30 C
Semarang
, 31 Januari 2026
spot_img

Gali Potensi Desa, KKN UIN Walisongo Kunjungi UMKM Emping Belinjo di Amongrogo

Mahasiswa mempelajari secara langsung proses produksi emping belinjo, mulai dari pengolahan bahan baku hingga tahap pengemasan produk.

Batang, JatengNews.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) ke-21 Posko 02 UIN Walisongo Semarang melakukan kunjungan ke UMKM emping belinjo di Desa Amongrogo, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Kamis (22/01/2026).

Kegiatan ini bertujuan untuk menggali dan mengembangkan potensi ekonomi lokal sekaligus memperkuat pemberdayaan UMKM di wilayah pedesaan.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mempelajari secara langsung proses produksi emping belinjo, mulai dari pengolahan bahan baku hingga tahap pengemasan produk.

Selain itu, mahasiswa juga menggali informasi terkait tantangan yang dihadapi pelaku usaha dalam menjalankan produksi sehari-hari.

Melalui dialog interaktif, mahasiswa dan pemilik UMKM membahas peluang pengembangan usaha serta strategi pemasaran yang berpotensi memperluas jangkauan pasar.

Salah satu mahasiswa Posko 02 KKN MIT menyampaikan bahwa keterlibatan langsung di lapangan memberikan pengalaman berharga untuk memahami dinamika usaha mikro di desa.

Mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan praktis, tetapi juga mampu mengidentifikasi peluang yang dapat dikembangkan selama program KKN berlangsung.

Ibu Nadiroh dan Mas Angga mengelola UMKM Emping Belinjo Putra Bima yang telah berdiri secara turun-temurun selama lebih dari 20 tahun.

Usaha ini berfokus pada produksi dan penjualan emping belinjo mentah secara offline, dengan bahan baku melinjo dari wilayah Banten.

Proses produksi emping melibatkan masyarakat sekitar, di mana setiap rumah tangga mampu mengolah sekitar 5–20 kg melinjo.

Melinjo yang telah dipipihkan disetorkan dalam kondisi setengah kering, kemudian dijemur kembali hingga siap dipasarkan.

Untuk varian produk, emping manis dibuat dengan mencelupkan emping setengah kering ke dalam air gula sebelum dijemur ulang.

Sementara itu, emping asin atau tawar dijual tanpa bumbu karena dipasarkan dalam bentuk mentah.

Emping manis umumnya diproduksi dalam ukuran besar, sedangkan emping tawar diproduksi dalam ukuran kecil.

Mas Bima, selaku penerus usaha menjelaskan, emping mentah dikemas dalam ukuran 1 kilogram dan 5 kilogram per kardus.

Harga emping melinjo mentah yaitu kisaran Rp75.000 per kilogram, baik untuk ukuran besar maupun kecil.

Pada momen hari raya, permintaan emping melinjo meningkat signifikan, terutama dari wilayah Bali, Semarang, dan Bogor.

Khusus pasar Bali, permintaan dapat mencapai hingga 4 ton per minggu karena emping digunakan untuk keperluan ibadah dan persembahan.

Pada periode tersebut, harga emping dapat meningkat hingga Rp120.000 per kilogram, sedangkan emping patahan dijual dengan harga lebih murah.

Distribusi produk dilakukan melalui jasa pengiriman paket hingga wilayah Denpasar dan Buleleng.

Namun, pelaku UMKM menyebutkan bahwa cuaca menjadi kendala utama karena proses pengeringan masih bergantung pada penjemuran alami.

Cuaca yang tidak menentu dapat memperlambat produksi dan membatasi jumlah pesanan demi menjaga kualitas produk.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MIT Posko 02 berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan UMKM di Dusun Padenokan, Desa Amongrogo.

UMKM Emping Belinjo Putra Bima memiliki potensi besar sebagai produk unggulan desa jika dikelola secara berkelanjutan dan didukung promosi yang optimal.

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN