
Semarang, JatengNews.id- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) ke-22 UIN Walisongo Semarang melakukan pengambilan data lokasi sebagai bagian dari penyusunan peta mitigasi bencana di Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Kamis (13/8/2026).
Pengambilan data tersebut merupakan tahapan lanjutan dalam program mitigasi bencana yang dilakukan mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 6.
Kegiatan dilaksanakan dengan berkolaborasi bersama Program Studi Fisika UIN Walisongo Semarang yang menyediakan alat pemantauan kondisi tanah serta pendamping teknis di lapangan.
Tim pendamping lapangan, Ulil Albab, mengatakan pengambilan data menggunakan dua metode geolistrik, yakni Schlumberger dan Dipole-Dipole. Penggunaan kedua metode tersebut disesuaikan dengan karakteristik lokasi dan tujuan pengambilan data.
“Dalam pengambilan data kali ini, kami menggunakan dua metode geolistrik Schlumberger dan Dipole-Dipole,” katanya.
Ulil menjelaskan metode Schlumberger digunakan untuk membantu mengetahui struktur tanah di sekitar lokasi. Sementara itu, pemilihan metode pengukuran disesuaikan dengan kebutuhan identifikasi pada masing-masing titik.
“Kami menggunakan Schlumberger karena untuk memahami struktur tanah di sekitar lokasi,” jelasnya.
Menurut Ulil, pengambilan data dilakukan untuk mengetahui potensi bencana yang berbeda di sejumlah titik. Salah satu lokasi ditujukan untuk mengidentifikasi potensi longsor, sedangkan lokasi lainnya berkaitan dengan potensi banjir.
“Di lokasi pertama kami ingin mengetahui potensi longsor dan banjir di lokasi yang kedua,” katanya.
Metode Disesuaikan dengan Kondisi Lapangan
Pengambilan data dilakukan pada beberapa lokasi dengan karakteristik wilayah yang berbeda. Dua lokasi berada di area perbukitan, sedangkan lokasi lainnya merupakan daerah dataran rendah.
Perbedaan kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan metode dan teknik pengambilan data. Dari tiga lokasi yang direncanakan, terdapat satu lokasi yang tidak menggunakan alat geolistrik karena kondisi medan dinilai kurang memungkinkan untuk dilakukan pengukuran.
“Di lokasi yang kedua, kami tidak menggunakan alat karena medan cenderung susah dicek dengan geolistrik,” jelas Ulil.
Ia juga menjelaskan bahwa hasil pemantauan koordinat yang disesuaikan dengan peta geologi menunjukkan adanya kesamaan struktur tanah pada dua lokasi. Dengan pertimbangan tersebut, pengambilan data geolistrik dinilai cukup dilakukan pada salah satu lokasi yang memiliki karakteristik serupa.
“Di lokasi kedua, kami hanya mempresisikan koordinat lokasi dengan peta geologi. Karena memang dari hasil pemantauan memperlihatkan kesamaan struktur tanah,” sambungnya.
Dalam proses pengambilan data, tim juga menghadapi kendala teknis. Salah satunya terdapat pada lokasi yang permukaannya didominasi beton sehingga menyulitkan pemasangan dan pembentangan kabel elektroda yang membutuhkan kontak dengan tanah.
“Pengambilan data sempat ada kendala teknis di lokasi kedua. Permukaan tanah yang didominasi beton, membuat bentangan kabel terhalang,” ucapnya.
Data Geolistrik Akan Diolah Menjadi Peta Mitigasi
Koordinator Program Mitigasi Bencana, Yola, mengapresiasi keterlibatan tim pendamping, Ulil Albab dan Hamid, yang membantu mahasiswa dalam proses pengambilan data di lapangan.
“Saya bersyukur karena adanya bantuan dari kakak tingkat yang kebetulan mendalami geofisika. Kehadiran mereka membantu kami ketika pengambilan data di lokasi,” katanya.
Menurut Yola, pengambilan data menjadi bagian penting dalam rangkaian program mitigasi bencana di Desa Leyangan. Sebelumnya, mahasiswa KKN telah melakukan survei terhadap sejumlah lokasi yang dinilai memiliki potensi bencana.
Data yang telah diperoleh dari lapangan selanjutnya akan dianalisis untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi bawah permukaan tanah. Hasil analisis tersebut kemudian akan divisualisasikan dalam bentuk peta mitigasi bencana.
“Dari hasil pengambilan data yang telah dilakukan, kami akan menganalisa dan setelahnya digambarkan melalui visual peta mitigasi bencana,” jelasnya.
Penyusunan peta mitigasi bencana diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi wilayah dan potensi risiko bencana di Desa Leyangan. Informasi tersebut nantinya dapat menjadi salah satu bahan pendukung bagi masyarakat dalam mengenali potensi bencana di lingkungan sekitar.
Ulil berharap seluruh rangkaian pengambilan dan pengolahan data dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Leyangan.
“Dari seluruh rangkaian pengambilan data ini, besar harapan saya untuk dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” tutupnya.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang berupaya memanfaatkan keilmuan Fisika dan data lapangan untuk mendukung penyusunan peta mitigasi bencana.
Hasil akhir program diharapkan dapat menjadi informasi pendukung bagi masyarakat dalam meningkatkan pemahaman mengenai potensi risiko bencana di Desa Leyangan.
Penulis: Tim Mahasiswa Posko 6 UIN Walisongo
Editor: R. D. Pramesti