SEMARANG, Jatengnews.id — Suasana haru menyelimuti peringatan hari ulang tahun ke-46 Teater Lingkar saat keluarga besar komunitas tersebut menyaksikan pemutaran video kenangan almarhum MasTon.
Tayangan itu mengajak hadirin menelusuri kembali jejak awal berdirinya Teater Lingkar yang sarat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.
Dalam rekaman tersebut, MasTon mengisahkan bahwa Teater Lingkar lahir dari kegelisahannya melihat aktivitas anak-anak muda di kawasan Tegal Wareng—kini dikenal sebagai Taman Budaya Raden Saleh—yang kerap berkumpul tanpa arah yang jelas.
“Ada kekhawatiran bahwa kegiatan-kegiatan teman-teman muda itu tidak positif. Berangkat dari inilah saya mencoba merangkul mereka dan mengajak berdialog untuk membentuk komunitas yang menggeluti seni teater,” ujar MasTon dalam tayangan tersebut.
Ajakan itu mendapat respons positif. Para pemuda yang diajak berdiskusi kemudian sepakat membentuk wadah berkesenian. Pada 4 Maret 1980, lahirlah kelompok teater yang diberi nama “Lingkar”.
Menurut MasTon, nama tersebut mengandung filosofi mendalam. Lingkaran memiliki satu titik pusat dan jari-jari yang sama panjang, yang dimaknai sebagai tujuan bersama serta kesetaraan hak dan kewajiban setiap anggota.
“Lingkar itu memiliki satu titik pusat sebagai tujuan menjadi manusia berakhlak. Sementara jari-jari yang sama menggambarkan bahwa setiap anggota memiliki hak dan kewajiban yang setara,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa dalam sebuah lingkaran, tidak ada individu yang berdiri sendiri. Setiap tindakan anggota akan berdampak pada yang lain. Karena itu, Teater Lingkar dibangun di atas prinsip tanggung jawab kolektif dan kesadaran bahwa berkesenian merupakan bagian dari pembentukan karakter.
“Budaya adalah benteng bangsa. Membangun jiwa dilakukan melalui kesenian dan kebudayaan. Cinta budaya berarti cinta Indonesia,” kata MasTon.
Dalam kesempatan yang sama, putra bungsu MasTon, Ki Sindhunata Gesit Widiarto menegaskan bahwa Teater Lingkar harus tetap menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk belajar dan berkarya. Ia menyebut warisan terbesar MasTon bukan sekadar organisasi, melainkan nilai-nilai yang membentuk karakter melalui seni.
“Almarhum MasTon telah membangun Teater Lingkar bukan hanya sebagai tempat berkesenian, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter. Tugas kita adalah menjaga agar nilai-nilai itu tetap hidup,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh anggota menjadikan peringatan HUT ke-46 sebagai momentum untuk memperkuat komitmen dalam merawat kebudayaan, khususnya di Semarang.
Peringatan ini menegaskan bahwa Teater Lingkar tetap eksis sebagai rumah seni yang berlandaskan kebersamaan, disiplin, dan kecintaan terhadap budaya. Nilai-nilai yang ditanamkan MasTon diyakini akan terus hidup dan menjadi pijakan bagi generasi berikutnya.(02)



