SOLO, Jatengnews.id – Kehadiran Bajaj Maxride di Kota Solo disebut sebagai upaya menghadirkan alternatif moda transportasi yang inklusif dan saling melengkapi, seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat perkotaan.
General Manager Bajaj Maxride, Antonio Gratiano, menegaskan bahwa segmentasi layanan yang dihadirkan pihaknya berbeda dengan ojek online (ojol).
Baca juga: Maxride Mulai Beroperasi di Solo, Polisi dan Dishub Belum Terima Laporan Resmi
“Pelayanan kami lebih mengarah pada penggunaan kendaraan roda dua dan roda tiga (Bajaj) yang memiliki karakteristik tersendiri, baik dari sisi kapasitas, fungsi, maupun fleksibilitas,” ujar Antonio dalam siaran pers yang diterima Jatengnews.id, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan, Bajaj berperan sebagai kendaraan niaga dan operasional, bukan sekadar angkutan umum. Berdasarkan pengalaman operasional di Yogyakarta, banyak hotel, kawasan wisata, hingga area komersial yang memanfaatkan Bajaj sebagai shuttle tamu, transportasi internal, dan angkutan barang.
“Model ini relevan diterapkan di Solo yang memiliki banyak kawasan wisata, budaya, dan pusat aktivitas masyarakat,” katanya.
Antonio menegaskan kehadiran Bajaj Maxride di Solo tidak dimaksudkan untuk menggantikan moda transportasi yang telah ada. Menurutnya, ekosistem transportasi yang saling mendukung justru memberi lebih banyak pilihan mobilitas bagi masyarakat.
“Kami terbuka bagi driver ojol yang ingin bergabung menjadi pengemudi Bajaj. Kami ingin membuktikan bahwa Bajaj bukan moda transportasi eksklusif, melainkan inklusif dan siap bekerja sama,” tegasnya.
Baca juga: Max Auto dan Maxride Audiensi dengan Pokdarwis Desa Wisata di Kota Solo
Sementara itu, Regional Manager Central Java Bajaj Maxride, Bayu Subollah, menambahkan pihaknya juga terus membuka koordinasi dengan komunitas ojol di Kota Solo demi menjaga ketertiban dan keamanan operasional.
“Kami sudah berkoordinasi dengan beberapa komunitas ojol dan berencana menggelar kopdar bersama dalam waktu dekat,” pungkasnya.(02)



