34 C
Semarang
, 19 September 2021
spot_img

Bubur Jamu Coro Warisan Khas Demak Dipercaya Penangkal Corona

Demak, Jatengnews.id – Bubur Jamu Coro asal Demak, Jawa Tengah dipercaya warga sebagai obat penangkal virus Corona. Jamu Coro dengan pelafalan huruf “o” yang mendekati “coro” atau sebuah “cara/upaya” dalam bahasa jawa tersebut merupakan warisan nenek moyang sejak zaman dahulu.

Satu pedagang Jamu Coro di Jalan Bhayangkara di perempatan Kali Tuntang, Sri Puji Utami (41), mengatakan, dirinya sudah berjualan bubur jamu tersebut sejak 25 tahun. Dirinya mengatakan jamu yang nampak seperti bubur tersebut memiliki campur 15 rempah lebih.

Salah satu pembeli sedang memesan Bubur Jamu Corona. (Foto: Siapa)

“Jamu Coro ini dipercaya pembeli sebagai obat penangkal Corona, soalnya corona ini kan efeknya membuat dada sesak, pilek, menyerang bagian dalam manusia efeknya. Lalu jamu coro ini cocok dikonsumsi karena terdapat ramuan-ramuan jamu yang bisa menstabilkan tubuh,” jelas Utami saat ditemui di gerobak lapaknya oleh Jatengnews.id, Rabu (30/6/2021).

Utami menuturkan bahan campuran rempah dari rasa jamu coro yang dominan jahe tersebut, yaitu di antaranya akar wangi, pekak, sere, jahe, kayu manis, cabe kuyang, air pandan, dan lainnya.

“15 macam bahan rempah lebih,” ujarnya.

Dirinya mengaku, selama berjualan sekitar 25 tahun selalu menggunakan bahan rempah berkualitas bagus. Salah satunya dirinya menggunakan jahe jenis emprik agar bisa memberikan cita rasa pedas, segar, dan hangat. Selain dipercaya sebagai penangkal Corona, jamu ini juga memiliki banyak manfaat seperti halnya menambah nafsu makan, bikin kulit segar, tubuh menjadi hangat, dan lainnya.

“Saya pakai jahe emprik, karena citarasanya yang khas bisa memberikan rasa hangat, pedes sedep. Jahe itu diparut dulu lalu diambil sarinya. Saya pun setiap hari minum,” ujarnya.

Utami menceritakan dirinya semula berjualan jamu coro. Dirinya prihatin dengan banyaknya makanan atau minuman baru yang terdapat bumbu campuran kimia. Keresahan itu yang membuat dirinya mengembangkan jamu coro warisan nenek moyang tersebut.

BACA JUGA:  Pemkab Demak Siapkan Rp 11 Tangani Rob Sayung

Dirinya mengaku, semula menggunakan gendongan untuk berjualan jamu tersebut dengan jalan kaki keliling rumah warga. Kini, dirinya bersama anaknya berjualan dengan gerobak di tempat kuliner sore Kali Tuntang.

“Saya lihat makanan sekarang banyak yang aneh, contohnya pake bumbu bumbu penyedap, itu saya tidak suka. Bahan bahan makanan sekarang kan banyak yang pakai bahan pengawet, terus saya punya ide untuk ngembangin jamu coro. Jamu coro ini kan sudah lama, dari nenek moyang. Saya kembangkan, saya perkenalkan di Demak karena sebelumnya sudah mau hilang. Terus saya jualan pake gerobak dorong. Sebelumnya kan digendong, keliling gitu,” ujarnya.

BACA JUGA:  PPKM Jawa-Bali Diperpanjang 23 Agustus, Kapasitas Mal Dibuka 50 Persen

Selain itu, Utami menuturkan peminat jamu tersebut kian ramai, pasalnya dirinya berjualan dari pukul 15.00 – 17.30 WIB selalu habis diburu warga. Dirinya setiap hari membuat bahan jamu tersebut sebanyak 6 kilogram atau satu dandang.

“Menjelang maghrib sudah habis. Alhamdulillah peminatnya meningkat terus. Dari saya sendiri tidak punya pegawai, saya gak berani nambah pegawai karena terkendala biaya,” ujar Utami warga asal Krapyak, Bintoro, Demak tersebut.

Sementara anak Utami, M Latif Awalludin (20) menuturkan omset jamu coro tersebut diakuinya meningkat sejak adanya corona. Dirinya menyebut sehari bisa Rp 1 juta lebih dari yang semula Rp 900 ribu perhari.

Dirinya juga mengatakan sudah menjadi pelanggan tetap di sejumlah instansi pemerintah. Salah satunya Polda Jateng setiap Jumat Pagi.

“Setiap Jumat, pagi habis polisi senam itu, saya selalu kirim satu dandang ke Polda Jateng. Sudah 10 tahunan langganan. Jadi kalau Jumat kita gak jualan,” ujar Latif.

Latif menambahkan, jamu dengan campuran banyak rempah alami tersebut hanya dibandrol Rp 2,5 ribu. (Sai-01).

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan