
Semarang, JatengNews.id– Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 18 turut mendukung peresmian Rumah Dilan (Rumah Pendidikan dan Keterampilan) di Dusun Wonoasri RT 03/RW 08, Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, pada Sabtu, (15/08/2026).
Rumah Dilan dihadirkan sebagai ruang belajar keterampilan sekaligus wadah pemanfaatan limbah kain yang banyak ditemukan di sekitar kawasan industri garmen.
Peresmian Rumah Dilan dihadiri sekitar 25 orang yang terdiri atas mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 18, perangkat desa, PKK, ketua RW, guru PAUD, serta sejumlah tamu undangan.
Kegiatan ditandai dengan pemotongan pita dan syukuran bubur merah putih.
Rumah Dilan digagas oleh Sutadji, pengrajin lokal Dusun Wonoasri yang telah menekuni kerajinan berbahan kain perca dan berbagai pernak-pernik sejak 2013. Rumah tersebut kemudian dibuka sebagai ruang belajar yang dapat dimanfaatkan berbagai kalangan untuk mengembangkan keterampilan sesuai minat dan kebutuhan masyarakat.
Menurut Sutadji, Rumah Dilan lahir dari keinginan untuk menyediakan ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat. Ia berharap tempat tersebut dapat menjadi wadah bagi warga untuk mengembangkan kreativitas melalui berbagai keterampilan.
“Rumah Dilan saya harapkan bisa bermanfaat dan menjadi ruang terbuka untuk seluruh masyarakat. Saya ingin menunjukkan bahwa keterampilan bisa mengubah sesuatu yang sederhana menjadi barang yang cantik,” ujar Sutadji.
Salah satu potensi yang ingin dikembangkan melalui Rumah Dilan adalah pemanfaatan limbah kain. Keberadaan sejumlah industri garmen di sekitar Desa Wonoyoso membuat kain perca cukup mudah ditemukan. Limbah tersebut kemudian dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai guna.
Selama lebih dari satu dekade menekuni kerajinan, Sutadji memilih tidak memasarkan produknya secara daring. Ia lebih banyak menerima pesanan seperti suvenir karena mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia dalam memenuhi permintaan apabila pemasaran dilakukan dalam skala yang lebih luas.
Rumah Dilan tidak hanya diperuntukkan bagi kegiatan kerajinan berbahan kain perca. Masyarakat nantinya dapat memanfaatkannya sebagai tempat belajar memasak maupun keterampilan lainnya sesuai kebutuhan dan minat.
Sutadji juga berkomitmen agar Rumah Dilan tetap berjalan setelah masa KKN berakhir. Keberlanjutan ruang belajar tersebut akan didukung melalui pembentukan kepengurusan yang melibatkan pemuda dan pemudi setempat.
Istri Kepala Desa Wonoyoso, Endang Komariyah, turut menyampaikan harapan terhadap keberadaan Rumah Dilan. Ia berharap ruang belajar tersebut dapat berkembang melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan sehingga keterampilan dapat dikenalkan kepada masyarakat sejak usia dini.
“Saya berharap Rumah Dilan bisa bekerja sama dengan instansi pendidikan agar anak-anak bisa belajar keterampilan sejak usia dini,” ungkap Endang.
Dalam peresmian tersebut, mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Posko 18 juga terlibat dalam kegiatan praktik. Setelah seremoni pembukaan, mahasiswa mengikuti pelatihan membuat bros berbahan kain perca yang dipandu langsung oleh Sutadji.
Setiap peserta mendapat kesempatan membawa pulang hasil kerajinan yang dibuat selama praktik. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk mengenal proses pemanfaatan limbah kain menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Koordinator Divisi Ekonomi dan Kreatif KKN Posko 18, Luthfi Yahya Yuniardi, mengatakan mahasiswa KKN turut membantu memperkenalkan Rumah Dilan kepada masyarakat agar keberadaannya dapat diketahui dan dimanfaatkan lebih luas.
“Kami berharap dengan peresmian Rumah Dilan ini masyarakat bisa lebih mengenal dan tertarik. Kami juga membantu menyebarluaskan informasi mengenai Rumah Dilan agar semakin banyak masyarakat yang mau berkontribusi,” ujar Luthfi.
Keberadaan Rumah Dilan menjadi salah satu upaya memanfaatkan potensi lokal melalui keterampilan dan kreativitas masyarakat. Berawal dari rumah seorang pengrajin dan bahan sederhana seperti kain perca, Rumah Dilan diharapkan berkembang menjadi ruang belajar yang mendorong masyarakat Wonoyoso untuk belajar, berkarya, serta mengembangkan potensi secara berkelanjutan.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Posko 18
Editor: R. D. Pramesti