Nelayan Tambakrejo Masih Terhimpit Usai Musim Barat

Setelah berbulan-bulan tidak melaut akibat gelombang tinggi, para nelayan kini kembali menghadapi kenyataan pahit: hasil tangkapan belum membaik.

SEMARANG, Jatengnews.id  — Harapan nelayan di Kampung Tambakrejo, Kota Semarang, belum sepenuhnya pulih meski musim barat telah berlalu.

Setelah berbulan-bulan tidak melaut akibat gelombang tinggi, para nelayan kini kembali menghadapi kenyataan pahit: hasil tangkapan belum membaik.

Salah satu nelayan, Abdul Haris (42), mengatakan musim barat yang berlangsung sejak pertengahan Desember 2025 hingga Maret memaksanya berhenti melaut. Selama itu, ia harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Musim baratan itu biasanya memang tiga bulan,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Memasuki bulan pertama kembali melaut, Haris mengaku belum merasakan perubahan berarti. Tangkapan kerang hijau yang biasanya menjadi andalan justru sulit didapat.

“Musim seperti ini memang paling susah. Habis musim baratan itu cari ikan atau udang sulit sekali,” katanya.

Ia menjelaskan, fase paling berat justru terjadi setelah masa tidak melaut. Saat aktivitas kembali dimulai, hasil tangkapan belum juga membaik. Dalam sebulan terakhir, ia bahkan kerap pulang tanpa membawa hasil.

“Kalau dapat ya syukur, tapi kalau enggak dapat ya rugi. Tekor,” ungkapnya.

Padahal, pada musim normal, tangkapan kerang hijau bisa mencapai 100 kilogram per hari, cukup untuk menutup biaya operasional sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.

Saat ini, kondisi tersebut belum kembali. Untuk sekali melaut, Haris harus mengeluarkan biaya bahan bakar sekitar Rp50 ribu hingga Rp55 ribu, dengan konsumsi solar 3–4 liter dan bensin sekitar 1,5 liter.

“Hitung-hitungannya sudah enggak masuk. Rugi besar, tangkapannya nihil,” tegasnya.

Kondisi ini diperparah dengan belum siapnya panen dari budidaya kerang hijau. Saat ini, para nelayan masih dalam tahap penanaman bambu yang baru bisa dipanen sekitar enam bulan ke depan.

“Sekarang ini masih masa tanam bambu. Panennya masih nunggu sekitar enam bulan lagi,” jelas Haris.

Di tengah situasi sulit tersebut, sebagian nelayan memilih mencari pekerjaan alternatif di darat, seperti buruh bangunan, kuli angkut, hingga ojek online, demi bertahan hidup.

“Kalau ada kerjaan di darat, ya kita kerjakan dulu. Yang penting bisa nutup kebutuhan di rumah,” katanya.

Meski begitu, tidak semua nelayan memiliki peluang yang sama. Nelayan berusia lanjut menjadi kelompok paling rentan karena keterbatasan untuk beralih profesi.

Bagi nelayan Tambakrejo, masa sulit seperti ini bukan hal baru. Namun, lamanya tidak melaut ditambah belum pulihnya hasil tangkapan membuat tekanan ekonomi terasa lebih berat dari biasanya.(02)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN