69 Mahasiswa STIKes Elisabeth Semarang Ikuti Ucap Janji, Siap Terjun ke Dunia Klinik

Prosesi Ucap Janji memiliki makna penting sebagai bentuk kesiapan dan komitmen mahasiswa untuk mengabdikan diri di dunia kesehatan

SEMARANG, Jatengnews.id – Sebanyak 69 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Elisabeth Semarang mengikuti Upacara Kepaniteraan atau Ucap Janji Mahasiswa Keperawatan di Auditorium Kampus STIKes Elisabeth Semarang, Jalan Kawi No. 11, Wonotingal, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Kamis (16/7/2026).

Ketua Panitia Ucap Janji, Maria Suryani, menjelaskan peserta terdiri atas 13 mahasiswa Program D3 Keperawatan, 45 mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, dan 11 mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Gizi.

Ia mengatakan, secara umum capaian akademik para mahasiswa sangat memuaskan. Mahasiswa D3 dan S1 Keperawatan merupakan mahasiswa tingkat pertama atau semester satu, sedangkan mahasiswa S1 Ilmu Gizi berada di tingkat tiga dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang sangat baik.

Menurut Maria, prosesi Ucap Janji memiliki makna penting sebagai bentuk kesiapan dan komitmen mahasiswa untuk mengabdikan diri di dunia kesehatan.

“Melalui ucap janji ini, mahasiswa menyatakan bahwa mereka benar-benar siap dan mantap untuk mengabdikan diri di dunia kesehatan. Ini menjadi bentuk komitmen sebelum mereka terjun memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Maria menjelaskan, selama ini mahasiswa masih menjalani pembelajaran teori di kelas dan praktik di laboratorium. Setelah memenuhi persyaratan, termasuk mengikuti prosesi Ucap Janji, mereka akan mulai menjalani praktik klinik dan berinteraksi langsung dengan pasien di rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Mahasiswa D3 Keperawatan dan S1 Ilmu Keperawatan dijadwalkan mulai menjalani praktik klinik pada semester tiga. Sementara itu, mahasiswa semester satu masih difokuskan pada pembelajaran teori dan praktik laboratorium sebagai bekal sebelum memasuki dunia klinik.

Untuk mendukung proses tersebut, STIKes Elisabeth Semarang telah bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan, di antaranya Rumah Sakit Elisabeth Semarang, Rumah Sakit Ungaran, Rumah Sakit Tugurejo, beberapa rumah sakit lainnya, serta puskesmas dan lembaga di bawah Dinas Sosial.

Maria berharap seluruh mahasiswa yang telah mengucapkan janji mampu memegang teguh komitmen tersebut selama menjalani pendidikan hingga memasuki dunia kerja.

“Harapan kami, mereka benar-benar menepati janji yang telah diucapkan di hadapan Tuhan. Mereka harus tetap setia pada profesinya, baik sebagai perawat maupun ahli gizi, serta memberikan pelayanan kesehatan dengan penuh tanggung jawab dan integritas,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua STIKes Elisabeth Semarang, Sr. Emirensiana Anu Nono, OSF., MAN, menegaskan bahwa prosesi Ucap Janji merupakan tahapan penting sebelum mahasiswa diterjunkan ke lahan praktik klinik di berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Kota Semarang maupun sekitarnya.

Menurutnya, mahasiswa telah dibekali teori dan keterampilan dasar selama mengikuti pembelajaran di kelas dan laboratorium. Namun, saat memasuki praktik klinik mereka akan menghadapi kondisi nyata sehingga membutuhkan kesiapan mental, kemampuan teknis, dan pengalaman yang terus diasah.

“Mahasiswa memang sudah dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar, tetapi ketika praktik di rumah sakit mereka akan menghadapi situasi yang nyata. Karena itu mereka harus terus berlatih agar semakin terampil dan percaya diri,” katanya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi kesehatan yang semakin modern menuntut mahasiswa mampu beradaptasi dengan berbagai peralatan medis di rumah sakit. Selama praktik, mahasiswa juga akan mendapat pendampingan dari pembimbing klinik.

“Di rumah sakit mereka tidak dilepas begitu saja. Ada pembimbing klinik yang akan mendampingi, mengarahkan, sekaligus mengevaluasi setiap tindakan yang dilakukan mahasiswa,” jelasnya.

Sr. Emirensiana mengakui, pada awal praktik sebagian mahasiswa masih merasa gugup atau takut karena baru pertama kali bertemu dan berinteraksi langsung dengan pasien. Oleh sebab itu, mereka akan lebih dulu melakukan observasi sebelum secara bertahap diberi kesempatan melakukan tindakan sesuai kompetensinya.

“Rasa takut itu wajar. Dengan latihan yang berulang dan pendampingan dari dosen maupun pembimbing klinik, kepercayaan diri mereka akan tumbuh dan kemampuan praktiknya semakin baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, STIKes Elisabeth Semarang sejak awal menerapkan pembelajaran yang mengintegrasikan teori dan praktik secara bertahap. Melalui proses tersebut diharapkan mahasiswa mampu menjadi tenaga kesehatan yang profesional, mandiri, serta siap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Di akhir penyampaiannya, Sr. Emirensiana berpesan agar mahasiswa tidak takut memasuki dunia praktik klinik karena seluruh dosen dan pembimbing akan terus mendampingi selama proses pembelajaran.

“Jangan takut menjalani praktik. Kami akan selalu mendampingi, membimbing, dan mengevaluasi keterampilan maupun sikap mahasiswa. Kami juga bekerja sama dengan rumah sakit agar proses pembelajaran berjalan dengan baik sehingga mahasiswa siap menjadi tenaga kesehatan yang profesional,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, STIKes Elisabeth Semarang juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa dengan prestasi akademik terbaik, yakni Valentino Bagas Krinsma dari Program Studi S1 Ilmu Keperawatan tingkat I dengan IPK 3,96, Maria Anjini Lalian dari Program Studi S1 Ilmu Gizi tingkat III dengan IPK 3,73, serta Vania Sela Telaumbanua dari Program D3 Keperawatan dengan IPK 3,92. (01).

Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN