30 C
Semarang
, 24 October 2021
spot_img

Dharma Boutique Roastery, Toko Kopi Bersejarah di Pecinan Semarang

Semarang, Jatengnews.id – Kota Semarang ternyata memiliki tempat pengolahan kopi bersejarah dalam dunia kopi nusantara. Bertempat di Jalan Wotgandul Barat, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah,  bangunan tua penuh sejarah ini terkenal dengan nama Dharma Boutique Roastery.

Rumah milik Widayat Basuki Dharmowiyono, yang menjadi saksi sejarah pengolahan berbagai jenis biji kopi dari pelosok nusantara, untuk langsung disajikan kepada penikmatnya.

Rumah pengolahan kopi tersebut sudah berdiri sejak tahun 1883, pertama kali dikelola oleh Tan Tion Le (kakek dari Basuki). Namun kala itu, nama rumah pengolahan kopi, masih bernama Margo Redjo, sebelum berganti menjadi Dharma Boutique Roastery.

Basuki bertutur sejak tahun 1883, Kota Semarang telah melakukan ekspor kopi dari sejumlah perkebunan untuk dikirim ke beberapa negara seperti Malaya, yang sekarang Malaysia dan Pu Lo Chung atau sekarang Singapura. Era itu dianggap menjadi masa keemasan kopi nusantara.

Menurutnya masa kejayaan kopi nusantara ada pada periode 1868 hingga 1878, yang saat itu total produksi kopi mencapai 52 ribu ton pertahun, dan terus menanjak hingga sekitar tahun 1900.

Setelah sang kakek berhenti, usaha pengolahan kopi dilanjutkan oleh Tan Liang Tjay (ayah dari Basuki), mulai 1907 sampai 1981.

Selanjutnya, usaha pengolahan kopi tersebut diteruskan oleh Basuki sendiri. Ia mengaku masih teringat semasa bisnis tersebut dijalankan oleh ayahnya saat dirinya masih berusia sekitar tujuh tahun.

“Ketika masih kecil itu saya masih sering menemani ayah saya mengawasi pekerja di pabrik di belakang rumah,” jelasnya, Minggu (5/9/2021).

Basuki sempat menunjukan bekas pabrik yang dahulu digunakan untuk memproduksi kopi oleh kakek dan ayahnya. Meskipun sudah tak dioperasikan lagi, namun masih tertata rapi komponen-komponen mesin berukuran besar untuk mengolah biji kopi lima sampai sepuluh kilogram biji kopi, dengan waktu kurang dari 20 menit.

BACA JUGA:  Borong Penghargaan Pekan Ketiga Liga 1, Ini Komentar Pemain dan Pelatih PSIS

“Karena waktu itu ada paksaan oleh penjajah untuk produksi kopi yang over kapasitas, kakek saya menggunakan mesin kapal untuk alat penggerak mesin yang diberi Belanda. Saat dikelola ayah saya menggunakan gas, waktu itu Pemerintah Kota Semarang masih mengalirkan gas bawah tanah,” kenangnya.

BACA JUGA:  Tenggelam di Sungai, Turipah 45 Tahun Berhasil Diselamatkan

Basuki menjelaskan Darma Boutique Roastery sudah memasuki generasi ketiga saat ini. Meski demikian sejumlah cafe masih menjadikannya rujukan untuk mencari biji kopi berkualitas.

“Masih ada harapan karena progres penjualan di tempat ini baik. Pelanggan saya terus bertambah, bahkan dari berbagai daerah,” tuturnya.

Dikatakannya, dalam sehari tempatnya bisa memproduksi sekitar sepuluh kilogram lebih biji kopi yang dikirim ke beberapa daerah.

“Dibilang terdampak pandemi pasti terdampak, namun masih bisa berjalan. Tentunya beda jika dibandingkan saat era kakek saya, karena dulu mengolah berpuluh-puluh ton kopi untuk ke beberapa negara,” ujarnya.

Ia menambahkan ada berbagai jenis kopi yang dijualnya. Tidak hanya jenis robusta saja, melainkan biji kopi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia pun juga ada. Seperti biji kopi dari Jawa Tengah, Papua, Sumatera, Bali, dan daerah lainnya.

“Dulu kopi jenis robusta paling banyak dibeli. Namun, kini bervariatif, semakin banyak kedai kopi, semakin banyak pula permintaan dan jenis kopi yang diminati,” paparnya.(Sukri-02)

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan