34 C
Semarang
, 19 September 2021
spot_img

Berhenti Jadi ABK Akibat Pandemi, Diki Sugiarto Rintis Bisnis Ternak Lele

Semarang, Jatengnews.id – Saat pandemi, setiap orang memiliki kisahnya masing-masing. Seperti halnya kisah yang dialami oleh Diki Sugiarto, seorang mantan Anak Buah Kapal (ABK) yang kini merintis bisnis ternak lele.

Diki memulai bisnis ternak lele pada Maret 2021. Hal itu setelah dirinya usai menjalankan tugas pekerjaannya sebagai ABK di Inggris, disebabkan kegentingan saat pandemi.

“Sebenarnya kontraknya dua tahun, karena ada pandemi itu di sana (Inggris) juga genting. Akhirnya diselesaikan, meskipun tidak sesuai dengan masa kontrak. Tetapi masih tetap digaji,” ungkapnya saat ditemui Jatengnews.id di rumahnya, di Desa Mundingan, RT 05 RW 02 Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (1/8/2021).

Akhirnya dengan penghasilan tersebut, Diki pulang ke Indonesia dan memutuskan untuk beternak lele. Dalam merintis bisnis ternak lele, Ia dibantu oleh sang adik.

“Idenya itu dari adik saya yang kuliah di Semarang, katanya prospek bisnis ternak lele menjanjikan. Saya sepakat, daripada uangnya mengendap, lebih baik digunakan untuk bisnis ternak lele ini,” jelas pemuda kelahiran Purbalingga tersebut.

Sebelum memulai bisnisnya tersebut, Ia mengaku bersama adiknya belajar ke peternak lele yang sudah besar di Semarang. Tidak hanya kepada yang sukses Ia belajar, namun Ia juga mendapatkan banyak pelajaran dari para peternak lele yang gagal hingga gulung tikar.

“Dari pengalaman-pengalaman orang lain, akhirnya saya menjadi tertantang untuk membuktikannya sendiri. Ditambah, keberanian adik saya yang memiliki prinsip, kalau berniat bisnis ya harus yang besar sekalian, kalau bangkrut biar bangkrut, kalau untung biar untung,” tegasnya.

Ia mulai merintis dengan mendirikan 9 kolam berbentuk lingkaran, dengan diameter 3 meter dan kedalaman 2 meter. Namun yang digunakan hanya 7 kolam, sementara yang 2 kolam digunakannya untuk tandon air.

“Setiap kolam, berisi sebanyak 2000 bibit lele. Jadi total awal saya tebar benih lele itu 14.000 bibit,” terang pria berusia 34 tahun itu.

BACA JUGA:  Aplikasi Halo Dokkes Jateng, Beri Layanan Online Pasien Covid-19

Dari awal tebar, Ia mengaku sudah pernah panen lele 7 kwintal. Dengan sistem tiga kali panen. Hal itu disebabkan pertumbuhan ikan lele yang tidak sama, meskipun sudah sering di sortir.

“Jika normal, tebar 14 ribu bibit lele harusnya bisa panen 1 ton. Namun karena masih dibilang belajar, dan kematian lele kemarin saat menjelang konsumsi itu sebanyak 5 ribu. Tapi Alhamdulillah, kita masih bisa panen 7 kwintal,” jelasnya.

“Faktor penyebab kematian lele itu karena pengelolaan air kita belum ngerti, takaran kasih makan juga belum ngerti. Namun sekarang sudah tahu caranya, kematian hanya sekitar satu persen dari total tebar benih,” imbuhnya.

BACA JUGA:  PKL Karanganyar Tanyakan Kompensasi PPKM Darurat, Disdagnakerkop UKM Lapor Bupati

Untuk pakan ternak lelenya, Diki menggunakan full pelet ikan. Hal itu diterapkannya agar bisa memproduksi lele konsumsi yang berkualitas.

“Meskipun pakan pelet, strategi agar tidak rugi, yaitu saat satu kilogram sudah berisi 11 atau 12 ekor, langsung kita jual. Sebab semakin besar lele, pakannya akan semakin banyak. Sedangkan harga per kilogram sama,” terangnya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan perbedaan antara lele pakan full pelet dengan lele pakan non pelet seperti bangkai dan kotoran, terletak pada tekstur daging dan bau lele.

“Jika pakannya pelet, daging lele lebih padat dan baunya tidak terlalu amis. Sedangkan jika pakannya bangkai ayam dibakar, tekstur daging lele lembek dan baunya amis,” ujarnya.

Perihal pemasaran, sementara waktu dirinya masih menggunakan jasa tengkulak dan para konsumen yang datang langsung ke kolam. Lele per kilogram biasa dijualnya dengan kisaran harga Rp 18.000 hingga Rp 22.000.

“Sebenarnya pengen memasarkan sendiri langsung ke para pedagang kuliner, tapi belum punya motor. Jadi untuk sementara pemasaran lewat tengkulak, dan konsumen yang datang langsung,” paparnya. (01).

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan