28 C
Semarang
, 15 June 2021
spot_img

Kisah Karmono Kakek 76 Tahun, Pionir Jambu Air Demak yang Kini Dikenal Hingga Luar Jawa

Demak, Jatengnews.id – Bagi kalangan pecinta jambu, keberadaan Jambu Air Demak sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Jawa Tengah. Lantaran buah yang berwarna merah ini terkenal rasanya yang manis. Namun, cerita jambu air yang manis yang terkenal dari kota wali tersebut tidak terlepas dari peran pensiunan PNS yang saat itu bercita-cita menguliahkan ke empat anaknya.

“1986 saya mulai buka jambu, soalnya belimbing itu saya rasakan selama beberapa tahun itu, hasilnya itu tidak bisa maksimal. Saya selaku guru SD waktu itu memikirkan ongkos sekolah anak nanti bagaimana. Biaya kuliah tentunya mahal, lalu akhirnya mencoba untuk menjadi petani jambu air. Waktu itu saya beli benih ini namanya itu jambu air merah,” ujar petani jambu air asal Kelurahan Betokan, Demak, Karmono (76) saat ditemui di kebunnya,, Minggu (6/6/2021). 

Karmono menjelaskan dirinya semula menekuni tanaman buah belimbing sejak 1983, lantaran mertuanya yang lebih dulu menanam ratusan pohon belimbing. Lalu, Karmono merasa harga jual belimbing tak bisa diandalkan untuk biaya kuliah anaknya, Karmono pun mencoba peruntungan menanam jambu air. Dirinya pun menceritakan bagaimana nama jambu air delima ia berikan yang kini dikenal banyak orang.

“Waktu itu saya beli benih ini namanya itu jambu air merah, bisa jadi delima ini waktu itu saya membuat koperasi saya beri nama delima. Delima sendiri itu apa artinya, kandel tikel lima dan manisnya tikel lima (tebal berlipat lima dan manis berlipat lima). Sebabnya dulu ada jambu merah tapi tipis rasanya tidak manis. Sehingga yang kita kembangkan ini kandelnya tikel lima dan rasanya juga manis tikel lima,” terang kakek empat orang anak.

“Lebih lanjut jambu delima Demak itu orang-orang ada yang mengartikan kandel imannya kepada Allah, atau orang Demak itu tebal imannya kepada Allah,” imbuhnya. 

Dirinya pun bercerita semula lahan sawah yang ia tanami sekitar 220 pohon belimbing seluas sekitar 1400 meter tersebut hanya terdapat 3 pohon jambu air. Kondisi tersebut berbalik, dirinya saat ini memiliki sekitar 76 pohon jambu air dan beberapa belimbing, serta tanaman lain seperti jeruk pecel.

“Saat ini kurang lebih ada 33 petani (jambu air di Kelurahan Betokan). Dulu saya ikut jadi petani belimbing karena mertua saya itu memiliki 300 pohon belimbing, sedangkan saya ketika itu menanam sekitar 220 pohon,” ujarnya Karmono yang memiliki 12 cucu itu.

Karmono pun menceritakan awal mula ia menanam jambu air lantaran saran dari salah seorang teman. Dirinya pun mengaku sempat tidak dipercaya masyarakat dan membagikan benih jambu secara cuma-cuma saat terbukti laku di pasaran.

“Petani belimbing tidak maksimal hasilnya, seolah olah jadi petani itu rugi. Karena setiap panen 200 pohon itu paling dapetnya hanya Rp 300 ribu 400 ribu. Kan tidak bisa membayar karyawan. Harga jualnya memang rendah. Akhirnya saya bertemu dengan temen saya, saya dituntun untuk beli empat cangkok jambu, tiga saya tanam di kebun dan satu di rumah, yang di rumah mati, yang ini (tiga pohon jambu air di kebun) masih hidup sampai sekarang sejak 1986. Dari tiga pohon tersebut penjualannya langsung menggunakan truk, akhirnya semua orang tahu, seneng, akhirnya saya kasih satu-satu untuk sama-sama menanam pohon jambu,” ujarnya.

BACA JUGA:  Ombudsman Jateng Awasi Pembelajaran Tatap Muka dan PPDB 2021

“Ketika itu juga ada orang Kalimantan beli satu truk cangkok langsung dari sini, kita juga kirim, akhirnya sampai membudaya di setiap kabupaten lain,” terangnya.

BACA JUGA:  Hari Kartini, Natur-E Ajak Wanita Gali Insiprasi Melalui Kecantikanmu dan Kelebihanmu

Selain itu dirinya bercerita juga sempat memberikan pengalaman menanam jambu air kepada peserta perwakilan setiap desa yang diadakan oleh Dinas Pertanian. Sehingga jambu air di Demak, khususnya jambu delima dapat ditanam banyak oleh orang Demak.

“Sampai saat ini ada juga petani jambu yang benihnya kalau tidak dari sini tidak mau,” ujarnya.

Dirinya pun mengaku senang jika banyak orang bisa mengikuti jejaknya menanam jambu air. Meski tak ia pungkiri kualitas tanah dan perawatan mempengaruhi rasa. Dirinya mengaku lebih memilih mempekerjakan remaja lulusan sederajat SMA dibandingkan memberikan jambunya kepada pengepul saat harga turun.

“Saya tidak mau setor ke pengepul saat harga turun, lebih baik saya percayakan anak muda untuk di jual di pinggir jalan. Saya bilang tidak usah pikirkan kalau tidak laku, itu bisa dirembuk. Yang penting dia belajar,” terang Karmono yang juga lulusan SMA sederajat itu.

Dirinya pun membagikan sejumlah cara untuk melakukan perawatan jambu air, diantaranya setiap pohonnya idealnya berjarak 7 meter. Dirinya pun mengatakan bahwa pohon jambu hang ia miliki setidaknya dua kali panen dalam setahun atau setiap 4-5 bulan sekali.

“Kalau kurang dari itu (jarak 7 meter) berpengaruh, soalnya kalau terlalu rapat sinar tidak bisa masuk, hanya sebagian daun dan batang saja yang kena. Minimal 4-5 bulan panen, dalam satu tahun minimal dua kali, kalau teknik pemeliharaannya bagus bisa sampai tiga kali. Ini kan sudah yang kedua, dan ini sudah tumbuk karuk lagi,” terang pensiunan PNS yang pernah menjadi Kepala SD, Penilik PLS dan pengawas tersebut.

Karmono mengatakan penjualan jambu airnya kini sedang turun. Dirinya mengaku jambu citranya sejumlah 12 kg laku dengan salah satu pengepul dengan harga Rp 12 ribu perkilogramnya.

“Tahun lalu, panen pertama, (jambu) citra Rp 18 ribu sejumlah 16 kg, panen kedua dibeli Rp 15 ribu, ketiga 14 ribu, itu sudah pake keranjang. Jadi bobotnya banyak dibelinya murah. Sementara jambu air delima paling mahal dibeli Rp 10 ribu, panen kedua Rp 9 ribu, dan panen ketiga Rp 6 ribu. Lalu yang selanjutnya saya tidak setor (ke pengepul), karena terlalu murah.

Kalau terlalu murah tidak saya jual pada pengepul,” terang Karmono yang memiliki luas lahan sekitar 1400 meter dan 76 pohon jambu air tersebut.  (Sai-01). 

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan