
PEMALANG, Jatengnews.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Reguler Universitas Diponegoro (Undip) menggelar edukasi dan simulasi mitigasi bencana gempa bumi di SDN 03 Pendowo, Desa Pendowo, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, Jumat (7/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00 hingga 11.00 WIB tersebut melibatkan siswa dan guru dengan fokus pada peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Selain simulasi evakuasi, mahasiswa KKN juga melakukan penataan jalur evakuasi, memasang rambu keselamatan, serta menetapkan titik kumpul darurat di lingkungan sekolah.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, SDN 03 Pendowo belum memiliki program edukasi maupun simulasi mitigasi gempa secara khusus. Sekolah juga belum dilengkapi rambu penunjuk jalur evakuasi dan titik kumpul yang ditetapkan secara jelas.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kepanikan apabila gempa terjadi sewaktu-waktu. Minimnya pemahaman mengenai prosedur penyelamatan diri dan tidak adanya penanda arah evakuasi dapat membuat siswa kebingungan, berdesakan saat keluar ruangan, hingga kesulitan menemukan lokasi yang aman.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Undip merancang program mitigasi bencana yang memadukan edukasi, simulasi, dan penataan fasilitas keselamatan sekolah.
Dalam simulasi, siswa kelas IV dan V diajak mempraktikkan langkah penyelamatan diri ketika gempa terjadi. Mereka belajar untuk tetap tenang, merunduk dan melindungi kepala di bawah meja saat guncangan awal, kemudian keluar ruangan secara tertib menuju titik kumpul terbuka di lapangan.
Antusiasme siswa terlihat selama mengikuti kegiatan. Mirza, siswa kelas V SDN 03 Pendowo, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui praktik secara langsung.
“Kegiatannya sangat seru, apalagi praktiknya jadi bisa tahu apa saja yang harus dilakukan ketika ada bencana,” ujar Mirza.
Hal senada disampaikan Abbas. Ia menilai simulasi bersama teman-teman membuat materi mitigasi lebih mudah dipahami.
“Seru banget praktiknya sama teman-teman. Tadi diajarin enggak boleh panik, terus langsung merunduk lindungi kepala di bawah meja, habis itu lari ke titik kumpul di lapangan,” kata Abbas.
Sementara itu, Dara mengaku terbantu dengan adanya rambu dan poster edukasi yang dipasang di lingkungan sekolah. Menurutnya, gambar dan tanda arah membuat langkah penyelamatan lebih mudah diingat.
“Wih, sangat seru! Apalagi pas lihat ada tanda panah jalur evakuasi sama poster bergambar di kelas, jadi gampang banget diingat kalau nanti ada gempa,” tuturnya.
Program tersebut dilaksanakan melalui tiga pendekatan utama, yakni pemetaan jalur evakuasi, penyediaan media edukasi visual, serta pelatihan respons darurat.
Mahasiswa KKN Tim II dari Jurusan Ilmu Kelautan, Dejuno, mengatakan edukasi mitigasi bencana perlu dikenalkan sejak usia dini. Dengan demikian, siswa tidak hanya mampu menyelamatkan diri, tetapi juga dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Praktik mitigasi bencana ini penting karena masih banyak siswa maupun warga sekolah yang belum memahami sepenuhnya apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa. Harapannya, mereka tidak hanya siap melindungi diri sendiri, tetapi juga dapat membagikan pengetahuan ini kepada teman maupun keluarga,” jelas Dejuno.
Dari sisi penataan lingkungan sekolah, pemasangan rambu fisik menjadi salah satu bagian penting dalam program tersebut. Mahasiswa KKN dari Jurusan Teknologi Rekayasa Konstruksi Perkapalan, Kiki, menjelaskan bahwa rambu dipasang di sejumlah titik strategis yang mengarah menuju area aman.
“Pemasangan tanda jalur evakuasi dan rambu titik kumpul dilakukan agar seluruh warga sekolah memiliki informasi yang jelas mengenai arah evakuasi dan lokasi berkumpul yang aman,” kata Kiki.
Tidak hanya memasang rambu, mahasiswa KKN juga menempatkan poster edukasi di setiap ruang kelas. Media visual tersebut dirancang dengan bahasa sederhana dan ilustrasi yang mudah dipahami anak-anak.
Mahasiswa KKN dari Jurusan Matematika, Evana, mengatakan media visual dipilih sebagai sarana pembelajaran berkelanjutan agar siswa dapat mengingat kembali langkah-langkah penyelamatan meski kegiatan simulasi telah selesai.
“Poster ini dibuat dengan bahasa dan ilustrasi sederhana supaya siswa lebih mudah mengingat langkah-langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” ungkap Evana.
Melalui kegiatan tersebut, SDN 03 Pendowo kini memiliki alur evakuasi yang lebih tertata, rambu jalur keselamatan, titik kumpul yang jelas, serta media edukasi mitigasi bencana di ruang kelas.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan simulasi, tetapi menjadi langkah awal dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah. Dengan edukasi sejak sekolah dasar, siswa diharapkan mampu menghadapi situasi darurat dengan lebih tenang, cepat, dan terarah.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi