Beranda Daerah TMMD Sengkuyung III di Sawah Besar Rampung, Pemkot Semarang Fokus Perkuat Penanganan...

TMMD Sengkuyung III di Sawah Besar Rampung, Pemkot Semarang Fokus Perkuat Penanganan RTLH dan Banjir

Salah satu infrastruktur penting dalam sistem tersebut adalah Kolam Retensi Rusunawa-Kaligawe yang memiliki luas sekitar 14,3 hektare dengan kapasitas tampung mencapai sekitar 228.700 meter kubik.

Program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap III Tahun 2026 di Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari resmi ditutup di Ruang Lokakrida Balaikota Semarang, Kamis (13/8/2026). (Foto : Dok Pemkot Semarang)
Program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap III Tahun 2026 di Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari resmi ditutup di Ruang Lokakrida Balaikota Semarang, Kamis (13/8/2026). (Foto : Dok Pemkot Semarang)

SEMARANG, Jatengnews.id – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap III Tahun 2026 di Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, resmi berakhir. Penutupan program yang berlangsung selama satu bulan tersebut digelar di Ruang Lokakrida Balaikota Semarang, Kamis (13/8/2026).

Mewakili Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin secara resmi menutup rangkaian kegiatan TMMD. Program tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan serta meningkatkan kualitas kehidupan warga.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kodim 0733/Kota Semarang, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta masyarakat Kelurahan Sawah Besar yang turut berperan dalam menyukseskan pelaksanaan TMMD.

Menurut Agustina, TMMD tidak sekadar menghadirkan pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh keluarga penerima.

“TMMD memiliki makna yang dekat dengan kehidupan warga. Pembangunan yang dilakukan berfokus pada kebutuhan mendasar yang dampaknya langsung dirasakan oleh keluarga,” ujar Agustina.

Dandim 0733/Kota Semarang melalui Kepala Staf Kodim Yohanes Heru Wibowo mengatakan, TMMD Sengkuyung Tahap III mengusung tema “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa”. Kegiatan tersebut menjadi bentuk sinergi TNI dan pemerintah daerah untuk mempercepat pemerataan pembangunan, khususnya di kawasan permukiman.

Sejumlah pembangunan dan kegiatan sosial berhasil direalisasikan selama TMMD berlangsung di Sawah Besar. Di antaranya peninggian jalan dan talud di kawasan Dempel Barat sepanjang 200 meter, penyiapan tandon air bersih, serta rehabilitasi 10 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dengan dukungan Baznas Kota Semarang.

Selain pembangunan fisik, masyarakat juga mendapatkan berbagai kegiatan pendukung, seperti penyuluhan kesehatan keluarga, pembinaan remaja, pelatihan keterampilan, hingga pelayanan administrasi kependudukan.

Agustina menilai rehabilitasi 10 RTLH tersebut menjadi bagian penting dari upaya Pemkot Semarang mempercepat peningkatan kualitas hunian masyarakat. Pada 2026, Pemkot Semarang menargetkan perbaikan sekitar 2.500 unit RTLH melalui kolaborasi pendanaan dari APBD, APBN, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

“Rumah merupakan tempat tumbuh kembang anak-anak dan ruang beristirahat orang tua. Perbaikan sepuluh rumah di Sawah Besar ini memiliki arti besar bagi masa depan keluarga yang menghuninya,” katanya.

Tidak hanya persoalan hunian, Pemkot Semarang juga memberikan perhatian terhadap persoalan banjir yang masih menjadi tantangan di kawasan Gayamsari. Kelurahan Sawah Besar dan Kaligawe merupakan bagian dari sistem pengendalian Sungai Tenggang yang membutuhkan penanganan secara terpadu.

Salah satu infrastruktur penting dalam sistem tersebut adalah Kolam Retensi Rusunawa-Kaligawe yang memiliki luas sekitar 14,3 hektare dengan kapasitas tampung mencapai sekitar 228.700 meter kubik.

Agustina menegaskan, keberadaan saluran drainase, pompa, dan kolam retensi harus diimbangi dengan pemeliharaan serta pengembangan secara berkelanjutan. Langkah tersebut diperlukan agar air dapat ditampung, dialirkan, dan dipompa secara lebih optimal ketika terjadi peningkatan debit air.

Pemkot Semarang juga tengah menyusun konsep pengelolaan banjir di kawasan timur secara lebih terpadu. Salah satu opsi yang dikaji adalah pemanfaatan aset untuk membangun jaringan kolam retensi yang dapat saling terkoneksi sehingga sistem pengendalian air menjadi lebih efektif.

Menurut Agustina, penanganan banjir tidak dapat dilakukan secara parsial. Upaya tersebut harus dilakukan dari hulu hingga hilir melalui perencanaan yang matang serta melibatkan masyarakat.

Kesadaran warga dalam menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan merawat infrastruktur menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan sistem pengendalian banjir.

“Gotong royong antara TNI, pemerintah, dan warga terbukti mampu menghadirkan perubahan yang nyata. Saya titip agar jalan, talud, tandon air, dan rumah yang sudah diperbaiki ini kita rawat bersama,” pungkasnya.

Penulis  : Alif Nazzala Rizqi

Editor    : Jaka Nuswantara

Exit mobile version