25 C
Semarang
, 19 Januari 2026
spot_img

Universitas Telogorejo Semarang Perkuat Riset Farmasi Lewat Pengadaan Alat TLC Rp 1,8 Milliar

TLC merupakan instrumen laboratorium penting yang digunakan untuk memisahkan, mengidentifikasi, serta menganalisis senyawa kimia baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

SEMARANG, Jatengnews.id – Universitas Telogorejo Semarang (UNTS) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dengan menghadirkan alat Thin Layer Chromatography (TLC) atau Kromatografi Lapis Tipis senilai hampir Rp 1,8 miliar untuk menunjang pembelajaran dan penelitian Program Studi S1 Farmasi.

Dosen S1 Farmasi Universitas Telogorejo, apt. Ranatri Puruhita, M.Farm, menjelaskan bahwa TLC yang didatangkan dari Jepang ini merupakan instrumen laboratorium penting yang digunakan untuk memisahkan, mengidentifikasi, serta menganalisis senyawa kimia baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

“TLC sangat dibutuhkan dalam analisis bahan obat dan bahan alam. Melalui alat ini, mahasiswa dapat mengidentifikasi senyawa aktif tertentu, misalnya senyawa antihipertensi seperti flavonoid, serta memastikan kandungan zat aktif dalam suatu sampel,” jelas Ranatri kepara wartawan, Jumat (9/1/2026).

Baca juga: Perkuat Praktek Mahasiswa, Universitas Telogorejo Semarang Hadirkan Nursing Anne Simulator Senilai 2 Miliar

Ia menerangkan, bahan alam biasanya mengandung berbagai jenis senyawa sehingga memerlukan metode analisis yang akurat. Dengan TLC, mahasiswa dapat memastikan apakah suatu sampel benar mengandung senyawa yang dituju sebelum dilanjutkan ke tahap penelitian berikutnya.

Selain identifikasi kualitatif, TLC juga berfungsi untuk analisis kuantitatif, yaitu menghitung kadar senyawa yang terdapat dalam suatu bahan. Setelah suatu senyawa ditemukan, misalnya flavonoid pada tumbuhan tertentu, kadar senyawa tersebut dapat dianalisis lebih lanjut menggunakan alat TLC.

Dalam proses analisis, sampel terlebih dahulu diekstraksi atau difraksinasi, kemudian ditotolkan pada plat TLC berbahan silika. Plat tersebut kemudian dianalisis menggunakan alat TLC. Sebelum tersedia fasilitas ini, mahasiswa melakukan analisis secara sederhana melalui proses elusi manual dan identifikasi titik senyawa menggunakan sinar ultraviolet (UV).

Hasil karya mahasiswa
Berbagai macam obat hasil dari mahasiswa Farmasi di Universitas Telogorejo Semarang. )(Foto: JN)

Ranatri menambahkan, alat TLC termasuk peralatan laboratorium yang mahal dengan harga sekitar Rp1,8 miliar per unit, sehingga tidak semua perguruan tinggi memiliki fasilitas ini. Oleh karena itu, keberadaan alat TLC di Universitas Telogorejo menjadi keunggulan tersendiri yang memperkuat daya saing kampus di bidang pendidikan farmasi.

“Keberadaan TLC memberikan manfaat besar dalam pembelajaran, khususnya dalam identifikasi awal senyawa yang nantinya dapat dikembangkan menjadi berbagai sediaan farmasi seperti krim, salep, maupun salep antibiotik,” imbuhnya.

Baca juga: STIKES Telogorejo Resmi Menjadi Universitas Telogorejo, Buka Prodi Sosio Humaniora

Lebih lanjut, alat ini juga mendukung kegiatan penelitian mahasiswa untuk praktikum, penyusunan skripsi, hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Bahkan, dalam beberapa kasus, mahasiswa mampu mengembangkan produk kewirausahaan yang berpotensi dipasarkan sesuai prosedur dan perizinan yang berlaku.

Melalui investasi fasilitas laboratorium modern ini, Universitas Telogorejo Semarang menegaskan keseriusannya dalam mencetak lulusan S1 Farmasi yang unggul, kompeten, dan berdaya saing, serta siap berkontribusi dalam pengembangan pelayanan dan industri kefarmasian di Indonesia. (01).

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN