Demak, JatengNews.id— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 108 turut mengenalkan Pasar Ngabei di RT 03 RW 04 Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, sebagai ruang pemberdayaan masyarakat yang memadukan pelestarian makanan tradisional dengan kepedulian terhadap lingkungan, Minggu (9/08/2026).
Pasar yang digelar secara rutin setiap bulan tersebut mengusung slogan “Belanja Asik, Tanpa Sampah Plastik.”
Pasar Ngabei menjadi salah satu potensi lokal yang mendapat perhatian mahasiswa KKN Posko 108 karena tidak hanya menawarkan jajanan tradisional, tetapi juga menerapkan konsep transaksi dan penyajian makanan yang ramah lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, pengunjung tidak menggunakan uang rupiah secara langsung untuk bertransaksi. Uang ditukarkan terlebih dahulu dengan koin khusus yang dibuat dari kertas koran. Koin tersebut dibuat dengan cara menggulung dan memotong kertas koran, kemudian dilapisi plitur agar lebih tahan lama. Tersedia tiga nominal koin, yakni Rp2.000, Rp5.000, dan Rp10.000.
Konsep pengurangan sampah plastik juga diterapkan dalam penyajian makanan. Para penjual menggunakan daun pisang sebagai wadah dan suruh sebagai sendok. Pengunjung juga diperbolehkan membawa wadah sendiri dari rumah.

Beragam makanan dan minuman tradisional tersedia di Pasar Ngabei, mulai dari nasi jagung, nasi kuning, lontong sayur, nasi pecel, getuk, kolak, hingga jamu tradisional. Harga makanan yang ditawarkan cukup terjangkau, yakni mulai Rp1.000 hingga Rp10.000.
Berawal dari Gerakan Bank Sampah
Pasar Ngabei tumbuh dari gerakan Bank Sampah di Desa Jogoloyo. Pada pelaksanaan kali ini, sekitar 20 anggota Bank Sampah turut berjualan dengan membawa berbagai produk makanan olahan warga lokal.
Keberadaan pasar tersebut menjadi ruang pertemuan antara upaya menjaga lingkungan, melestarikan kuliner tradisional, dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Konsep tersebut juga sejalan dengan tujuan awal Pasar Ngabei yang sejak kemunculannya mengangkat budaya lokal dan kebiasaan berbelanja tanpa sampah plastik.
Minatul Uza, salah satu anggota Bank Sampah yang rutin berjualan, mengatakan Pasar Ngabei pada awalnya digelar dengan fasilitas sederhana.
“Pasar Ngabei sudah berjalan 1 tahun mau 2 tahun ini, Mbak, di bulan Oktober nanti. Awale toh, Mbak, kita buat teratak (tenda) di depan mushola, jadi tiap sore buat, besoknya usung-usung sendiri,” ujarnya.
Dari tenda sederhana tersebut, Pasar Ngabei terus berkembang dan mendapat sambutan masyarakat. Minatul berharap keberadaan pasar dapat semakin dikenal dan berkembang.
“Semoga Pasar Ngabei tambah maju, sukses dan banyak yang tahu ya, Mbak,” harapnya.
Pertahankan Lokasi karena Dekat dengan Masyarakat
Pemerintah Desa Jogoloyo turut memberikan dukungan dengan menawarkan lokasi yang lebih luas untuk Pasar Ngabei. Namun, anggota Bank Sampah memilih mempertahankan lokasi saat ini karena dinilai lebih dekat dengan masyarakat dan anggota Bank Sampah yang terlibat dalam kegiatan.
Lokasi pasar memang memiliki sejumlah keterbatasan, salah satunya kondisi yang cukup panas karena belum tersedia tempat yang teduh. Para penjual harus menggunakan payung secara mandiri ketika berjualan.
Khirotun, salah satu anggota Bank Sampah, mengatakan lokasi yang lebih nyaman sebenarnya telah disiapkan di kawasan dekat jalan lingkar. Namun, lokasi tersebut dianggap terlalu jauh sehingga dikhawatirkan membuat jumlah pembeli berkurang.
“Kalau di sini itu, Mbak, minusnya panas, nggak ada tempatnya jadi harus pasang payung sendiri-sendiri. Kalau di Dongkol itu kan tempatnya enak, Mbak, rindang, jadi yang beli adem. Sebelumnya juga sudah disiapkan tempat sama Pak Kades di dekat jalan lingkar, tapi takut nggak ada yang beli soalnya jauh, jadi tetap di sini,” jelasnya.
Bagi anggota Bank Sampah, kedekatan dengan masyarakat menjadi pertimbangan penting dalam mempertahankan lokasi Pasar Ngabei. Keberadaan pasar tidak hanya ditujukan sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang interaksi warga dan wadah untuk memperkenalkan produk lokal.
KKN UIN Walisongo Dorong Potensi Lokal
Melalui keterlibatan dalam mengenalkan Pasar Ngabei, mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 108 turut mengangkat potensi masyarakat Desa Jogoloyo yang memadukan aspek lingkungan, ekonomi, dan budaya lokal.
Pasar Ngabei menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan upaya mengurangi sampah plastik. Penggunaan koin berbahan koran, wadah daun pisang, serta pilihan membawa tempat makan sendiri menjadi bagian dari kebiasaan ramah lingkungan yang dibangun melalui kegiatan pasar.
Di sisi lain, keberadaan nasi jagung, getuk, kolak, jamu tradisional, dan berbagai jajanan lokal memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan makanan tradisional agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Melalui Pasar Ngabei, KKN UIN Walisongo Semarang Posko 108 berharap potensi lokal Desa Jogoloyo semakin dikenal sekaligus mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan kegiatan yang mendukung ekonomi warga, pelestarian kuliner tradisional, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 108
Editor: R. D. Pramesti