Beranda Daerah Semarakan Agustus dengan Limbah Galon, Mulyadi Sulap Gang Buntu Jadi Lorong Lampion

Semarakan Agustus dengan Limbah Galon, Mulyadi Sulap Gang Buntu Jadi Lorong Lampion

Puluhan lampion menggantung di atas gang. Cahayanya berbagai warna, mulai putih, merah, biru, kuning, hijau hingga oranye.

Pengrajin tempe Muyadi (45) bersama Ketua Rt setempat Agus Yuliono saat ditemui di Gang Buntu 8A, RT 06 RW 07, Kelurahan Lamper Tengah, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. (Foto: Kamal)
Pengrajin tempe Muyadi (45) bersama Ketua Rt setempat Agus Yuliono saat ditemui di Gang Buntu 8A, RT 06 RW 07, Kelurahan Lamper Tengah, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. (Foto: Kamal)

SEMARANG, Jatengnews.id – Di antara bangunan-bangunan yang berdiri rapat, sebuah lorong kampung justru berubah menjadi ruang yang terasa berbeda. Waktu itu malam hari di Gang Buntu 8A, RT 06 RW 07, Kelurahan Lamper Tengah, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Puluhan lampion menggantung di atas gang. Cahayanya berbagai warna, mulai putih, merah, biru, kuning, hijau hingga oranye.

Dari kejauhan, deretan lampion itu tampak seperti membentuk lorong cahaya. Semakin masuk ke dalam gang, suasana terasa semakin semarak.

Pemandangan tersebut menjadi semakin menarik karena lampion-lampion itu bukan hasil produksi pabrik atau dibeli dalam jumlah banyak.

Lampion tersebut dibuat dari limbah galon plastik.

Di baliknya ada tangan seorang warga bernama Mulyadi (45), seorang pengrajin tempe yang tinggal di gang tersebut.

Bagi Mulyadi, membuat lampion sebenarnya bukan pekerjaan utamanya. Ide itu muncul dari keinginannya memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di sekitarnya.

“Ini ide sudah dua tahun tapi baru terwujud tahun ini,” katanya saat ditemui di depan gang tersebut.

“Emang dibikin kayak lampion, reverensinya emang tiba-tiba pengen dan punya niat sendiri saja.”

Bahan-bahan untuk membuat lampion itu pun tidak sulit ditemukan. Mulyadi memanfaatkan galon bekas yang berasal dari limbah warga maupun barang yang diperolehnya dari tempat rongsok.

“Kebutuhan yang digunakan untuk membuat lampion? Galon, lampu, pitingan lampu, dan lainnya.”

Sejak pertengahan Juni, Mulyadi mulai mengerjakan lampion tersebut di sela aktivitasnya sebagai pengrajin tempe.

Satu per satu galon bekas diolah dan dibentuk hingga menyerupai bunga lampion. Setelah diberi lampu, benda yang sebelumnya hanya menjadi limbah itu berubah menjadi hiasan warna-warni.

“Pengerjaan sendiri, mulai pembuatan dari pertengahan Juni buat sampingan, bikin 52 lampion dari limbah galon warga”

Lampion-lampion itu kemudian dipasang memanjang di sepanjang Gang Buntu 8A. Ketika malam tiba dan lampu dinyalakan, gang sempit tersebut seolah memiliki wajah baru.

Mulyadi memang tidak memiliki latar belakang sebagai seniman. Ia hanya berangkat dari keinginan sederhana untuk membuat sesuatu yang berbeda di lingkungan tempat tinggalnya.

“Saya endak ada background seniman, tapi memang punya keinginan sendiri kemudian bilang sama teman satu gang kok setuju ya akhirnya di gaskan,” tuturnya.

“Sengaja dibuat untuk menyambut dan merayakan agustus tahun ini”

Dari Sampah Menjadi Hiasan Kampung

Kehadiran lampion buatan Mulyadi mendapat sambutan positif dari warga. Ketua setempat, Agus Yuliono menilai, kreativitas tersebut bukan sekadar mempercantik lingkungan menjelang perayaan Agustus.

Lebih dari itu, lampion menjadi contoh kecil bagaimana barang yang selama ini dianggap sebagai sampah masih dapat memiliki nilai guna.

“Tentunya kami menyambut hal ini sangat positif, karena ini pemanfatan limbah jadi limbah plastik kita gunakan kembali bisa menjadi seperti ini dan mungkin ada dibuat yang lain nanti,” ucapnya.

Menurut Agus, kreativitas Mulyadi juga diharapkan bisa menular kepada warga lainnya.

“Jadi ini intinya untuk memotivasi warga lain juga supaya bisa memanfaatkan limbah plastik bisa digunakan dan bermanfaat”

Gang Buntu 8A pun mendapatkan suasana baru.

Di siang hari, gang tersebut mungkin hanya menjadi akses bagi warga untuk beraktivitas. Namun ketika malam datang dan lampion dinyalakan, lorong sempit itu berubah menjadi salah satu sudut kampung yang menarik perhatian.

“Kami sangat senang karena suasana agustusan jadi tambah meriah ditempat kami, tentunya ini menjadi nilai tambah di lingkungan kita.”

Menariknya, seluruh proses pembuatan hingga pemasangan lampion dilakukan secara swadaya.

“Ini pembuatannya menggunakan dana pribadi warga dan ditanggu satu gang.”

Lampion dari limbah galon bukan satu-satunya cara warga Gang Buntu 8A memeriahkan Agustus.

Sebelumnya, warga juga membuat mural di lingkungan gang. Berbagai kegiatan perlombaan juga telah digelar untuk menyambut bulan kemerdekaan.

“Tadi ada mural dan kemarin juga sudah ada lomba yang kita laksanakan kemudian seperti biasa nanti ada lomba tingkat RW dan malam tirakatan.”

Di tengah gang yang terhimpit bangunan-bangunan tinggi, 52 lampion itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar hiasan.

Ada cerita tentang seorang pengrajin tempe yang mencoba mewujudkan ide yang telah disimpannya selama dua tahun. Ada pula cerita tentang limbah galon yang mendapatkan kehidupan kedua.

Dan pada malam-malam Agustus, ketika lampu-lampu itu menyala, Gang Buntu 8A berubah menjadi lorong cahaya kecil di tengah permukiman Lamper Tengah.


Penulis  : Muhammad Kamal

Editor     : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version