SEMARANG, Jatengnews.id – Secara bulanan, Provinsi Jawa Tengah mencatat deflasi sebesar 0,03% (mtm) pada April 2026, berbanding terbalik dengan kondisi nasional yang justru mengalami inflasi sebesar 0,13% (mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menjelaskan bahwa deflasi di Jawa Tengah terutama dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, serta tarif angkutan antarkota.
Meski demikian, penurunan harga ini tertahan oleh kenaikan harga minyak goreng, angkutan udara, telepon seluler, laptop/notebook, serta nasi dengan lauk.
“Dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,57% (mtm), kondisi April menunjukkan pembalikan arah menjadi deflasi. Penurunan ini terutama didorong oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang memberikan andil deflasi sebesar -0,22% (mtm),” katanya Rabu (06/05/2026).
Hal ini seiring dengan normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri 1447 H, yang menurunkan harga komoditas pangan utama seperti ayam, telur, dan cabai rawit.
Di sisi lain, harga minyak goreng justru meningkat akibat kenaikan harga kelapa sawit serta biaya produksi kemasan plastik yang terdampak konflik di Timur Tengah. Selain itu, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga mengalami deflasi (-0,04%; mtm), terutama karena penurunan harga emas perhiasan mengikuti koreksi harga emas global.
Deflasi yang lebih dalam tertahan oleh inflasi pada Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran (0,09%; mtm), terutama akibat kenaikan harga nasi dengan lauk yang dipicu oleh meningkatnya biaya energi, khususnya gas LPG, serta harga kemasan plastik. Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan juga menyumbang inflasi (0,05%; mtm), dipengaruhi kenaikan harga telepon seluler dan laptop/notebook akibat mahalnya komponen elektronik seperti chipset dan memori.
Secara tahunan, Jawa Tengah mencatat inflasi sebesar 2,11% (yoy) pada April 2026, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,42% (yoy) dan juga lebih rendah dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa. Inflasi tahunan ini terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, disusul oleh beras, daging ayam ras, minyak goreng, serta sigaret kretek mesin. Sementara itu, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga bawang putih, bawang merah, cabai merah, kelapa, serta tarif angkutan antarkota.
Dari sisi wilayah, sebagian besar daerah di Jawa Tengah mengalami deflasi secara bulanan. Deflasi terdalam tercatat di Kabupaten Wonogiri (-0,25%; mtm), diikuti Wonosobo (-0,23%; mtm), Cilacap (-0,21%; mtm), Surakarta (-0,10%; mtm), Tegal (-0,09%; mtm), Purwokerto (-0,07%; mtm), dan Rembang (-0,07%; mtm). Sementara itu, inflasi terjadi di Kota Semarang (0,17%; mtm) dan Kudus (0,02%; mtm).
Secara tahunan, seluruh kota IHK di Jawa Tengah masih mencatat inflasi, dengan angka tertinggi di Kota Tegal (2,30%; yoy) dan terendah di Wonosobo (1,76%; yoy).
Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota akan terus memperkuat koordinasi guna menjaga inflasi tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Upaya ini difokuskan pada menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi barang, sehingga stabilitas harga di Jawa Tengah tetap terjaga. (03)






