
SEMARANG, Jatengnews.id — Akses literasi yang inklusif kembali hadir di tengah masyarakat. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 2 Universitas Diponegoro (Undip) resmi meluncurkan Pojok Baca Sriekandi Patra pada Senin (3/8/2026).
Peluncuran yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut menjadi langkah baru bagi Komunitas Sriekandi Patra untuk berkembang bukan hanya sebagai ruang membatik, tetapi juga sebagai tempat belajar, berkarya, berkumpul, dan berdaya yang terbuka bagi berbagai kalangan, termasuk penyandang disabilitas.
Sebanyak 21 orang menghadiri kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas ibu-ibu pengurus PKK, pengurus Komunitas Sriekandi Patra, Sekretaris Desa Rendy, serta dua pembatik Sriekandi Patra, Ririn dan Sri.
Suasana hangat terasa sejak awal kegiatan. Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Kelompok KKN, Minan Faiz, menjelaskan bahwa Pojok Baca Sriekandi Patra dirancang untuk meningkatkan daya tarik komunitas sekaligus menumbuhkan minat baca mengenai isu inklusivitas.
“Kami menyusun program ini dengan harapan dapat menarik lebih banyak pengunjung ke Sriekandi Patra, juga meningkatkan minat baca terkait inklusivitas tidak hanya untuk anggota atau pengurus Sriekandi Patra, melainkan juga para pengunjung,” ujar Minan dalam sambutannya.
Apresiasi juga disampaikan Rendy selaku Sekretaris Desa. Ia menyambut baik inisiatif mahasiswa KKN yang menghadirkan ruang literasi baru dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
Ruang Literasi Ramah Difabel
Konsep Pojok Baca Sriekandi Patra kemudian diperkenalkan kepada para tamu. Adya, mahasiswa Arsitektur yang terlibat dalam perancangan ruang tersebut, menjelaskan bahwa pojok baca tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga dirancang sebagai frontage atau wajah depan Komunitas Sriekandi Patra.
Ruang tersebut dilengkapi dengan koleksi buku, etalase produk batik, dinding yang memuat sejarah komunitas, profil anggota, informasi tahapan membatik, hingga infografis mengenai Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang dibuat Putri.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang yang lebih ramah difabel sekaligus memperkenalkan aktivitas Komunitas Sriekandi Patra kepada pengunjung secara lebih interaktif.
Minan Faiz turut berkontribusi melalui program penguatan literasi inklusif. Program tersebut mencakup pengadaan koleksi bacaan hingga penyusunan sistem manajemen koleksi sederhana sehingga pengelola dapat mencatat dan memperbarui koleksi secara mandiri serta berkelanjutan.
Tak hanya menghadirkan buku fisik, Pojok Baca Sriekandi Patra juga memanfaatkan teknologi digital untuk memperkaya pengalaman pengunjung.
Tiga infografis menjadi bagian utama dari materi literasi yang diperkenalkan. Anne menghadirkan “Kilas Balik Sriekandi Patra”, berupa linimasa sejarah komunitas yang dapat diakses lebih lanjut melalui e-book menggunakan kode QR.
Sementara itu, Ardel menghadirkan “Knowledge Woven into Batik: The Lives Behind the Lines”, yang mengangkat kisah dan sosok para pembatik yang selama ini belum banyak tersorot.
Allya melengkapi program tersebut melalui e-guide book dan audiobook berbasis kode QR. Materi itu dirancang untuk membantu pengunjung memahami proses membatik secara lebih interaktif.
Literasi Diperkuat dengan Edukasi Komunitas
Pojok Baca Sriekandi Patra juga diperkuat berbagai materi edukasi yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari komunitas.
Salah satunya adalah sistem umpan balik digital berbasis QR Code yang memungkinkan pengunjung menyampaikan pendapat, saran, maupun masukan secara langsung kepada pengelola.
Mahasiswa juga menghadirkan poster edukasi mengenai pemilahan sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3). Edukasi tersebut diharapkan dapat mendorong kebiasaan memilah sampah di lingkungan komunitas.
Di sisi lain, terdapat poster panduan pengelolaan keuangan bertajuk “Mbatik Rapi, Kas Berseri”. Materi ini ditujukan untuk membantu komunitas melakukan pencatatan kas usaha secara lebih tertib.
Budaya kerja 5R juga diperkenalkan melalui poster edukasi agar ruang membatik tetap aman, rapi, dan nyaman digunakan oleh anggota maupun pengunjung.
Ruang Bersama untuk Belajar dan Berkarya
Peresmian Pojok Baca Sriekandi Patra berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Kemeriahan kegiatan ditandai dengan prosesi potong tumpeng dan makan bersama antara mahasiswa KKN dan warga.
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan plakat peresmian dari Minan Faiz kepada Bu Fatimah, dilanjutkan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta.
Bu Fatimah berharap keberadaan Pojok Baca Sriekandi Patra dapat membuat komunitas semakin terbuka bagi masyarakat.
“Harapan saya semoga di Sriekandi Patra ini tidak hanya tempat membatik saja, tetapi juga tempat berkumpulnya masyarakat atau siapa saja yang berkunjung bisa memanfaatkan apa yang ada di pojok baca Sriekandi Patra ini,” tuturnya.
Kehadiran Pojok Baca Sriekandi Patra menjadi bukti bahwa ruang literasi dapat tumbuh dari lingkungan komunitas dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Lebih dari sekadar tempat menyimpan dan membaca buku, ruang ini diharapkan menjadi titik temu bagi masyarakat untuk mengenal batik, memahami nilai inklusivitas, belajar bersama, serta mendorong Komunitas Sriekandi Patra menjadi ruang pemberdayaan yang semakin terbuka bagi semua kalangan.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi