Beranda Daerah Manfaatkan Kulit Jagung, KKN UIN Walisongo Latih Ibu PKK Bangunsari Bikin Bunga...

Manfaatkan Kulit Jagung, KKN UIN Walisongo Latih Ibu PKK Bangunsari Bikin Bunga Hias

pembuatan bunga hias dari kulit jagung kkn uin ws
Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 186 mendampingi ibu-ibu PKK Desa Bangunsari saat mempraktikkan pembuatan bunga hias dari kulit jagung di Balai Desa Bangunsari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Sabtu (15/8/2026) (Foto: Dok KKN).

Subtitle: Sebanyak 17 ibu PKK Desa Bangunsari belajar mengolah kulit jagung menjadi bunga hias sebagai upaya mengurangi limbah pertanian sekaligus membuka peluang usaha.

KENDAL – Sebanyak 17 ibu-ibu PKK Desa Bangunsari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, mengikuti pelatihan pemanfaatan kulit jagung menjadi bunga hias yang memiliki nilai estetika dan potensi jual. Kegiatan tersebut digelar mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 186 di Balai Desa Bangunsari, Sabtu (15/8/2026).

Pelatihan yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut mengajak peserta memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini banyak ditemukan di lingkungan Desa Bangunsari. Selain mengurangi limbah, kulit jagung diolah menjadi produk kerajinan yang berpotensi dikembangkan sebagai peluang usaha tambahan.

Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua PKK Desa Bangunsari, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai pemanfaatan kulit jagung sebagai bahan dasar kerajinan. Mahasiswa KKN yang menjadi pemateri sebelumnya telah berlatih membuat bunga dari kulit jagung sehingga dapat memberikan contoh sekaligus mendampingi peserta saat praktik.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada sejumlah tahapan pengolahan kulit jagung. Kulit jagung terlebih dahulu direndam, kemudian dimasak menggunakan pewarna makanan untuk menghasilkan warna sesuai kebutuhan.

Setelah proses pewarnaan selesai, kulit jagung dijemur hingga kering. Bahan kemudian disetrika agar permukaannya lebih rapi dan mudah dibentuk menjadi bagian-bagian bunga.

Setelah bahan siap, ibu-ibu PKK langsung mempraktikkan pembuatan bunga hias. Dengan pendampingan mahasiswa KKN, peserta mulai membentuk dan merangkai kulit jagung mengikuti contoh yang diberikan.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga mencoba secara langsung setiap tahapan pembuatan bunga hias sehingga lebih memahami proses pengolahan kulit jagung menjadi kerajinan.

Salah satu mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 186 sekaligus narasumber kegiatan, Diyan Kholilulloh, mengatakan pemanfaatan kulit jagung diharapkan dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi limbah pertanian di Desa Bangunsari.

“Harapannya ini bisa menjadi salah satu langkah memanfaatkan limbah jagung yang terbuang percuma, karena di sini rata-rata masyarakat kan petani jagung, jadi kulit jagung itu mudah didapat,” ujarnya.

Desa Bangunsari merupakan wilayah yang sebagian masyarakatnya bekerja sebagai petani jagung. Kondisi tersebut membuat kulit jagung relatif mudah ditemukan. Namun, limbah tersebut selama ini masih banyak yang dibuang dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 186 berupaya mendorong masyarakat untuk melihat limbah pertanian dari sisi yang berbeda. Kulit jagung yang sebelumnya dianggap tidak terpakai dapat diolah menjadi produk kerajinan dengan nilai estetika sekaligus berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi ibu-ibu PKK untuk meningkatkan kreativitas dan keterampilan. Keterampilan membuat bunga hias dari kulit jagung diharapkan dapat dikembangkan secara mandiri setelah pelatihan selesai.

Ibu-ibu PKK juga dapat mengembangkan berbagai bentuk dan kreasi bunga sesuai kebutuhan. Produk tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai dekorasi maupun dikembangkan menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual.

Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 186 berharap pemanfaatan kulit jagung dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Bangunsari.

Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, limbah pertanian tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga berpeluang menjadi produk kreatif yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Penulis: Tim Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Posko 186
Editor: R. D. Pramesti

Exit mobile version