
SEMARANG, Jatengnews.id – Peternak unggas di Jawa Tengah (Jateng) tengah menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga pakan dan anjloknya harga telur.
Aksi protes dilakukan peternak yang tergabung dalam Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) secara serentak di Kendal, Temanggung, Magelang, Pekalongan, Wonosobo, Pati, Grobogan, dan Boyolali, Senin (10/8/2026).
Ketua KPUS Jateng Suwardi mengatakan, harga pakan unggas sejak April hingga Agustus 2026 naik sekitar 25 persen. Sementara harga telur terus turun hingga Rp15 ribu per kilogram di tingkat kandang.
“Harga telur sejak Mei sampai Agustus turun terus sampai titik terendah Rp15 ribu di kandang,” kata Suwardi, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum sepenuhnya membantu menyerap hasil produksi peternak.
“Keberadaan MBG, walau sudah ada rapat kesepakatan dan nota dinas, KPPG wilayah di bawah tidak ada efek karena semua dikendalikan oleh pemilik dapur atau pengelola, sehingga peran SPPG tidak maksimal,” ujarnya.
Suwardi menilai jagung SPHP dapat membantu menekan biaya produksi karena harganya lebih rendah dibanding harga pasar.
“Jagung SPHP menjadi satu bagian yang bisa meringankan biaya pakan karena harga Rp5.500 sampai peternak dan harga pasaran jagung saat ini Rp6.800-Rp7.000 (per kilo),” paparnya.
Sementara itu, Kepala Distanak Jateng Defransisco Dasilva Tavares menyebut persoalan peternak bukan hanya soal mahalnya pakan, tetapi juga kelebihan populasi ayam.
Populasi ayam di Jateng saat ini disebut sudah mendekati 1 miliar ekor. Kondisi tersebut membuat pasokan ayam dan telur melimpah ketika permintaan tidak meningkat seimbang.
“Animo masyarakat yang baru berusaha tani, berusaha untuk beternak ayam ini juga meningkat karena adanya SPPG. Mereka melihat ada peluang,” jelas Frans.
Pemerintah, lanjut Frans, telah meminta produsen tidak menaikkan harga pakan dan akan memperbesar pasokan jagung SPHP.
“60 persen pakan itu berasal dari jagung. Otomatis suplai SPHP yang diserap Bulog itu bisa dikeluarkan lebih banyak untuk kebutuhan yang memang kondisinya seperti ini,” jelasnya.
Terkait aksi peternak yang membuang ayam, Frans menyarankan hasil produksi yang tidak terserap pasar diberikan kepada masyarakat membutuhkan.
“Kami punya desa miskin banyak sekali. Kalau panjenengan bisa memberikan kepada orang miskin yang mungkin belum pernah makan ayam, panjenengan akan mendapat pahala dunia dan akhirat,” kata Frans.
Penulis : M Kamal
Editor : Jaka N