Beranda Daerah KKN Undip Aktifkan Kembali Bank Sampah Wanarejan Selatan, Hasil Penjualan Dukung Kas...

KKN Undip Aktifkan Kembali Bank Sampah Wanarejan Selatan, Hasil Penjualan Dukung Kas Posyandu

Pemahaman peserta kemudian dievaluasi melalui permainan. Hasil evaluasi menunjukkan peserta telah memiliki pengetahuan yang cukup baik sebagai bekal untuk mulai menerapkan pemilahan dan pengelolaan sampah dari rumah.

Tim Kuliah Kerja Nyata Universitas Diponegoro mengaktifkan kembali Bank Sampah RW 07 melalui program multidisiplin “Pilot RW Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Wansel” di Kelurahan Wanarejan Selatan,
Tim Kuliah Kerja Nyata Universitas Diponegoro mengaktifkan kembali Bank Sampah RW 07 melalui program multidisiplin “Pilot RW Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Wansel” di Kelurahan Wanarejan Selatan. (Foto : Dok KKN)

PEMALANG, Jatengnews.id — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Wanarejan Selatan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang.

Melalui program multidisiplin bertajuk “Pilot RW Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Wansel”, Tim KKN mengaktifkan kembali Bank Sampah RW 07 sekaligus mengedukasi warga mengenai pemilahan dan pemanfaatan sampah.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menghubungkan pengelolaan sampah dengan kesehatan, pemanfaatan limbah organik, hingga peluang ekonomi. Salah satu hasil nyata program ini adalah penjualan botol plastik yang kemudian dimasukkan ke dalam kas Posyandu RW 07.

Kegiatan diawali melalui rapat koordinasi bersama Ketua RW 07, para ketua RT, serta kader RW pada 23 Juli 2026. Dalam pertemuan tersebut, Tim KKN membahas dasar hukum pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus menyusun rencana pelaksanaan program di lingkungan RW 07.

Selanjutnya, pada 28 Juli 2026, mahasiswa memberikan edukasi mengenai risiko kesehatan akibat sampah dan pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga. Sebanyak 25 warga mengikuti kegiatan tersebut.

Materi disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami masyarakat. Pemahaman peserta kemudian dievaluasi melalui permainan. Hasil evaluasi menunjukkan peserta telah memiliki pengetahuan yang cukup baik sebagai bekal untuk mulai menerapkan pemilahan dan pengelolaan sampah dari rumah.

Untuk mendorong perubahan perilaku, Tim KKN juga menyerahkan dua unit prototipe penyangga tempat sampah rumah tangga. Prototipe tersebut dibuat menggunakan pipa PVC yang dinilai kuat, ekonomis, dan mudah diperoleh masyarakat.

Penyangga tersebut diharapkan dapat menjadi contoh sederhana yang bisa direplikasi warga untuk mendukung pemilahan sampah sejak dari sumbernya sebelum disetorkan ke Bank Sampah.

Tak hanya sampah anorganik, mahasiswa juga memperkenalkan pemanfaatan sampah organik. Pada 31 Juli 2026, warga mengikuti praktik pembuatan eco-enzyme.

Sebelum praktik, peserta diperkenalkan dengan budaya 5R, yakni ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin, yang diadaptasi dari konsep 5S Jepang. Warga kemudian diajak mengolah sampah organik rumah tangga menjadi eco-enzyme.

Dari praktik tersebut, peserta menghasilkan tiga botol eco-enzyme yang selanjutnya memasuki tahap fermentasi.

Pengelolaan sampah juga diarahkan agar memiliki nilai ekonomi. Pada 10 Agustus 2026, sebanyak 27 warga mendapatkan edukasi mengenai citra positif sampah serta strategi pemasaran produk hasil daur ulang dan eco-enzyme.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada potensi sampah yang tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai guna dan berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi rumah tangga.

Dampak program semakin terlihat melalui kembali berjalannya Bank Sampah RW 07. Pengelolaan awal dilakukan oleh Tim KKN Undip pada 3–7 Agustus 2026. Setelah itu, pengelolaan dilanjutkan secara mandiri oleh kader RW 07 mulai 10 Agustus 2026.

Hasilnya, sebanyak 15 kilogram botol plastik berhasil dikumpulkan dan dijual ke depot rongsok di wilayah RW 01 pada 13 Agustus 2026. Dari penjualan tersebut diperoleh Rp33.000.

Seluruh hasil penjualan kemudian dimasukkan ke kas Posyandu RW 07. Langkah ini membuat kegiatan pengelolaan sampah memiliki manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung kegiatan pelayanan Posyandu.

Ketua RW 07 Wawan mengatakan, edukasi yang diberikan mahasiswa KKN mulai mendorong perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah.

“Jelas ada. Setelah mahasiswa KKN memberi paparan-paparan dampak negatif dan positif sampah, warga RW 07 sedikit demi sedikit mengikuti arahan mahasiswa KKN,” ujar Wawan.

Perubahan serupa juga dirasakan Ketua PKK RW 07 Henny Windi. Menurutnya, warga mulai terbiasa menyimpan botol plastik bekas untuk kemudian disetorkan kepada pengelola bank sampah.

“Biasanya botol-botol bekas dibuang, sekarang disimpan dan setiap hari ke sini, saat MBG, mereka bawa botol satu, bawa botol satu. Untuk eco-enzyme, mereka juga ada yang belajar membuat karena manfaatnya ada untuk kita sehari-hari, khususnya bagi ibu rumah tangga, dan bahan-bahannya mudah dicari,” kata Henny.

Program KKN Undip tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah di RW 07. Keberlanjutan program kini berada di tangan masyarakat melalui peran aktif kader dan warga.

Konsistensi dalam memilah sampah sejak dari rumah, menyetorkan botol dalam kondisi bersih, serta keterlibatan seluruh RT menjadi faktor penting agar Bank Sampah RW 07 dapat terus berjalan.

Dengan demikian, sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan dapat diubah menjadi sumber manfaat bagi masyarakat, termasuk mendukung kegiatan Posyandu di lingkungan RW 07 Kelurahan Wanarejan Selatan.





Penulis  : Tim Mahasiswa KKN

Editor    : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version