30 C
Semarang
, 31 Januari 2026
spot_img

BNPB Sebut Banjir Semarang Terkendali, OMC Efektif tapi Tidak Efisien

OMC telah dilakukan selama 10 hari, sejak 25 Oktober hingga 3 November 2025.

SEMARANG, Jatengnews.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa banjir di Kota Semarang mulai terkendali setelah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan optimalisasi pompa di sejumlah titik strategis, termasuk kolam retensi.

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan, OMC telah dilakukan selama 10 hari, sejak 25 Oktober hingga 3 November 2025.

Baca juga: Kaligawe Mulai Kering, Gubernur Jateng dan Kepala BNPB Tinjau Penanganan Banjir Semarang

“Sekarang ada dua pesawat yang beroperasi. Dari hasil rapat, OMC akan dilanjutkan tiga hari lagi. Setelah itu, kalau hujan sudah berkurang dan banjir terkendali, satu pesawat akan kita tarik,” ujar Suharyanto saat meninjau banjir Semarang, Senin (3/11/2025).

Suharyanto menjelaskan, OMC merupakan langkah mitigasi sementara untuk menekan curah hujan ekstrem, meski biayanya dinilai cukup besar.

“OMC ini efektif karena hujan bisa dikendalikan, tapi tidak murah dan tidak efisien. Biayanya lumayan besar,” ungkapnya.

Menurutnya, pelaksanaan OMC dilakukan dengan penyemaian awan menggunakan Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO) melalui dua pesawat yang berpangkalan di Semarang dan Solo.

“Kalau kondisi di sini sudah stabil, pesawat akan kita geser ke Jawa Barat atau DKI, karena di sana juga mulai hujan dan berpotensi banjir,” jelasnya.

Suharyanto menuturkan, biaya pelaksanaan OMC bisa mencapai sekitar Rp200 juta, tergantung durasi penerbangan dan bahan kimia yang digunakan.

“Tergantung jam terbang dan jumlah garamnya, ya sekitar Rp200 juta. Memang besar, tapi kalau banjir terjadi lagi, kerugiannya jauh lebih besar,” ujarnya.

Baca juga: Semarang Banjir Rendam Pantura Kaligawe

Pihaknya menegaskan, penanganan banjir tidak boleh hanya bergantung pada OMC, melainkan juga membutuhkan sistem pengendalian daratan yang tangguh terhadap curah hujan tinggi.

“Kita tidak boleh bergantung pada OMC saja. Hujan itu anugerah, ada masyarakat lain yang justru membutuhkannya. Yang penting, daratan harus tangguh agar mampu menghadapi hujan besar,” pungkasnya.(02)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN