Demak, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Angkatan 86 UIN Walisongo Semarang Kelompok 6 turut berpartisipasi dalam pelaksanaan tradisi Apitan yang digelar masyarakat Desa Gempolsongo, Senin-Selasa (11–12/05/2026).
Tradisi tahunan tersebut menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah, khususnya komoditas bawang merah, sekaligus upaya melestarikan budaya dan tradisi warisan leluhur.
Tradisi Apitan menjadi salah satu budaya turun-temurun yang masih dijaga oleh masyarakat Desa Gempolsongo sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas rezeki dan hasil pertanian yang diperoleh warga selama satu tahun terakhir.
Kepala Desa Gempolsongo, Anang Adinansasi, dalam sambutannya pada malam puncak acara menyampaikan harapannya agar hasil pertanian masyarakat, terutama bawang merah, terus meningkat dan mampu memberikan kesejahteraan bagi warga desa.
Ia juga berharap masyarakat Desa Gempolsongo senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, serta kehidupan yang makmur dan tenteram.
Menurutnya, tradisi Apitan bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan doa bersama demi terciptanya desa yang “gemah ripah loh jinawi”.
Rangkaian kegiatan Apitan diawali pada malam 11 Mei 2026 dengan acara selametan bersama perangkat desa dan tokoh agama sebagai bentuk doa demi kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.
Kemudian pada 12 Mei siang hari, kembali digelar slametan bersama para pemain wayang dan ketoprak yang akan tampil dalam acara budaya tersebut.
Masyarakat juga disuguhkan pertunjukan wayang dengan kisah Dewi Sri, sosok dewi padi yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Cerita tersebut dipilih sebagai simbol harapan agar Desa Gempolsongo terus diberi hasil panen melimpah dan kehidupan masyarakat yang sejahtera.
Menjelang sore hari, warga desa berkumpul mengikuti selametan bersama dengan membawa berkat sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan antarwarga.
Puncak acara berlangsung pada malam hari melalui pertunjukan ketoprak yang diselingi hiburan dangdut.
Dalam cerita ketoprak tersebut dikisahkan seorang Raja Mataram sederhana yang memiliki tekad besar untuk membangun desa dan mensejahterakan rakyatnya hingga tercipta kehidupan yang makmur bersama masyarakat.
Kegiatan tradisi Apitan ini juga turut melibatkan mahasiswa KKN Reguler Angkatan 86 UIN Walisongo Semarang Kelompok 6.
Kehadiran mahasiswa KKN menjadi bentuk partisipasi aktif dalam mendukung pelestarian budaya dan tradisi masyarakat desa.
Mahasiswa turut membantu berbagai persiapan kegiatan, mengikuti selametan bersama warga, hingga menyaksikan pertunjukan budaya yang menjadi bagian penting dari tradisi Apitan.
Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa KKN memperoleh pengalaman bermasyarakat secara langsung sekaligus belajar memahami nilai gotong royong, kebersamaan, dan kearifan lokal yang masih dijaga kuat oleh masyarakat Desa Gempolsongo.
Kemeriahan tradisi Apitan ini menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga budaya warisan leluhur sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga desa.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN
Editor: R. Dian Pramesti



