Beranda Daerah KKN-R Tim 2 UNDIP Bongkar Mitos Kenyang di Desa Ketoyan, Kenalkan Cara...

KKN-R Tim 2 UNDIP Bongkar Mitos Kenyang di Desa Ketoyan, Kenalkan Cara Sederhana Cegah Stunting

Pendekatan tersebut dirancang untuk membantu masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu balita, memahami bahwa memenuhi kebutuhan makan anak bukan sekadar membuat anak merasa kenyang.

KKN-R Tim 2 Universitas Dipinegoro melakukan penguatan intervensi gizi di Desa Ketoyan yang terletak di Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. (Foto : Dok KKN)
KKN-R Tim 2 Universitas Dipinegoro melakukan penguatan intervensi gizi di Desa Ketoyan yang terletak di Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. (Foto : Dok KKN)

BOYOLALI, Jatengnews.id – Persoalan stunting tidak selalu disebabkan oleh sulitnya mendapatkan bahan pangan. Di Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, bahan pangan lokal justru cukup melimpah.

Namun, tantangan muncul ketika ketersediaan makanan belum diikuti pemahaman tentang cara menyusun menu dan porsi yang sesuai kebutuhan gizi anak.

Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Tim 2 Universitas Diponegoro (UNDIP). Mereka melakukan penguatan intervensi gizi melalui edukasi kepada masyarakat dengan mengenalkan konsep “Sorting Gizi” dan “Layouting Gizi”.

Pendekatan tersebut dirancang untuk membantu masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu balita, memahami bahwa memenuhi kebutuhan makan anak bukan sekadar membuat anak merasa kenyang.

Lebih dari itu, makanan yang dikonsumsi harus memiliki komposisi zat gizi yang seimbang agar mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.

Program ini menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung upaya pencegahan stunting sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Stunting sendiri merupakan kondisi yang berkaitan dengan kegagalan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi kronis. Dampaknya tidak hanya terlihat dari pertumbuhan fisik anak, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kesehatan, hingga produktivitas ketika dewasa.

Karena itu, intervensi sejak dini menjadi penting untuk memastikan anak-anak dapat tumbuh sehat dan memiliki kesempatan berkembang secara optimal.

Boyolali Terus Perkuat Penanganan Stunting. Pemerintah Kabupaten Boyolali terus mendorong percepatan penurunan angka stunting. Upaya tersebut diarahkan untuk melampaui target nasional prevalensi stunting di bawah 14 persen.

Berdasarkan data e-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), prevalensi stunting di Kabupaten Boyolali berada pada kisaran 7–8 persen atau mencakup sekitar 4.000 balita.

Sementara itu, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat angka prevalensi sebesar 12,13 persen dengan dinamika indikator lapangan yang mencapai 24,5 persen pada kelompok kajian tertentu.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan stunting membutuhkan intervensi yang lebih spesifik dan menyentuh langsung kondisi masyarakat di tingkat desa.

Desa Ketoyan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam upaya penguatan intervensi tersebut.

Desa dengan karakter agraris ini dihuni sekitar 3.431 jiwa yang terbagi dalam 1.077 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 603 balita dan anak-anak serta 573 lansia.

Kelompok usia tersebut menjadi bagian penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia di tingkat desa.

Pangan Melimpah, tetapi Gizi Belum Selalu Seimbang. Desa Ketoyan memiliki potensi pangan lokal yang cukup besar. Sebagai wilayah agraris, masyarakat mengembangkan berbagai komoditas seperti padi dan jagung.

Selain itu, terdapat pula usaha mikro yang mengolah bahan pangan lokal, terutama kedelai menjadi tempe dan berbagai produk olahan lainnya.

Kondisi tersebut sebenarnya menjadi modal besar bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Namun, mahasiswa KKN-R Tim 2 UNDIP menemukan adanya persoalan yang tidak kalah penting, yakni bagaimana bahan pangan tersebut dikombinasikan dan disajikan dalam menu sehari-hari.

Ketersediaan makanan belum otomatis menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi anak.

Menu harian balita masih dapat didominasi oleh makanan sumber karbohidrat dengan porsi yang lebih besar. Sementara sumber protein, sayuran, buah, serta mikronutrien belum selalu diberikan dalam komposisi yang seimbang.

Dengan kata lain, persoalan yang muncul bukan hanya mengenai “apa yang dimakan”, tetapi juga “berapa banyak” dan “bagaimana komposisinya”.

Inilah yang kemudian disebut sebagai “mitos kenyang”, yakni anggapan bahwa anak sudah mendapatkan makanan yang cukup ketika perutnya kenyang, tanpa memperhatikan keseimbangan kandungan nutrisi.

Konsep Logistik Jadi Cara Baru Edukasi Gizi. Untuk menjawab persoalan tersebut, mahasiswa KKN-R Tim 2 UNDIP menghadirkan pendekatan yang cukup unik dengan mengadaptasi prinsip manajemen dan administrasi logistik ke dalam edukasi gizi.

Konsep tersebut diwujudkan melalui dua istilah utama, yakni “Sorting Gizi” dan “Layouting Gizi”.

Sorting Gizi mengajarkan masyarakat untuk memilah bahan makanan berdasarkan fungsi gizinya sebelum diolah.

Bahan pangan dikelompokkan menjadi sumber energi berupa karbohidrat, zat pembangun berupa protein hewani dan nabati, serta zat pengatur yang berasal dari sayur dan buah.

Bahan pangan lokal seperti tempe, kedelai, telur, jagung, serta berbagai sayuran kemudian dikenalkan sebagai bagian dari kombinasi menu yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Sementara itu, Layouting Gizi mengajarkan cara menata makanan di atas piring dengan pembagian porsi yang lebih seimbang.

Piring makan anak dipandang seperti sebuah “layout” yang harus diatur secara tepat. Setiap kelompok makanan mendapatkan ruang sesuai kebutuhan, sehingga tidak ada satu jenis makanan yang mendominasi.

Melalui pendekatan visual tersebut, ibu-ibu dapat memperkirakan komposisi makanan dengan lebih mudah tanpa harus menggunakan timbangan atau alat ukur medis yang rumit.

Belajar Menyusun Menu dari Bahan Pangan Lokal. Edukasi tidak berhenti pada teori. Para ibu juga diajak mempraktikkan cara menyusun menu harian dengan menggunakan bahan pangan yang tersedia di sekitar mereka.

Tempe dan olahan kedelai yang menjadi salah satu potensi pangan lokal Desa Ketoyan dipadukan dengan sumber protein hewani dan sayuran.

Pendekatan tersebut bertujuan menunjukkan bahwa makanan bergizi tidak selalu harus mahal.

Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, keluarga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak sekaligus menjaga pengeluaran rumah tangga tetap efisien.

Mahasiswa juga mengenalkan penggunaan alat ukur rumah tangga sederhana seperti sendok dan mangkuk sebagai acuan dalam menentukan porsi.

Cara tersebut diharapkan dapat membantu orang tua menerapkan prinsip porsi presisi dalam kehidupan sehari-hari.

Sasar Ibu Hamil hingga Ibu Balita. Program edukasi menyasar tiga kelompok utama, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu balita.

Ketiga kelompok tersebut memiliki peran penting dalam menentukan kualitas gizi anak sejak masa kehamilan hingga periode pertumbuhan balita.

Pada masa kehamilan, pemenuhan nutrisi menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.

Sementara ibu menyusui membutuhkan asupan gizi yang memadai untuk menjaga kesehatan ibu sekaligus mendukung pemberian ASI.

Adapun ibu balita memiliki peran langsung dalam menentukan makanan yang dikonsumsi anak setiap hari.

Melalui edukasi tersebut, para ibu didorong untuk melakukan pemilahan bahan makanan sebelum memasak, mengatur komposisi makanan di atas piring, serta menakar porsi dengan alat sederhana.

Dari “Makan Sampai Kenyang” Menjadi “Makan dengan Gizi Seimbang”

Pendekatan yang diperkenalkan KKN-R Tim 2 UNDIP diharapkan dapat menggeser pola pikir masyarakat.

Jika sebelumnya ukuran kecukupan makan lebih banyak didasarkan pada apakah anak sudah kenyang atau belum, kini masyarakat diarahkan untuk melihat kualitas makanan secara lebih menyeluruh.

Anak tidak hanya membutuhkan nasi atau sumber karbohidrat lainnya, tetapi juga membutuhkan protein, sayur, buah, serta berbagai vitamin dan mineral.

Perubahan sederhana dalam cara memilih, mengombinasikan, dan menata makanan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pencegahan stunting dari tingkat keluarga.

Intervensi Gizi Jadi Investasi Menuju Generasi Emas 2045

Penanganan stunting membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah, puskesmas, kader pembangunan manusia, penyuluh keluarga berencana, masyarakat, hingga perguruan tinggi memiliki peran masing-masing dalam memastikan intervensi berjalan secara berkelanjutan.

Kehadiran mahasiswa KKN-R UNDIP menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung upaya tersebut melalui pendekatan multidisiplin.

Penerapan konsep logistik dalam edukasi gizi juga memberikan perspektif baru bahwa pengelolaan makanan dapat dilakukan secara sistematis, mulai dari pemilahan bahan, penataan porsi, hingga pengelolaan persediaan bahan pangan di rumah.

Dampak dari intervensi gizi pada masa kanak-kanak memang tidak selalu dapat dilihat dalam waktu singkat. Namun, kualitas gizi hari ini merupakan investasi untuk kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang.

Karena itu, penguatan intervensi gizi di Desa Ketoyan tidak hanya bertujuan mencegah stunting saat ini.

Lebih jauh, program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang sehat, tangguh, produktif, dan mampu bersaing menuju Indonesia Emas 2045.

Model “Sorting dan Layouting Gizi” juga memiliki peluang untuk direplikasi di wilayah lain. Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal dan menggunakan pendekatan visual yang sederhana, edukasi gizi dapat menjadi lebih mudah dipahami dan diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis   : Tim Mahasiswa KKN

Editor      : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version