29 C
Semarang
, 7 July 2021
spot_img

Kisah Suparti, Jual Nasi Doreng Khas Demak yang Hampir Dilupakan

Demak, Jatengnews.id – Pagi mulai dipanasi terik matahari. Meski tanggal di kalender berwarna merah, kendaraan berat masih berlalu-lalang di Jalan Raya Semarang-Demak.

Di salah satu ruas pinggiran jalan raya, motor dengan bagian belakang gerobak itu menjajakan makanannya. Dihias cat warna merah mentereng dan nama jualan yang terpampang jelas “Nasi Doreng Khas Demak”, beberapa pengendara yang lewat sontak menepi dan berhenti untuk membeli.

Namanya Suparti (45), wanita asal Desa Kalikondang, Kecamatan Demak yang mulai berjualan Nasi Doreng pada tahun 1998. Ia mengaku makanan yang ia sajikan sudah merupakan resep turun-temurun. Dirinya sudah membantu sang nenek semenjak masih kecil untuk meracik dan mengolah makanan khas Kota Wali tersebut hingga terpatri di dalam ingatannya.

“Dulu waktu simbah buyut saya jualan, malah modelnya masih berjalan terus dibawa di atas kepala, terus berkeliling,” ungkapnya pada tim Jatengnews.id, Minggu (13/6/2021).

Meski tentunya mendapat keuntungan berupa rupiah dari sana, bukan itu satu-satunya tujuan Suparti berdagang.

“Saya ingin melestarikan makanan tempo dulu,” ujarnya singkat.

Ia menuturkan makanan yang jual Rp 5 ribu per porsi ini memantik rasa nostalgia pembeli yang dulu sering menyantapnya, serta memancing penasaran penikmat yang belum pernah mengicipnya.

Suparti juga menjelaskan, meski sekilas Nasi Doreng terlihat seperti pecel, banyak perbedaan dari bahan, penyajian, serta rasa yang disuguhkan.

Berbeda dengan nasi pecel yang identik dengan rasa yang manis, Nasi Doreng menyajikan rasa asin dan gurih bagi penikmatnya. Cita rasa ini salah satunya keluar dari santan dan serundeng yang ia racik sendiri.

BACA JUGA:  Stafsus Presiden Tegaskan Jokowi Tolak Wacana Presiden 3 Periode

Dirinya juga menjelaskan bahwa hampir semua sayuran bisa masuk ke dalam sajian yang sering dikenal dengan nasi pager tersebut.

Sembari menutup bincang-bincang, ia hanya berharap, kuliner khas tempat lahirnya itu tidak lekang dimakan zaman. Tentunya, iapun tak bisa memaksa sang anak untuk mewarisi apa yang sudah dirinya lakukan hingga sekarang.

BACA JUGA:  Cerita Dibalik Kemenangan Ganjar di 2013, Puan: Biar Saya Jadi Panglima Tempur

“Untuk saat ini, saya berusaha intinya biar kuliner khas Demak itu tidak hilang. Walaupun mungkin ke depannya bakal tidak ada lagi,” tandasnya.

Sang suami, Samroin yang merupakan karyawan swasta, mengaku terbantu dengan apa yang diperbuat oleh istrinya.

“Tentunya apa yang diperbuat istri saya membantu ekonomi keluarga, tapi yang terpenting memang kita ikut melestarikan budaya kuliner Nusantara,” pungkasnya.

Bagi penikmat kuliner yang hendak mengicip cita rasa dari makanan khas Kota Wali tersebut, bersiaplah bangun agak pagi. Karena, makanan tersebut hanya tersedia dari pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB saja.

Selain Nasi Doreng, pecinta kuliner juga bisa memilih bubur sumsum atau makanan lain di warung bergerak yang biasa mangkal di Samping Jalan Raya Semarang-Demak di dekat area SMA Negeri 3 Demak itu. (Devan-01).

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan