal proses rehabilitasi agar ruang kelas dapat segera digunakan kembali.
“Kemarin sudah kami koordinasi langsung dengan Disperkim. Semua ranting pohon dan kayu sudah dibersihkan. Hari ini dilakukan pembersihan lanjutan sebagai persiapan perbaikan gedung ruang kelas yang rusak,” tandasnya. (01).
Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin
