28 C
Semarang
, 15 June 2021
spot_img

Kisah Masnu’ah 47 Tahun, Pejuang Hak-hak Perempuan Pesisir Demak

Demak, Jatengnews.id – Menjadi motor penggerak bagi masyarakat di tengah budaya patriarki yang masih begitu kental tentu akan menghadapi banyak berbagai tantangan yang menghadang, tapi hal itu tidak melunturkan niat dan tekad memperjuangkan hak perempuan bagi wanita berusia 47 tahun kelahiran Kota Rembang.

Masnu’ah, menuturkan mengawali perjalanan membela hak-hak perempuan berawal dari kecintaannya terhadap kerja-kerja kemanusiaan. Ia yang terlahir dari keluarga yang kurang mampu, memiliki cita-cita mulia yang mana berhasrat untuk selalu membantu, meskipun tidak selalu dengan materi.

“Di Rembang saya sudah melakukan kerja-kerja kemanusiaan, sudah bawaan, karena aku lahir dari keluarga yang tidak mampu. Keluargaku sendiri pada saat itu tidak ada yang meminta aku sekolah, aku ngaji, karena keluarga benar-benar keluarga tidak mampu. Sehingga aku mencari hal-hal itu sendiri,” ujarnya seraya mengingat masa kecilnya di kampung kelahiran kepada Jatengnews.id, Kamis (10/6/2021).

“Aku tidak bisa menyalahkan harus berjuang sendiri. Makanya aku sudah niat hidupku untuk membantu orang-orang yang membutuhkan meskipun yang aku bantu tidak lewat finansial tapi lewat tenaga, teman, dan akses lainnya,” tambahnya.

Kedatangannya ke Kota Wali pada 1992 tak menghilangkan kecintaannya pada dunia sosial. Hingga pada 25 Desember 2005 ia mendirikan gerakan perempuan “Puspita Bahari”. Di mana pendirian gerakan tersebut berangkat dari soal keterbukaan perempuan yang hanya dianggap ‘Konco Wingking’ atau teman pelengkap yang posisinya hanya di belakang.

“Perempuan dianggap ‘Konco Wingking’ enggak perlu sekolah, enggak perlu berorganisasi, dan dianggap kodrat perempuan di rumah, kalo sebagai anak ya patuh di rumah saja, kalo sebagai istri ya manut sama suami. Sehingga stigma atau pelabelan itu merugikan perempuan bahwa kodrat yang sebetulnya tidak seperti itu, nah yang dipahami kodrat di masyarakat sebetulnya itu kan peraturan manusia yang bisa dirubah. Kodrat perempuan yaitu bisa menstruasi, mengandung, melahirkan. Bukan kodrat perempuan hanya di rumah,” jelas ibu beranak satu itu.

Menurut Masnu’ah, Puspita Bahari memiliki filosofi perempuan yang hidup di lautan, yang mana laut istilahnya seorang ibu.

“Laut itu menurut kami ibu. Yang memberi kehidupan masyarakat pesisir,” terangnya.

Kemudian ia pun mengumpulkan 30 nelayan atau istri-istri nelayan untuk bernaung dalam wadah Puspita Bahari. Sebagai ruang bagi perempuan untuk memberi informasi, berani bicara, dan bisa melakukan usaha-usaha alternatif penopang perekonomian keluarga.

“Karena sebelum adanya Puspita Bahari itu, perempuan hanya menunggu pendapatan dari suami, sedangkan hasil tangkapan tidak menentu. Sehingga ekonomi yang tidak stabil itu kadang mengakibatkan angka kekerasan terjadi pada perempuan. Pemberdayaan ekonomi Puspita Bahari itu untuk memangkas rantai kemiskinan dan kekerasan, sehingga sebagai alat pemberdayaan ekonomi perempuan nelayan,” terang wanita lulusan SD itu.

BACA JUGA:  Gandeng Komunitas CB, Gus Yasin Bagikan Sembako di Lapas Banjarnegara

Selain itu, Puspita Bahari juga fokus mendampingi kasus-kasus yang menimpa terhadap perempuan dan anak. Juga advokasi, seperti pengakuan perempuan nelayan yang mana selama ini pemerintah meyakini profesi nelayan hanya disematkan untuk laki-laki saja.

“Kami mulai berangkat untuk memperjuangkan pengakuan profesi nelayan ini di KTP perempuan nelayan yang sebelumnya ibu rumah tangga. Itupun juga mengalami kendala yang sangat alot di pemerintah Desa karena dianggap perempuan ya tidak pantas disebut nelayan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Sering Mampet, Ganjar Soroti Pengerjaan Selokan

Hingga dalam perjalanan Puspita Bahari mengalami problem pelik. Anggota gerakan perempuan itu semakin hari kian memudar dan pergi. Masnu’ah pun pada tahun 2007-2009 benar-benar merasakan kesendirian.

Ia lantas terus mencari akses, mencari teman bagaimana membawa Puspita Bahari untuk hidup. Karena sesuai tujuan Puspita Bahari, tidak lahir karena program, karena bantuan, tapi lahir karena memang untuk menyelesaikan persoalan yang ada.

“Akhirnya tahun 2009 mulailah kami memulai produk-produk ikan seperti ikan krispi dengan memanfaatkan ikan yang murah. Dari situ mulailah satu dua anggota mulai balik kembali karena tau manfaatnya, akhirnya pemberdayaan ekonomi mulai berkembang. Yang dulunya satu desa sekarang tersebar di tiga desa, morodemak, margolinduk, dan Purworejo,” katanya.

Namun, sepanjang lahirnya Puspita Bahari, hingga kini pelabelan maupun stigma masih terus terjadi. Baik stigma yang menyerang pada pribadi diri Masnu’ah maupun ke organisasi. Gerakannya dianggap melawan kodrat karena dianggap mengajari perempuan berani sama laki-laki.

“Yang dulunya perempuan kena KDRT tidak berani melapor, tidak berani bicara, sekarang gara-gara ada Puspita Bahari banyak loh perempuan yang nglaporin suami, banyak loh yang menggugat suami, nah itu pelabelan yang sangat buruk yang menimpa gerakan Puspita Bahari. Tapi kami tidak punya waktu menjelaskan satu persatu orang yang memberi stigma buruk pada kami. Kami hanya menjawab lewat karya, ketrampilan perempuan, dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Lebih lanjut Masnu’ah menuturkan, melahirkan kader itu tidak mudah karena memang faktor budaya patriarki yang masih sangat kental.

“Anggota yang aktif itu rata-rata adalah penyintas, korban kekerasan, entah itu KDRT hingga kekerasan seksual. Karena mereka pernah mengalami di titik yang menyakitkan, lalu dia bisa survive, bisa bangun, sehingga dia sendiri tidak bisa toleransi lagi ketika melihat orang lain disakiti. Sebetulnya dulu banyak orang-orang atau masyarakat yang menolak Puspita Bahari. Tapi ketika melihat Puspita Bahari sering memberi bantuan dan sering memfasilitasi akses-akses masyarakat, akhirnya banyak yang ingin ikut gabung, tapi dengan orientasi yang kurang baik jadi harus ada seleksi.” pungkasnya. (Nizar-01).

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan