
SEMARANG, Jatengnews.id – Dampak kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 6 Semarang masih dirasakan para korban. Dari total 707 siswa dan guru yang mengalami gejala usai mengonsumsi makanan program tersebut, enam siswi hingga kini masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengatakan lima korban masih dirawat di rumah sakit, sedangkan satu siswi yang sebelumnya menjalani perawatan di puskesmas harus dirujuk karena kondisinya melemah.
“Hari ini masih ada enam yang dirawat. Satu pasien yang sebelumnya di puskesmas dirujuk karena kondisinya lemas,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin (3/8/2026).
Kasus dugaan keracunan tersebut terjadi pada Jumat (31/7/2026). Hingga kini, Dinkes Kota Semarang masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab insiden tersebut melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para korban.
Sampel yang diuji meliputi menu rendang, daun singkong, tahu, dan telur puyuh. Proses pemeriksaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan karena sampel harus melalui proses kultur untuk mengetahui ada tidaknya kontaminasi bakteri.
“Samplenya harus kami biakkan terlebih dahulu untuk memastikan apakah terdapat bakteri atau tidak,” kata Hakam.
Selain menguji sampel makanan, Dinkes juga melakukan penelusuran terhadap para korban guna mengetahui menu yang diduga menjadi penyebab keluhan.
Berdasarkan hasil pendataan sementara, sekitar 49 persen korban menyebut rendang sebagai menu yang diduga menjadi penyebab, sekitar 40 persen mengarah pada telur, sedangkan sisanya menyebut daun singkong.
Di sisi lain, hasil evaluasi awal terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menemukan masih banyak prosedur operasional yang belum dijalankan sesuai ketentuan.
“Dari 19 SOP yang harus dipenuhi, hanya tiga yang ditaati, sedangkan 16 lainnya tidak terpenuhi,” ungkap Hakam.
Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah proses memasak makanan yang dilakukan terlalu dini. Menurut hasil evaluasi, makanan untuk SMK Negeri 6 Semarang mulai dimasak sekitar pukul 21.00 WIB, sementara baru didistribusikan kepada siswa sekitar pukul 09.00 WIB keesokan harinya.
Meski demikian, Hakam menegaskan penyebab pasti dugaan keracunan belum dapat disimpulkan sebelum hasil uji laboratorium keluar. Pemeriksaan masih dilakukan untuk memastikan apakah terdapat kontaminasi bakteri seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), atau Bacillus cereus pada makanan yang dikonsumsi para korban.
Saat ini para korban masih menjalani perawatan di RS KRMT Wongsonegoro, RS Panti Wilasa Citarum, dan Puskesmas Bangetayu, sementara Dinkes terus memantau perkembangan kondisi mereka sembari menunggu hasil investigasi laboratorium. (01).
Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin