
BOYOLALI, Jatengnews.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) melakukan kunjungan ke Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Aneka Ceriping “Al-Ahzar” di RT 025/RW 001, Dukuh Kayen Baru, Desa Kayen, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali.
Kegiatan yang dilaksanakan sebagai bagian dari program monodisiplin tersebut berfokus pada penguatan promosi UMKM desa. Selain mengenal lebih dekat aktivitas usaha, mahasiswa KKN juga mendorong upaya pengenalan produk Aneka Ceriping “Al-Ahzar” agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
UMKM milik Siti Ahzarwati itu telah bertahan lebih dari 10 tahun dengan produk utama berupa ceriping pisang dan singkong. Usaha tersebut berawal dari kegiatan Padat Karya yang pernah dilaksanakan di Desa Kayen. Saat itu, masyarakat memperoleh kegiatan pembuatan ceriping yang kemudian menjadi awal bagi Siti untuk mengembangkan usaha secara mandiri.
“Dulu kan sini sentral itu, Mbak. Dari pertama kali dikasih kegiatan sama KKN, itu bikin ceriping,” ujar Siti saat diwawancarai pada Sabtu (8/8/2026).
Bagi Siti, usaha pembuatan ceriping tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan. Selain ceriping pisang dan singkong, ia terkadang memproduksi ceriping talas apabila bahan bakunya tersedia.
Produk Aneka Ceriping “Al-Ahzar” tersedia dalam varian original dan pedas. Ceriping pisang dibanderol Rp20.000 per kemasan 300 gram atau sekitar Rp60.000 per kilogram. Sementara itu, ceriping singkong dijual Rp13.000 per kemasan 300 gram atau sekitar Rp40.000 per kilogram.
Dalam satu minggu, Siti biasanya melakukan produksi sebanyak dua kali untuk menjaga ketersediaan stok di rumah. Proses produksi masih dilakukan secara manual, mulai dari mengupas bahan, memotong menggunakan alat pasah, mencuci, hingga menggorengnya sampai matang.
Setelah digoreng, ceriping didiamkan terlebih dahulu agar minyak berkurang sebelum kemudian dikemas dan dipasarkan.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi, bahan baku diperoleh dari kebun sendiri apabila tersedia. Namun, sebagian besar bahan dibeli dari tengkulak yang datang langsung ke rumah.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kualitas bahan baku, terutama singkong. Menurut Siti, usia singkong turut memengaruhi tekstur hasil produksi.
“Sebetulnya kan singkong pas usianya sekitar satu tahunan itu bagus. Kalau nggak bagus, hasilnya kayak keras tadi,” jelasnya.
Selama menjalankan usahanya, pemasaran Aneka Ceriping “Al-Ahzar” masih dilakukan secara sederhana. Siti belum secara khusus menggunakan berbagai platform media sosial untuk memasarkan produknya.
Promosi biasanya dilakukan melalui status WhatsApp. Sementara itu, pelanggan baru banyak mengenal produk melalui rekomendasi dari konsumen sebelumnya.
“Paling story. Kan udah pada tahu, kan,” tutur Siti.
Jangkauan pemasaran produk sebenarnya telah melampaui Desa Kayen. Sejumlah konsumen dari luar desa mengenal ceriping tersebut setelah mendapat rekomendasi dari kerabat yang membawa produk sebagai oleh-oleh.
“Kadang masyarakat sini punya saudara di mana, bawa, buat oleh-oleh. Terus mereka kan merasakan, terus tanya, belinya di mana,” ungkapnya.
Meski memiliki peluang pasar yang lebih luas, Siti masih mempertimbangkan keterbatasan tenaga kerja. Saat ini, kegiatan produksi dibantu oleh dua orang sehingga kapasitas usaha belum memungkinkan untuk menerima pesanan dalam jumlah besar.
“Belum. Untuk sekarang belum, Mbak,” katanya ketika ditanya mengenai rencana memperluas pemasaran.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa KKN turut mencicipi produk Aneka Ceriping “Al-Ahzar” untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kualitas produk dari perspektif konsumen.
Nadia Mega, salah satu konsumen yang baru pertama kali mencoba produk tersebut, memberikan respons positif. Ia menilai ceriping memiliki cita rasa yang enak, gurih, serta tekstur yang renyah.
“Setelah saya mencoba, jujur rasanya enak banget, gurih, asin. Terus untuk keripik pisangnya sendiri itu rasanya manis, dan jujur nggak keras sama sekali,” ujar Nadia.
Menurutnya, kemasan produk juga sudah cukup baik karena dilengkapi label yang membantu konsumen mengenali produk ketika hendak melakukan pembelian kembali.
“Dari segi bumbu, kemasannya juga proper, terus ada labelnya, jadi misalnya kita mau repurchase lagi itu enak,” katanya.
Nadia menilai Aneka Ceriping “Al-Ahzar” memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas apabila mulai dipromosikan melalui media sosial. Namun, ia menyarankan adanya penguatan kemasan apabila produk nantinya dikirim ke luar daerah.
“Kalau yang dikirim jauh itu kan pasti punya risiko yang lebih tinggi buat keteken. Jadi misalkan mau dipasarkan lebih luas bisa diganti packaging-nya lebih proper, lebih safe kayak pakai zipper,” jelasnya.
Dengan pengalaman usaha lebih dari satu dekade, kualitas produk yang mendapat respons positif, serta konsumen yang telah berasal dari luar Desa Kayen, Aneka Ceriping “Al-Ahzar” dinilai memiliki potensi untuk terus berkembang.
Pemanfaatan media digital secara bertahap dapat menjadi salah satu strategi untuk memperluas jangkauan promosi tanpa harus langsung meningkatkan kapasitas produksi secara besar-besaran. Langkah tersebut juga dapat disesuaikan dengan kemampuan tenaga kerja dan ketersediaan bahan baku yang dimiliki UMKM.
Melalui program monodisiplin KKN, mahasiswa Undip berharap penguatan promosi dapat membantu UMKM Aneka Ceriping “Al-Ahzar” semakin dikenal, sekaligus mendorong produk lokal Desa Kayen memiliki peluang pasar yang lebih luas.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi