KARANGANYAR, Jatengnews.id — Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Iran, serta Amerika Serikat hingga kini belum memberikan dampak signifikan terhadap pelaku usaha di daerah, khususnya di Karanganyar, Jawa Tengah.
Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Karanganyar, Hervan Miftah Hafidin, menyatakan bahwa kondisi dunia usaha masih relatif stabil. Ia menilai kebijakan pemerintah dalam menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) patut diapresiasi.
“Untuk saat ini dunia usaha di Karanganyar belum terlalu terdampak. Kita juga perlu mengapresiasi pemerintah karena harga BBM di Indonesia masih relatif stabil dibandingkan negara lain,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, stabilitas harga BBM menjadi faktor penting dalam menjaga kestabilan harga barang di pasaran. Ia mencontohkan, harga BBM di Singapura telah mencapai sekitar Rp50.000 per liter, sementara di Indonesia masih berada di kisaran Rp12.000 per liter.
“Kestabilan harga BBM ini sangat berpengaruh. Selama BBM tetap stabil, harga barang juga tidak terdongkrak naik sehingga dunia usaha masih bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.
Meski demikian, Hervan mengingatkan pentingnya menjaga pasokan energi nasional. Saat ini, stok BBM nasional diperkirakan hanya mencukupi sekitar 20 hari ke depan.
Ia menyarankan pemerintah untuk mengambil langkah strategis, di antaranya memperkuat diplomasi dengan negara penghasil minyak seperti Iran serta meningkatkan kapasitas penyimpanan energi nasional.
“Kalau bisa pemerintah melakukan diplomasi dengan negara seperti Iran agar jalur distribusi minyak tetap aman. Selain itu juga perlu pembangunan storage atau tangki penyimpanan baru supaya cadangan energi kita lebih kuat,” tegasnya.
Di sisi lain, ia menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp17.000 per dolar AS dapat menjadi peluang bagi sektor ekspor. Namun, peluang tersebut hanya bisa dimanfaatkan jika inflasi domestik tetap terkendali.
“Kalau inflasi naik tinggi tentu akan berdampak pada biaya produksi dan SDM. Itu yang harus dijaga agar tidak memberatkan pelaku usaha, terutama UMKM,” katanya.
Ia menambahkan, sektor industri besar seperti tekstil kemungkinan lebih terdampak oleh gejolak global dibandingkan UMKM. Pasalnya, sebagian besar UMKM Indonesia lebih banyak mengekspor produknya ke negara Asia Timur seperti Jepang dan China.
“Kebanyakan UMKM kita ekspornya ke negara Asia Timur, jadi dampaknya tidak terlalu besar untuk saat ini,” ujarnya.
Meski terdapat potensi risiko dari kondisi global, Hervan tetap optimistis dunia usaha mampu bertahan. Ia menilai setiap krisis selalu menghadirkan peluang baru, sebagaimana yang terjadi pada masa pandemi COVID-19.“Dalam setiap krisis pasti ada peluang,” pungkasnya.(02)



