
SEMARANG, Jatengnews.id – Musim kemarau kembali membuat warga Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan, sebagian warga terpaksa membeli air tangki hingga mandi di masjid dan tempat kerja.
Salah seorang warga RT 3/RW 13 Perumahan Taman Beringin Elok, Aldi Rinaldi (42), mengatakan kebutuhan air sekitar 30-32 kepala keluarga selama ini mengandalkan sumur artetis. Namun, debit air menurun drastis setiap memasuki musim kemarau.
“Kalau mulai Agustus, September, Oktober, November, Desember itu pasti debitnya kecil. Ada beberapa yang keluar, tapi tidak mencukupi untuk satu RT,” ujar Aldi, Jumat (21/8/2026).
Kondisi tersebut membuat warga harus membeli air bersih. Satu tangki air dibanderol sekitar Rp280 ribu dan biasanya dibeli secara gotong royong menggunakan uang kas warga.
Bantuan air dari BPBD Kota Semarang juga mulai diterima warga. Namun, warga berharap distribusi dilakukan lebih rutin karena kebutuhan air berlangsung setiap hari.
“Kalau bisa bantuannya dua hari sekali. Kebutuhan kan setiap hari, kalau bantuan datang paling dua hari sudah habis,” katanya.
Krisis air juga membuat warga harus menghemat penggunaan air. Distribusi dari sumur artetis biasanya hanya dilakukan pagi dan sore, tetapi persediaan sering habis sebelum waktu pembagian berakhir.
“Selama hampir 14 tahun, setiap musim kering saya pasti mandi di masjid,” ungkap Aldi.
Warga lainnya, Maman (58), mengatakan kondisi serupa sudah terjadi bertahun-tahun. Saat air sulit diperoleh, sebagian warga bahkan memilih mandi di tempat kerja sebelum pulang ke rumah.
“Kalau waktu kekurangan air, anak-anak yang laki-laki kalau mau pulang kerja mandi di tempat kerja,” ujarnya.
Warga berharap jaringan PDAM segera menjangkau seluruh rumah di kawasan tersebut. Sebagian warga memang sudah mulai mendapatkan sambungan, namun pemasangannya belum merata.
Maman berharap perluasan jaringan PDAM dapat menjadi solusi permanen agar warga tidak lagi mengalami krisis air setiap musim kemarau.
Penulis : M Kamal
Editor : Jaka N