30 C
Semarang
, 24 October 2021
spot_img

Batik Tyto Alba Tlogoweru, Punya Corak Tersendiri dan Wajid Dibeli

Demak, Jatengnews.id – Desa Wisata Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak tidak hanya terkenal dengan pengembangan Burung Hantu Tyto Alba saja. Melainkan kini sudah merambah pada ekonomi kreatif, salah satu yang sedang dikembangkan adalah Batik Tyto Alba.

Kepala Desa Tlogoweru Soetedjo mengatakan Batik Tyto Alba dibuat oleh warga Tlogoweru. Dengan desain khusus, yaitu perpaduan antara gambar Burung Hantu Tyto Alba dengan Beras yang Melimpah.

“Jadi Batik Tyto Alba ini memiliki arti sendiri, yaitu dengan adanya Burung Hantu Tyto Alba, Beras bisa melimpah. Karena serangan hama tikus bisa dikendalikan oleh Tyto Alba. Hingga kemudian, desain di Batik ada beras yang melimpah itu adalah sebuah lambang kemakmuran. Karena tercukupinya pangan,” terangnya, saat ditemui di rumahnya, Kamis (16/9/2021).

Kepala Desa Tlogoweru memamerkan baju batik Tyto Alba Khas Tlogoweru. (Foto : Sukri)

Menurutnya para wisatawan yang datang ke Tlogoweru, banyak yang berminat memiliki Batik Tyto Alba Khas Tlogoweru. Seperti Kick Andy, dana beberapa orang-orang dari Jakarta memesan Batik Tyto Alba.

“Tetapi memang produksi Batik Tyto Alba masih bersifat Home Industry saja. Tapi ke depan akan dikembangkan ke produksi yang lebih besar. Ini baru dibantu Universitas Sultan Agung (Unisula) melalui fasilitator dari Kabupaten, perihal pengurusan hak cipta Batik Tyto Alba akan dipatenkan. Setelah itu, nanti kita akan perbanyak produksi batiknya, karena yang minat banyak,” jelas Pria berusia 60 tahun itu.

BACA JUGA:  PSIS Latihan Ringan Pasca Lawan Persija

Ia mengatakan ada dua kualitas Batik Tyto Alba yang diproduksi. Batik dengan kualitas sedang dan tinggi. Untuk kualitas sedang harganya Rp 150 ribu, sedangkan yang kualitas tinggi harga Rp 400 ribu. Dengan ukuran kain Batik yaitu Panjang 2,5 meter x Lebar 90 cm.

BACA JUGA:  Ditengok Ganjar, Pelajar Papua Curhat Kesulitan Belajar Bahasa Jawa

“Perbedaannya hanya pada proses (teknis) pembuatannya saja. Misalkan yang kulaitas sedang itu hanya 4 kali celupan, namun yang tinggi itu sampai 8 kali celupan, jadi kan membutuhkan waktu yang berbeda. Jadi letak perbedaannya ada pada ketahanan terhadap iklim. Tetapi itu tergantung dari perawatan kainnya juga, kalau merawatnya bagus, ya pasti akan awet dan bagus juga,” tutur Bapak yang memiliki tiga anak ini.

Ia berharap supaya Batik Tyto Alba bisa segera di produksi dalam skala besar.

“Supaya bisa menyerap tenaga kerja, dan mengurangi pengangguran yang ada di desa. Otomatis kesejahteraan masyarakat akan segera terwujud,” paparnya.(Adv/Sukri-02).

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan