26 C
Semarang
, 7 Februari 2026
spot_img

Mahasiswa KKN UNDIP Gelar Fitoremediasi Sederhana untuk Atasi Limbah Cair Pabrik Tahu di Desa Ketitangkidul

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keberadaan empat pabrik tahu skala industri rumah tangga yang masih aktif beroperasi di Desa Ketitangkidul.

Pekalongan, JatengNews.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar program fitoremediasi sederhana untuk mengatasi permasalahan bau limbah cair pabrik tahu di Desa Ketitangkidul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Selasa (28/01/2026).

Program ini menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam pengelolaan limbah organik berbasis lingkungan.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keberadaan empat pabrik tahu skala industri rumah tangga yang masih aktif beroperasi di Desa Ketitangkidul.

Aktivitas produksi tahu menghasilkan limbah cair dari proses pencucian, perendaman, dan pengolahan kedelai dengan kandungan bahan organik tinggi yang dibuang ke saluran air dan sungai sekitar desa, sehingga menimbulkan bau tidak sedap, terutama saat musim kemarau.

Pada musim kemarau, debit air sungai dan saluran irigasi desa menurun signifikan.

Kondisi tersebut menyebabkan limbah cair sulit terencerkan, mengendap, dan mengalami pembusukan yang memicu bau menyengat serta berpotensi menurunkan kualitas perairan dan mengganggu ekosistem air.

Sebagai solusi, mahasiswa KKN UNDIP menerapkan metode fitoremediasi, yaitu remediasi biologis yang memanfaatkan tanaman untuk menyerap zat pencemar.

Metode ini dipilih karena dinilai ramah lingkungan, berbiaya rendah, dan mudah diterapkan sesuai dengan kondisi desa.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN menggunakan tanaman air kayu apu (Pistia stratiotes) sebagai agen fitoremediasi.

Tanaman mengapung ini memiliki laju pertumbuhan cepat dan sistem perakaran yang mampu menyerap nutrien berlebih seperti nitrogen dan fosfor dari limbah organik.

Kandungan nutrien tinggi dalam limbah cair pabrik tahu berkontribusi terhadap tingginya nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang menjadi penyebab utama bau tidak sedap.

Melalui proses fitoremediasi, kayu apu menyerap nutrien untuk pertumbuhannya sehingga secara bertahap menurunkan nilai BOD dan COD pada perairan.

Penurunan parameter tersebut berperan dalam mengurangi aktivitas mikroorganisme pembusuk penyebab bau sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perairan.

Program ini diawali dengan observasi lokasi pembuangan limbah cair pabrik tahu, kemudian dilanjutkan dengan perakitan floating wetland sederhana menggunakan material bambu sebagai media apung.

Tanaman kayu apu ditempatkan pada struktur tersebut dan diaplikasikan di saluran air yang menerima aliran limbah cair.

Selain pemasangan, mahasiswa KKN UNDIP juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai konsep dasar fitoremediasi, fungsi tanaman kayu apu, serta pentingnya pemeliharaan tanaman agar sistem dapat bekerja secara optimal dan berkelanjutan.

Siap, yang 🌿 Ini versi dua kalimat yang rapi dan tetap bernuansa berita:

Melalui penerapan fitoremediasi sederhana ini, mahasiswa KKN UNDIP berharap masyarakat Desa Ketitangkidul memiliki alternatif solusi pengelolaan limbah cair pabrik tahu yang ramah lingkungan dan mudah diterapkan.

Mahasiswa KKN berharap, upaya ini dapat menjadi langkah awal dalam perbaikan kualitas perairan desa secara berkelanjutan.

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN