30 C
Semarang
, 24 October 2021
spot_img

E-Retribusi Pasar Permudah Arus Keuangan Pasar

Demak, Jatengnews.id – Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Demak laksanakan live E-Retribusi di lima pasar dalam wilayahnya yang terhitung mulai 1 September 2021.

Lima pasar tersebut merupakan perwakilan dari masing-masing Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). Yaitu Pasar Wonosalam mewakili wilayah 1, Pasar Sriwulan mewakili wilayah 2, Pasar Gading mewakili wilayah 3, Pasar Gablok mewakili wilayah 4, dan Pasar Karanganyar mewakili wilayah 5.

Kepala Seksi Pendapatan dan Ketenagaan Dindagkop UKM Demak, Nur Akhyak menuturkan pelaksanaan e-retribusi merupakan salah satu wujud transparansi pemerintahan. Sebabnya, pembayaran dilakukan langsung dari pedagang ke kas daerah.

Dijelaskan, pelaksanaan e-retribusi pertama kali dilaksanakan di Pasar Karanganyar, Kecamatan Karanganyar dengan menggunakan kartu yang dibagikan secara cuma-cuma kepada pedagang. Kemudian kartu tersebut diisi saldo dan pembayaran hanya dengan menempelkan kartu saja.

Kepala Seksi Pendapatan dan Ketenagaan Dindagkop UKM Demak, Nur Akhyak. (Nizar)

“Untuk pemberian kartu secara simbolis diberikan oleh Kepala Dinas di Pasar Gading. Nanti kartu itu sebagai tanda pengenal pedagang,” terangnya.

Di tahun 2021, inovasi terbaru dari Dindagkop UKM akan menggunakan Quick Response Code Indonesian System (QRIS) sehingga nantinya pedagang hanya memerlukan ponsel dan e-wallet dalam pembayarannya.

“Kalau dulu untuk menarik retribusi kan memakai karcis, petugas menarik retribusi dengan membawa karcis kemudian petugas merekap jumlahnya, melakukan penyetoran ke bank. Kalau nanti e-retribusi sudah berjalan nantinya akan sangat ringkas dan lebih transparan,” jelasnya.

Selain terkait transparansi dan kecepatan pemrosesan pembayaran retribusi serta dapat menekan kebocoran, adanya inovasi tersebut menjadi solusi dalam keterbatasan sumber daya manusia.

“E-Retribusi Pasar Karanganyar sudah berjalan sejak September 2019. Untuk tahun 2021 ada pengembangan di sistem barcode nya, dulu hanya pedagang di dalam los, kalo sekarang tambah di luar los, ketambahan 100 pengguna, dari awal 340 untuk Pasar Karanganyar. Sedangkan Pasar wonosalam 300, Pasar Sriwulan 100, Pasar Gading 300, dan Pasar Gablok 300,” tuturnya.

BACA JUGA:  Belajar Musik Sejak Kecil, Kini Eta Jadi Pemusik Profesional

Terkait pembayaran e-retribusi dengan QRIS, Nur Akhyak menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan beberapa pihak di antaranya Bank Jateng dan juga Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Demak.

BACA JUGA:  Petinggi Jepara Lapor ke Ganjar Soal Industri Tak Taat Prokes: Tertibkan!

“Untuk pembayaran retribusi melalui QRIS nanti pedagang bisa menggunakan e-wallet apa saja, jadi lebih mudah,” katanya.

Meski begitu, pihaknya menyadari bahwa hambatan yang mungkin akan dihadapi ialah keterbatasan penguasaan teknologi pedagang. Namun, pihaknya meyakini hal ini sebagai proses belajar menuju hal yang lebih baik khususnya dalam digitalisasi dan transparansi.

Dengan adanya e-retribusi juga, menurutnya pedagang bisa lebih disiplin karena akan membayar sesuai dengan ketentuan yang ada. Aplikasi E-Retribusi juga terus disempurnakan dengan beberapa penambahan, yang dulunya hanya retribusi dasaran, tinggal barang, dan retribusi sampah. Sekarang tambah sewa kios.

“Ini juga yang awalnya dikeluhkan pedagang. Bilangnya naik, padahal memang ketentuannya membayar retribusi dengan tarif sesuai perda. Kalau manual ketidakpatuhan pedagang dan pegawai yang belum melaksanakan pemungutan sesuai Perda,” jelasnya.

Salah satu yang merasakan manfaat dari pelaksanaan e-retribusi adalah seorang pedagang di Pasar Karanganyar, Suciyati.

“Kalau e-retribusi yang pakai kartu kan kita perlu isi saldo dulu. Saldo dalam kartu ini tidak perlu membuat saya mengambil uang lagi, ibaratnya sudah seperti tabungan. Pembayaran juga tidak ribet,” tandasnya. (Adv/Nizar-02)

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan