Demak, JatengNews.id— Sekitar 150 siswa SDN 2 Sarimulyo mengikuti sosialisasi pencegahan bullying yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 150 pada Jumat (7/8/2026).
Mengusung tema “Jadi Teman, Bukan Lawan”, kegiatan tersebut memberikan edukasi kepada siswa untuk mengenali bentuk-bentuk bullying sekaligus membangun keberanian untuk mencegah dan melaporkan perundungan.
Sosialisasi ini digelar karena masih terdapat siswa yang belum sepenuhnya memahami perbedaan antara candaan dan tindakan bullying. Perilaku seperti mengejek, mengucilkan, mendorong, atau memberikan julukan tertentu terkadang dianggap sebagai gurauan, padahal dapat membuat orang lain merasa sakit, takut, malu, maupun tidak nyaman.
Koordinator Desa (Kordes) KKN UIN Walisongo Semarang Posko 150, Fauzan Hasbi Aqil, bersama mahasiswa KKN lainnya terlibat dalam pelaksanaan kegiatan yang diikuti seluruh siswa SDN 2 Sarimulyo.
Ketua pelaksana, M. Ilham Nadir, menjelaskan bahwa materi dirancang dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Edukasi disampaikan melalui pemutaran cuplikan video dan presentasi menggunakan PowerPoint agar siswa lebih mudah memahami contoh perilaku bullying dalam lingkungan pertemanan.
Melalui tayangan video, siswa diajak mengidentifikasi berbagai situasi yang mungkin mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa kemudian menjelaskan pengertian bullying serta cara membedakan candaan yang wajar dengan perilaku yang berpotensi menyakiti orang lain.
Materi mencakup empat bentuk bullying, yakni bullying fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying. Bullying fisik dapat berupa memukul, mendorong, menjambak, atau menendang. Sementara itu, bullying verbal meliputi tindakan mengejek, menghina, atau memberikan sebutan yang merendahkan kepada teman.
Siswa juga dikenalkan dengan bullying sosial, seperti mengucilkan teman, sengaja tidak mengajak seseorang bermain, hingga menyebarkan gosip. Adapun cyberbullying dapat terjadi melalui pesan, komentar di media sosial, maupun interaksi dalam permainan daring.
Dikaitkan dengan Nilai-Nilai Islam
Selain membahas bullying dari perspektif sosial, mahasiswa KKN mengaitkan materi dengan nilai-nilai Islam. Siswa diajak memahami bahwa tindakan menyakiti atau mengambil hak orang lain merupakan perilaku yang tidak dibenarkan dan dapat dikaitkan dengan perbuatan zalim.
Pesan tersebut diperkuat dengan hadis Nabi Muhammad SAW mengenai pentingnya mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri. Siswa diajak menerapkan prinsip sederhana dalam pertemanan: jika tidak ingin dijambak, diejek, atau disakiti, maka tidak seharusnya melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Mahasiswa juga menyampaikan kisah Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kisah tersebut digunakan sebagai teladan mengenai pentingnya menahan diri dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Setelah penyampaian materi, siswa diberi kesempatan untuk bercerita mengenai pengalaman mereka. Sesi tersebut bertujuan membangun keberanian siswa untuk berbicara apabila pernah menjadi korban bullying, menyaksikan perundungan terhadap teman, maupun menyadari pernah melakukan tindakan yang termasuk bullying.
Dorong Siswa Menjadi Upstander
Mahasiswa KKN juga mengajak siswa untuk tidak diam ketika melihat tindakan bullying. Siswa yang menyaksikan perundungan diharapkan dapat menjadi upstander, yakni orang yang berani mengambil tindakan untuk membantu korban.
Bentuk tindakan yang dapat dilakukan antara lain mendekati korban, mengajaknya bermain, tidak ikut menertawakan, serta mendorong korban untuk meminta bantuan kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.
Dalam menghadapi bullying, siswa juga diarahkan untuk tidak membalas dengan kekerasan. Mereka diajarkan bersikap tegas dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak disukai, kemudian mencari bantuan kepada guru, orang tua, atau pihak yang dipercaya.
Mahasiswa menekankan bahwa melaporkan bullying bukanlah tindakan mengadu, melainkan bentuk keberanian untuk mencari pertolongan dan mencegah perundungan agar tidak berlanjut.
Pihak SDN 2 Sarimulyo menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Sekolah juga memberikan masukan agar materi pencegahan bullying ke depan dapat diperkaya dengan kisah-kisah dalam Islam sehingga siswa semakin mudah memahami nilai anti-bullying melalui teladan yang dekat dengan pembelajaran agama.
Melalui kegiatan “Jadi Teman, Bukan Lawan”, mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 150 berharap siswa SDN 2 Sarimulyo semakin mampu mengenali bullying, berani berbicara ketika mengalami perundungan, serta memiliki kepedulian untuk membantu teman yang menjadi korban.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan positif dengan membangun kebiasaan sederhana: tidak menyakiti, berani menolong, dan memilih menjadi teman, bukan lawan.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 150
Editor: R. D. Pramesti