Kisah Nelayan Perempuan Demak Bertahan di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem

Saya lulusan SD, tidak bisa kerja di darat. Keahlian saya hanya melaut,

SEMARANG, Jatengnews.id — Nur Rikhah (34), nelayan perempuan asal Tambak Polo, Bonang, Demak, tak kuasa menahan air mata saat menceritakan beratnya bertahan hidup sebagai nelayan tradisional.

“Saya lulusan SD, tidak bisa kerja di darat. Keahlian saya hanya melaut,” ujarnya saat ditemui di Kampus II Unika Soegijapranata BSB, Selasa (25/11/2025).

Baca juga : Foto Pesisir Jateng Terancam Tenggelam, Kiara Ajak Akademisi Turun Tangan

Selama 15 tahun, Nur melaut bersama suaminya. Kondisi ekonomi yang makin sulit membuat mereka kini tak sanggup lagi membayar anak buah kapal.

Setiap dini hari pukul 01.00 WIB mereka mulai berangkat untuk menjaring ikan, rajungan, atau hasil laut lain yang bisa dijual.

Tahun 2024 menjadi pengalaman paling menakutkan bagi Nur. Saat perjalanan pulang, langit yang awalnya cerah mendadak gelap, angin kencang muncul, dan gelombang tinggi menghantam perahu mereka.

“Untung perahu saya tidak terbalik. Alhamdulillah masih diberi umur panjang,” ucapnya dengan suara bergetar.

Hampir satu jam mereka terombang-ambing. Nur terus menangis sambil memegang jaring satu-satunya. Dua hari ia trauma, tetapi harus kembali melaut demi kebutuhan keluarga. “Kalau saya tidak melaut, anak makan apa,” katanya.

Ancaman tak berhenti di situ. Nur juga pernah hampir ditabrak kapal tongkang di perairan Tanjung Emas Semarang.

“Saya langsung ambil senter memberi kode. Kalau tidak kelihatan, mungkin tinggal nama saya dan suami,” tuturnya terbata-bata.

Yang paling ia takuti adalah meninggal di lautan dan meninggalkan anak-anaknya. “Saya terus teringat anak saya,” ujarnya sambil menangis.

Baca juga : 62 Tahun Wafat Mgr. Soegijapranata, Unika Soegijapranata Hidupkan Kembali Semangat Perjuangan dan Inklusivitas

Baginya, laut kini bukan lagi tempat mencari nafkah yang ramah bagi nelayan kecil. Karena itu ia berharap kedua anaknya, yang kini berusia 14 dan 23 tahun, tidak mengikuti jejaknya.

“Kalau bisa bekerja di darat saja. Berat kerja di laut,” pungkasnya.(02)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN