30 C
Semarang
, 19 September 2021
spot_img

HIPMI Jateng Sebut Kebijakan Pemerintah Tangani Covid Tak Signifikan

Semarang, Jatengnews.id – Kebijakan Pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 17 bulan ini dinilai Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Tengah belum memberikan hasil signifikan.

Sebaliknya, banyak kebijakan yang dinilai malah memperparah kondisi perekonomian dan juga mematikan sektor usaha.

Ketua HIPMI Jateng Billy Dahlan menuturkan berdasarkan data, jumlah total kasus Covid-19 selama 17 bulan ada di sekitar angka tiga juta dengan kasus aktif di kisaran 550 ribu penyintas. Jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi yang mendampak 90 persen populasi warga Indonesia, hendak diakui atau tidak menurutnya hal ini tidak sebanding.

“Sekarang kasus aktif 550 ribu atau  0,02% (dari jumlah populasi di Indonesia). Padahal dampak secara sosial dan ekonomi berpengaruh terhadap lebih dari 90% populasi Indonesia,” kata Billy Jumat (23/07/2021).

Billy juga mempertanyakan kebijakan pemerintah contohnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dinilai tak terukur dan tidak memiliki target jelas. Jika PPKM dilaksanakan hanya untuk mencegah dan mengurangi penularan, ia merasa tidak yakin bahwa kebijakan itu adalah pilihan yang tepat.

BACA JUGA:  Selama PPKM Kunjungan Wisata Karanganyar Hanya 40 Persen

Billy menakar jika nanti PPKM dibuka tidak ada jaminan penularan mengalami penularan, sebaliknya dinilai akan semakin masif.

“Kita ndak masalah dengan PPKM, tapi PPKM yang lebih terukur. Kalau misalnya dengan PPKM hanya untuk mengurangi penularan, nanti kalau PPKM dibuka juga akan sama saja,” ujarya.

Berdasarkan kondisi di lapangan yang dihadapi Indonesia saat ini, keseriusan pemerintah untuk menangani Covid-19 dipertanyakan. Alasannya, HIPMI melihat kebijakan yang sudah diambil pemerintah tidak menunjukkan hasil.

BACA JUGA:  Kerajinan Perak Demak Tembus Pasar Eropa

Lebih lanjut Billy mempertanyakan apakah langkah pemerintah sudah tepat untuk mengatasi Covid-19 yang menjangkit 1 persen populasi, tetapi mengorbankan ekonomi dunia usaha yang mencapai 90 persen.

“Kok secara angka tidak sesuai sekali. Ini sudah 17 bulan tapi masih begini-begini saja,” tandasnya. (Devan-02)

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan